Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kematian Ibu Melahirkan Tinggi di Jember, 10 Meninggal di Awal 2026

Kompas.com, 1 April 2026, 13:00 WIB
Mega Silvia,
Lusia Kus Anna

Tim Redaksi

JEMBER, KOMPAS.com - Pada tiga bulan pertama tahun 2026, angka kematian ibu (AKI) di Kabupaten Jember, Jawa Timur menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Hingga akhir Maret, tercatat sudah 10 kasus kematian ibu.

Angka kematian ibu melahirkan tersebut tergolong tinggi dan mestinya menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah.

Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Jember Dokter Gini Wuryandari memaparkan data AKI hingga Maret 2026.

"Januari 3 kasus, Februari 5, dan Maret 2 kasus," ungkap Gini saat ditemui, Senin (30/3/2026).

Dikatakan, kematian ibu tersebut terjadi saat proses melahirkan, yang berlangsung di puskesmas dan mayoritas di rumah sakit.

Gini mengakui bahwa Jember dikenal sebagai daerah penyumbang AKI tertinggi di Jatim.

"Tapi jika dibandingkan daerah lain, penduduk Jember itu tinggi mencapai 2,6 juta jiwa," tutur dia.

Baca juga: Angka Kematian Ibu dan Bayi di Jateng Capai 270 Jiwa, Begini Solusinya

Penyebab Kematian Ibu Melahirkan

Ada 2 faktor penyebab tingginya AKI di Jember. Yakni komplikasi non-obstetri atau kondisi medis yang tidak berkaitan langsung dengan proses kehamilan serta faktor obstetri.

Gini menuturkan bahwa kebanyakan faktor non-obstetri yang menjadi penyebab kematian ibu ialah adanya komorbid atau penyakit penyerta seperti jantung dan Tuberkulosis (TB).

Sedangkan faktor obstetri yang menjadi penyebab mayoritasnya adalah preeklamsi, kondisi komplikasi kehamilan serius yang ditandai dengan tekanan darah tinggi dan menyebabkan perdarahan.

"Tensi darahnya tinggi saat hamil, ini yang bisa menimbulkan eklamsia atau kejang saat persalinan. Preeklamsia ini pemicunya dari makanan, kebiasaan sehari-hari ibu," terang Gini.

Baca juga: Bahaya Darah Tinggi Saat Hamil

Pentingnya Menekan AKI

Pada 2025 AKI di Jember sebenarnya sudah mengalami penurunan, yaitu 27 kasus dari sebelumnya mencapai 43 kasus di tahun 2024. 

Bila dibandingkan antara kumulasi data 2025, pada triwulan pertama 2026 angkanya cukup tinggi. Apabila ini dibiarkan AKI akan terus naik dan tentu menjadi cermin buruknya kualitas serta aksesibilitas pelayanan kesehatan ibu maupun anak di Jember.

Selain itu, penurunan AKI adalah salah satu target penting untuk mencapai Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan nomor 3, Good Health and Well-being atau meningkatkan kehidupan sehat dan sejahtera.

Baca juga: RA Kartini Meninggal karena Preeklampsia, Ini Penjelasan Penyakitnya

Kepala Dinkes P2KB Jember Muhammad Zamroni menjelaskan bahwa pemkab sudah membuat gerakan 1.200 tenaga kesehatan (nakes). Para nakes itu diturunkan ke desa-desa untuk melakukan intervensi pada ibu hamil.

"Intervensinya yang pasti itu Puskesmas sama Camat ditugaskan mencari yang kondisi bumil risiko tinggi sama anak-anak yang stunting," jelasnya.

Dengan data tersebut, para nakes melakukan pendampingan langsung sebagai upaya mencegah kematian ibu. Dokter spesialis obgyn dan dokter anak juga dilibatkan dalam program ini. 

Dijelaskan, gerakan 1.200 nakes sudah mulai berjalan sejak dilaunching oleh Bupati Jember Muhammad Fawait pada Januari lalu dan dievakuasi tiap bulan.

Baca juga: Cegah Preeklampsia dengan Membatasi 2 Jenis Makanan Ini, Bumil Harus Tahu

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau