JAKARTA, KOMPAS.com – IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) memfokuskan strategi bisnis pada penguatan operasional dan kualitas layanan sepanjang 2026 sebagai langkah korporasi untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing di tengah tingginya biaya logistik nasional.
Sebagai operator terminal petikemas, anak usaha dari Pelindo Terminal Petikemas ini memandang pelabuhan bukan sekadar fasilitas bongkar muat, melainkan aset strategis bisnis logistik yang menentukan kelancaran arus barang, struktur biaya distribusi, dan daya saing industri nasional.
Direktur Utama IPC Terminal Petikemas Guna Mulyana menegaskan, penguatan operasional menjadi kebutuhan mendasar dalam menjawab tantangan tersebut.
Baca juga: Volume Angkutan Limbah B3 KAI Logistik Tembus 14.256 Ton
“Penguatan operasional dan layanan merupakan kebutuhan utama agar IPC TPK dapat memberikan manfaat optimal bagi pengguna jasa, masyarakat, dan pemegang saham, sekaligus memperkuat peran pelabuhan dalam mendukung arus logistik nasional,” ujar Guna dalam keterangan tertulis, Senin (19/1/2026).
Langkah tersebut sekaligus menjadi titik awal implementasi Roadmap Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) 2026–2030. Tahun 2026 ditetapkan sebagai fase Operational and Service Excellence, yang diarahkan untuk membangun operasi terminal petikemas yang efisien, andal, dan terintegrasi sebagai basis pertumbuhan bisnis jangka panjang.
Tekanan untuk meningkatkan efisiensi semakin relevan mengingat biaya logistik Indonesia masih mencapai 14,29 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2023, berdasarkan data Bappenas dan BPS. Rasio tersebut dinilai masih tinggi dan berimplikasi langsung pada struktur biaya industri, harga barang, serta daya saing ekspor.
Menurut Guna, Roadmap RJPP 2026–2030 disusun dalam tiga tahapan pengembangan bisnis, yakni Operational & Service Excellence, Business & Connectivity Enhancement, dan Sustainable Development. Ketiga fase ini dirancang untuk mendorong efisiensi operasional, ekspansi konektivitas, serta pertumbuhan berkelanjutan.
Pada fase awal, IPC TPK menitikberatkan standarisasi proses bisnis, sistemisasi operasional, dan integrasi layanan terminal. Digitalisasi layanan menjadi instrumen penting untuk meningkatkan produktivitas, transparansi biaya, serta kecepatan layanan kepada pelanggan.
Sejumlah inisiatif digital yang telah berjalan sejak 2025 dilanjutkan pada 2026, antara lain Terminal Booking System (TBS) untuk meningkatkan keteraturan arus kendaraan dan efisiensi waktu layanan, pemindaian peti kemas untuk memperkuat keamanan dan kepatuhan, serta penerapan Terminal Operating System (TOS) Nusantara melalui sistem PARAMA dan PRAYA.
Kedua platform tersebut menjadi tulang punggung operasional berbasis data yang mendukung pengambilan keputusan bisnis secara real time.
Selain penguatan operasional, IPC TPK juga mulai melakukan penataan model bisnis dengan merancang konsep hub and spoke. Skema ini ditujukan untuk mengoptimalkan kapasitas terminal, meningkatkan konektivitas antarpelabuhan, serta memperluas jangkauan layanan secara lebih efisien.
Melalui strategi tersebut, IPC TPK menargetkan peningkatan efisiensi biaya, kualitas layanan, dan daya saing bisnis, sekaligus memperkuat kontribusi perusahaan dalam mendukung penurunan biaya logistik nasional dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang