LHOKSUKON, KOMPAS.com – Sore itu, empat kaum ibu dan tiga pemuda terlihat sibuk di sudut Desa Nibong Baroh, Kecamatan Nibong, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, Minggu (29/3/2026).
Mereka tergabung dalam Badan Usaha Desa (Bumdes) Makmur Berkah Jaya Farm. Bergerak bidang peternakan kambing. Di lahan seluas satu hektare lebih itu, tepat di pinggir sawah, mereka bertani. Menanam cabai dan aneka tumbuhan, satu sudut untuk lahan peternakan, dan sudut lainnya tempat pengolahan sampah terpadu.
Mereka membakar sampah yang tidak bisa diolah lagi. Asap yang ditimbulkan sekaligus mengusir nyamuk untuk kandang kambing. Tersedia juga pembibitan aneka tumbuhan mulai dari kelapa, alpokat, hingga kelengkeng di lokasi itu.
Usaha ini didirikan tahun lalu dengan modal Rp 100 juta dari dana desa. Uang itu termasuk membangun kandang dan membeli 40 bibit kambing dari Pulau Jawa. Kambing bor, kambing PE atau kuping panjang, sanen, bor full blod, jawa randu, senduro.
Jenis kambing itu lalu dikawinkan dengan kambing lokal sering disebut kambing jenis kacang.
“Jadi, lahir kambing dengan kualitas lebih bagus. Kita lakukan perkawinan silang,” kata Kepala Desa Nibong Baroh, Kecamatan Nibong, Kabupaten Aceh Utara, Razali kepada Kompas.com.
Baca juga: Pemerintah Bantah BUMDes dan Kopdes Merah Putih Tumpang Tindih, Fungsinya Berbeda
Dia menyebutkan, kambing lokal relatif lebih kecil dan pendek. Setelah dikawinkan dengan indukan kambing lain, hasilnya lebih tinggi dan besar. Sehingga daging lebih banyak.
Dia mengilustrasikan, modal satu kambing Rp 1,5 juta. Saat dijual minimum harga Rp 2,5 juta. “Bisa jadi kita pertahankan harga di atas itu. Apalagi ke depan ini jelang Idul Adha, permintaan kambing qurban akan banyak, nah ini akan kita jual juga,” terangnya.
Untuk pasar mereka tidak khawatir. Apalagi, masyarakat Aceh dikenal sebagai salah satu pemakan kari kambing terbanyak.
“Kami jual juga buat acara aqiqah anak yang baru lahir, dan ke pedagang kari kambing. Kalau pasar sangat besar, cuman modal kita saja yang masih kecil,” katanya.
Sedangkan untuk pekerja, sambung Razali, menggunakan sistem dana bagi hasil. Artinya, modal utama tetap dikembalikan ke kas desa. Sedangkan laba dengan sistem 70 persen untuk pekerja dan 30 persen disetor ke kas desa.
“Hasilnya lumayan menambah pendapatan desa,” terangnya.
Meski begitu, mereka membutuhkan dukungan dari pemerintah dan badan usaha milik daerah (BUMD) PT Pema Global Energi yang sepelemparan batu dari desa itu. “Kami butuh dukungan mesin pencacah pangan, pemotong rumput dan lainnya. Masih banyak mesin yang kita butuhkan, karena ini lokasi terintgerasi, mulai dari ternak, pengelolaan sampah, dan perkebunan,” terangnya.
Dia berharap, semakin banyak pemuda desa yang bisa dipekerjakan ke depan seiring berkembangnya usaha. “Agar anak muda lebih produktif,” pungkasnya.
Di langit mendung mulai menggelanyut, mereka masih sibuk dengan urusan masing-masing. Dari lokasi itu mereka berharap bisa kaya dan memakmurkan desa.
Baca juga: Ada Kopdes Merah Putih, Bagaimana Nasib Bumdes? Zulhas: Terserah Kepala Desanya
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang