Wakil Direktur Utama PT Angkasa Pura Indonesia atau InJourney Airports Achmad Syahir mengatakan, kekurangan pesawat sebenarnya tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga secara global.
“Kalau secara global, kekurangan pesawat itu sekitar 18 persen. Itu berdasarkan data dari International Air Transport Association atau IATA tahun 2024. Sementara di Indonesia kekurangannya mencapai sekitar 23 persen,” ujar Achmad di Bandara Soekarno Hatta, Rabu (11/3/2026).
Ia menjelaskan, kondisi tersebut terjadi karena pada masa pandemi Covid-19 banyak armada pesawat yang harus dihentikan operasionalnya (grounded). Hingga kini sebagian armada tersebut masih dalam proses untuk kembali dioperasikan.
“Kita tahu pada saat Covid-19 ada beberapa armada yang di-grounded, dan saat ini masih dalam proses untuk diaktifkan kembali. Kekurangan pesawat ini tentu berdampak pada optimalisasi penerbangan di bandara-bandara kita, khususnya di 37 bandara yang kami kelola,” katanya.
Menurut Achmad, keterbatasan jumlah pesawat juga berpengaruh terhadap keseimbangan antara pasokan dan permintaan penerbangan.
Hal ini menjadi salah satu faktor yang memengaruhi harga tiket pesawat.
“Salah satu dampaknya adalah ketidakseimbangan antara supply dan demand. Ini juga menjadi salah satu alasan mengapa harga tiket yang sering dikeluhkan masyarakat menjadi lebih tinggi,” ujarnya.
Ia menambahkan, jika dibandingkan dengan kondisi sebelum pandemi pada 2019, sektor penerbangan Indonesia masih belum sepenuhnya kembali ke tingkat normal, baik dari sisi jumlah penumpang maupun frekuensi penerbangan.
Namun demikian, dalam dua tahun terakhir mulai terlihat tren perbaikan, meskipun pertumbuhannya masih terbatas.
“Kalau dibandingkan dua tahun terakhir memang ada pertumbuhan. Dari sisi penumpang misalnya ada kenaikan sekitar 0,57 persen, meskipun dari sisi penerbangan masih mengalami penurunan,” kata Achmad.
Dari lima bandara besar di Indonesia, yakni Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bandar Udara Internasional Juanda, Bandar Udara Internasional Kualanamu, dan Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, hanya dua bandara yang mencatat pertumbuhan positif dibandingkan 2025.
“Secara pertumbuhan dibanding tahun lalu, yang menunjukkan tren positif hanya Soekarno-Hatta dan Ngurah Rai. Sementara Medan, Makassar, dan Surabaya masih mencatat pertumbuhan negatif,” tegasnya.
https://money.kompas.com/read/2026/03/12/115100326/salah-satu-penyebab-harga-tiket-mahal-injourney-airports--indonesia-kekurangan