KOMPAS.com - Dunia kecantikan selalu dibanjiri dengan istilah-istilah baru yang sering kali membingungkan, mulai dari ceramide hingga peptide.
Di tengah rasa pusing memilih produk yang tepat, satu kata kunci yang benar-benar patut mendapat perhatian khusus adalah kolagen.
Dilansir dari Stylist Magazine, Minggu (29/3/2026), protein struktural ini bertugas menyatukan jaringan kulit, menjaga kekencangan, serta mempertahankan elastisitasnya. Sayangnya, banyak kesalahpahaman yang beredar seputar cara kerja kolagen. Apa saja?
Baca juga: Kelebihan dan Kekurangan Produk Kecantikan Mengandung Kolagen
Banyak yang percaya bahwa memulihkan kadar kolagen hanya bisa dilakukan dari dalam tubuh melalui konsumsi suplemen pil atau bubuk.
Namun, konsultan dokter kulit Aiza Jamil mengungkapkan bahwa penggunaan produk oles luar juga memegang peranan esensial dalam rutinitas perawatan.
“Produk perawatan kulit yang tepat dapat membantu mengurangi tampilan kehilangan kolagen melalui hidrasi dan meratakan warna dan tekstur kulit,” kata dr. Jamil.
Pemilihan krim pelembap yang didukung riset ilmiah panjang, serta mengandung partikel-partikel kecil kolagen, peptide kolagen, dan tripeptide tembaga, dapat menjadi langkah awal untuk mengencangkan wajah kembali.
“Produk yang mengandung humektan seperti peptide dapat membantu kulit menahan air dan menjaga hidrasi, sehingga garis-garis halus dan kerutan tampak kurang terlihat dan kulit tampak lebih halus dan kenyal,” ujar dr. Jamil.
Baca juga: Gen Z Mulai “Menabung Kolagen” Demi Kulit Awet Muda, Ini Alasannya
Ilustrasi skincare.Banyak yang mengira bahwa kekurangan atau menurunnya produksi kolagen adalah penyebab utama penuaan.
“Meskipun kehilangan kolagen memang terjadi setelah usia 25 tahun dan berkontribusi pada tanda-tanda penuaan, itu bukanlah satu-satunya penyebab penuaan kulit,” jelas Dr. Jamil.
Ada beberapa hal yang lebih berkontribusi pada tanda-tanda penuaan pada kulit, seperti paparan sinar ultraviolet, peradangan, kehilangan lemak di wajah, dan polusi.
Gaya hidup tidak sehat karena seperti punya kebiasaan merokok, memiliki pola makan yang buruk, kurang tidur, atau stres, juga berkontribusi pada tanda-tanda penuaan.
Oleh karena itu, kombinasi pemakaian produk topikal dengan gaya hidup sehat sangat diperlukan sebagai langkah antisipasi.
Baca juga: Studi Ungkap Jumlah Anak yang Dimiliki Berkaitan dengan Penuaan Biologis
Salah satu miskonsepsi terbesar adalah anggapan bahwa produksi kolagen baru menyusut ketika kamu memasuki usia 40 tahun. Padahal, ini sudah terjadi sejak usia 20 tahunan.
“Produksi kolagen mulai menurun sejak pertengahan usia 20-an, sehingga strategi pencegahan dini menjadi paling efektif,” ucap pakar kulit dan ahli perawatan wajah holistik Jacqueline Yong.