JEMBER, KOMPAS.com - Pada tiga bulan pertama tahun 2026, angka kematian ibu (AKI) di Kabupaten Jember, Jawa Timur menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Hingga akhir Maret, tercatat sudah 10 kasus kematian ibu.
Angka kematian ibu melahirkan tersebut tergolong tinggi dan mestinya menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah.
Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Jember Dokter Gini Wuryandari memaparkan data AKI hingga Maret 2026.
"Januari 3 kasus, Februari 5, dan Maret 2 kasus," ungkap Gini saat ditemui, Senin (30/3/2026).
Dikatakan, kematian ibu tersebut terjadi saat proses melahirkan, yang berlangsung di puskesmas dan mayoritas di rumah sakit.
Gini mengakui bahwa Jember dikenal sebagai daerah penyumbang AKI tertinggi di Jatim.
"Tapi jika dibandingkan daerah lain, penduduk Jember itu tinggi mencapai 2,6 juta jiwa," tutur dia.
Baca juga: Angka Kematian Ibu dan Bayi di Jateng Capai 270 Jiwa, Begini Solusinya
Ada 2 faktor penyebab tingginya AKI di Jember. Yakni komplikasi non-obstetri atau kondisi medis yang tidak berkaitan langsung dengan proses kehamilan serta faktor obstetri.
Gini menuturkan bahwa kebanyakan faktor non-obstetri yang menjadi penyebab kematian ibu ialah adanya komorbid atau penyakit penyerta seperti jantung dan Tuberkulosis (TB).
Sedangkan faktor obstetri yang menjadi penyebab mayoritasnya adalah preeklamsi, kondisi komplikasi kehamilan serius yang ditandai dengan tekanan darah tinggi dan menyebabkan perdarahan.
"Tensi darahnya tinggi saat hamil, ini yang bisa menimbulkan eklamsia atau kejang saat persalinan. Preeklamsia ini pemicunya dari makanan, kebiasaan sehari-hari ibu," terang Gini.
Baca juga: Bahaya Darah Tinggi Saat Hamil
Pada 2025 AKI di Jember sebenarnya sudah mengalami penurunan, yaitu 27 kasus dari sebelumnya mencapai 43 kasus di tahun 2024.
Bila dibandingkan antara kumulasi data 2025, pada triwulan pertama 2026 angkanya cukup tinggi. Apabila ini dibiarkan AKI akan terus naik dan tentu menjadi cermin buruknya kualitas serta aksesibilitas pelayanan kesehatan ibu maupun anak di Jember.
Selain itu, penurunan AKI adalah salah satu target penting untuk mencapai Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan nomor 3, Good Health and Well-being atau meningkatkan kehidupan sehat dan sejahtera.
Baca juga: RA Kartini Meninggal karena Preeklampsia, Ini Penjelasan Penyakitnya
Kepala Dinkes P2KB Jember Muhammad Zamroni menjelaskan bahwa pemkab sudah membuat gerakan 1.200 tenaga kesehatan (nakes). Para nakes itu diturunkan ke desa-desa untuk melakukan intervensi pada ibu hamil.
"Intervensinya yang pasti itu Puskesmas sama Camat ditugaskan mencari yang kondisi bumil risiko tinggi sama anak-anak yang stunting," jelasnya.
Dengan data tersebut, para nakes melakukan pendampingan langsung sebagai upaya mencegah kematian ibu. Dokter spesialis obgyn dan dokter anak juga dilibatkan dalam program ini.
Dijelaskan, gerakan 1.200 nakes sudah mulai berjalan sejak dilaunching oleh Bupati Jember Muhammad Fawait pada Januari lalu dan dievakuasi tiap bulan.
Baca juga: Cegah Preeklampsia dengan Membatasi 2 Jenis Makanan Ini, Bumil Harus Tahu
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang