Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

“Mak Comblang Project” Pertemukan Petani-Dapur MBG

Kompas.com, 21 Januari 2026, 15:22 WIB
Syakirun Ni'am,
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menerapkan program “Mak Comblang Project” yang mempertemukan petani lokal dengan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).

Melalui program ini, BGN ingin mengatasi persoalan rantai pasok pangan yang membuat ketimpangan kapasitas produksi petani dengan kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG, terutama di Jakarta dan Bogor.

Juru Bicara BGN Dian Fatwa mengatakan, selama ini dapur MBG dan petani berjalan masing-masing.

Baca juga: Purbaya Beri Sinyal Bakal Otak-atik Anggaran MBG Pekan Depan

Ilustrasi petani sedang memanen gabah.DOK. Kementan Ilustrasi petani sedang memanen gabah.

Namun, pada Senin (19/1/2026), Mak Comblang Project mempertemukan petani dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Pertemuan itu memetakan rantai pasok guna mengetahui bagaimana kondisi produksi komoditas pertanian dan kebutuhan dapur MBG.

“Di satu sisi, petani di Cipanas mengalami oversupply. Namun di sisi lain, dapur MBG di Jakarta dan Bogor justru kesulitan mendapatkan bahan baku dengan harga yang stabil. Mak Comblang Project hadir untuk menyambungkan dua sisi ini secara langsung,” kata Dian dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Rabu (21/1/2026).

Menurut Dian, pertemuan di Cipanas mengungkap kesenjangan harga komoditas pangan yang terjadi di lapangan.

Baca juga: Setelah Temui Purbaya, BGN Bantah MBG Pakai Anggaran Pendidikan Rp 335 T

Ia mencontohkan, dapur MBG seringkali membeli wortel dengan harga Rp 15.000 hingga Rp 25.000 per kilogram. Padahal, harga di tingkat petani hanya Rp 1.500 hingga Rp 3.000 per kilogram.

Dian menyebut, persoalan itu timbul akibat rantai distribusi yang panjang sehingga memicu biaya yang terus bertambah.

“Disparitas ini bukan disebabkan satu pihak, tetapi akibat rantai pasok yang panjang dan tidak terhubung secara langsung,” tutur Dian.

Ilustrasi makan bergizi gratis (MBG). KOMPAS.COM/M. Elgana Mubarokah Ilustrasi makan bergizi gratis (MBG).

Dengan program Mak Comblang Project, kata Dian, BGN mulai memetakan komoditas, volume produksi, hingga kebutuhan dapur secara terbuka.

Baca juga: Kepala BGN: Anak dari Pernikahan Dini dan Siri juga Dapat MBG

Hasil pemetaan itu akan menjadi dasar penyusunan kalender tanam dan panen sehingga panen petani bisa bertahap dan berkelanjutan.

Pihaknya berharap, skema BGN memangkas rantai pasok itu diharapkan bisa membuat produk petani dibeli dengan harga yang layak, kepastian pasar, dan pasokan bahan baku dapur MBG terus stabil.

Menurut Dian, dalam waktu ke depan dapur MBG akan menetapkan menu yang disesuaikan dengan produksi petani setempat.

Dalam hal ini, BGN juga melibatkan ahli gizi agar makanan yang diberikan kepada para penerima manfaat bisa terjaga.

Baca juga: SPPG Bekasi Bantah Menu MBG Cuma Ubi dan Pisang

“Dengan mempertemukan langsung petani dan dapur, Mak Comblang Project diharapkan mampu menciptakan kolaborasi yang saling menguntungkan serta memperkuat ketahanan pangan berbasis masyarakat,” kata Dian.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Bank QNB Indonesia Catat Lonjakan Kredit 18 Persen, NPL Turun 2,2 Persen
Bank QNB Indonesia Catat Lonjakan Kredit 18 Persen, NPL Turun 2,2 Persen
Ekbis
Dari Buka Puasa hingga Mudik, BSI Maslahat Jangkau 145 Ribu Penerima
Dari Buka Puasa hingga Mudik, BSI Maslahat Jangkau 145 Ribu Penerima
Ekbis
RI dan Korsel Sepakati 10 Kerja Sama Strategis, Fokus Mineral hingga AI
RI dan Korsel Sepakati 10 Kerja Sama Strategis, Fokus Mineral hingga AI
Ekbis
RI Antisipasi Krisis Bahan Baku Plastik, Bidik India hingga Afrika
RI Antisipasi Krisis Bahan Baku Plastik, Bidik India hingga Afrika
Ekbis
Penjualan Turun, Laba Tahun Berjalan 2025 Indocement (INTP) Justru Naik 12 Persen
Penjualan Turun, Laba Tahun Berjalan 2025 Indocement (INTP) Justru Naik 12 Persen
Ekbis
Pakai Lahan KAI dan Angkasa Pura, Pemerintah Bangun 800 Hunian di Pusat Jakarta
Pakai Lahan KAI dan Angkasa Pura, Pemerintah Bangun 800 Hunian di Pusat Jakarta
Ekbis
Indonesia Masuk Bisnis Leasing Pesawat Global, Danantara Luncurkan Platform Baru
Indonesia Masuk Bisnis Leasing Pesawat Global, Danantara Luncurkan Platform Baru
Ekbis
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Ekbis
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Ekbis
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Ekbis
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau