Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

223 Ternak Impor dari Australia Mendarat di Bandara Juanda

Kompas.com, 31 Maret 2026, 21:58 WIB
Jack Robby Damarjati,
Teuku Muhammad Valdy Arief

Tim Redaksi

SIDOARJO, KOMPAS.com - Importir dari Jawa Timur mendatangkan sekitar 250 ekor hewan ternak dari Australia melalui Bandara Internasional Juanda, Sidoarjo.

Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas genetika ternak lokal serta mendorong produksi susu dalam negeri.

Direktur PT Tombak Mas Nusantara Aji Bagus Setiyawan mengatakan, pengiriman mencakup domba, sapi perah, hingga unta.

Jenis domba yang didatangkan terdiri dari Texel, Suffolk, dan Dorper dengan total 165 ekor. Ketiga jenis ini dipilih karena memiliki kualitas bibit lebih unggul.

"Kami ingin fokuskan untuk pengembangan bibit yang ada di Indonesia agar para peternak lokal bisa mengembangkan bibit-bibit domba mereka," ujar Aji, Senin (30/03/2026).

Baca juga: 3.200 Sapi Impor dari Australia Tiba di Indonesia Hari Ini

Selain domba, importir juga membawa 23 ekor sapi perah jenis Friesian Holstein. Pengadaan ini ditujukan untuk meningkatkan produksi susu nasional.

"Untuk sapi perah, kami ingin serahkan kepada para peternak agar sapi perah bisa memproduksi susu dan memenuhi kebutuhan susu nasional," tuturnya.

Sebagian boks berisi hewan ternak asal Australia yang baru tiba di Terminal Kargo Bandara Internasional Juanda, Kabupaten Sidoarjo. Hewan ternak tersebut selanjutnya akan menjalani masa karantina selama 14 hari sebelum dikirim kembali ke Malang, Jawa Timur, dan Lembang, Jawa Barat, Senin (30/03/2026).KOMPAS.com/JACK ROBBY DAMARJATI Sebagian boks berisi hewan ternak asal Australia yang baru tiba di Terminal Kargo Bandara Internasional Juanda, Kabupaten Sidoarjo. Hewan ternak tersebut selanjutnya akan menjalani masa karantina selama 14 hari sebelum dikirim kembali ke Malang, Jawa Timur, dan Lembang, Jawa Barat, Senin (30/03/2026).

Importasi juga mencakup 35 ekor unta jenis Camelus dromedarius. Hewan ini akan digunakan untuk mendukung sektor ekowisata.

"Untuk unta, kami ingin mendukung kegiatan ekowisata yang ada di negara kita," jelasnya.

Seluruh ternak wajib menjalani masa karantina sebelum didistribusikan. Proses ini dilakukan untuk memastikan kesehatan hewan dan mencegah penyakit menular.

"Kami akan langsung kirim ke Karantina di daerah Tandes yang ada di Surabaya untuk dilakukan proses karantina selama 14 hari," katanya.

Baca juga: Ketika Desa Berusaha Kaya dari Ternak Kambing…

Setelah karantina, ternak akan dikirim ke Malang, Jawa Timur, serta Lembang, Jawa Barat.

Nilai investasi tiap ternak bervariasi. Harga tertinggi terdapat pada unta yang mencapai Rp 130 juta per ekor.

Alternatif judul:

1. Importir Datangkan 250 Ternak dari Australia, Ada Domba hingga Unta

Halaman:


Terkini Lainnya
Proyek Tambak Udang Rp 7,2 Triliun di NTT Dikebut, Sebagian Mulai Beroperasi Tahun Depan
Proyek Tambak Udang Rp 7,2 Triliun di NTT Dikebut, Sebagian Mulai Beroperasi Tahun Depan
Ekbis
Rupiah Menguat ke Rp 16.979, Pasar Cermati Sinyal Reda Konflik Timur Tengah
Rupiah Menguat ke Rp 16.979, Pasar Cermati Sinyal Reda Konflik Timur Tengah
Ekbis
Tambak Udang Sumba Diproyeksi Serap 8.820 Tenaga Kerja, Bidik Devisa Rp 4,5 Triliun per Tahun
Tambak Udang Sumba Diproyeksi Serap 8.820 Tenaga Kerja, Bidik Devisa Rp 4,5 Triliun per Tahun
Ekbis
Proyek Tambak Udang Rp 7,2 Triliun di Sumba Dibiayai Pinjaman Asing
Proyek Tambak Udang Rp 7,2 Triliun di Sumba Dibiayai Pinjaman Asing
Ekbis
Menaker Akan Evaluasi Imbauan WFH Swasta, BUMN, dan BUMD dalam 2 Bulan
Menaker Akan Evaluasi Imbauan WFH Swasta, BUMN, dan BUMD dalam 2 Bulan
Ekbis
Stok BBM Indonesia Aman, Pertamina: Cadangan Dalam Kondisi Cukup
Stok BBM Indonesia Aman, Pertamina: Cadangan Dalam Kondisi Cukup
Ekbis
Jamkrindo Syariah Bukukan Laba Bersih Rp 141,03 Miliar pada 2025
Jamkrindo Syariah Bukukan Laba Bersih Rp 141,03 Miliar pada 2025
Syariah
Danamon (BDMN) Setor Dividen Rp 142,19 per Saham, Total Rp 1,4 Triliun dari Laba 2025
Danamon (BDMN) Setor Dividen Rp 142,19 per Saham, Total Rp 1,4 Triliun dari Laba 2025
Ekbis
Wisman Tumbuh Dua Digit, Turis China Melonjak Tajam pada Februari 2026
Wisman Tumbuh Dua Digit, Turis China Melonjak Tajam pada Februari 2026
Ekbis
Tambak Udang KKP di Waingapu Ditargetkan Produksi 52.000 Ton per Tahun
Tambak Udang KKP di Waingapu Ditargetkan Produksi 52.000 Ton per Tahun
Ekbis
Efisiensi MBG: Demi Keadilan Gizi dan Tanggung Jawab Fiskal
Efisiensi MBG: Demi Keadilan Gizi dan Tanggung Jawab Fiskal
Ekbis
WFH 1 Hari per Pekan, Hak Pekerja Wajib Tetap Dibayar Penuh
WFH 1 Hari per Pekan, Hak Pekerja Wajib Tetap Dibayar Penuh
Ekbis
Diskon Tarif Listrik Rp 10.000 Via PLN Mobile, Cek Cara Mendapatkannya
Diskon Tarif Listrik Rp 10.000 Via PLN Mobile, Cek Cara Mendapatkannya
Ekbis
Empat Hari Kerja, Tujuh Hari Berpikir: ASN Bekerja atau Sekadar Hadir?
Empat Hari Kerja, Tujuh Hari Berpikir: ASN Bekerja atau Sekadar Hadir?
Ekbis
WFH Swasta Diimbau 1 Hari Seminggu, Ini Aturan dan Sektor yang Dikecualikan
WFH Swasta Diimbau 1 Hari Seminggu, Ini Aturan dan Sektor yang Dikecualikan
Ekbis
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau