Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Di Balik Fenomena Resign Pasca-THR, Ternyata Bukan Gaji Penyebabnya

Kompas.com, 29 Maret 2026, 22:00 WIB
Aprillia Ika

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com – Usai pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) dan libur Lebaran, tren pencarian kerja baru kembali meningkat. Namun, fenomena ini tidak sepenuhnya dipicu oleh keinginan mengejar gaji lebih tinggi, melainkan faktor yang lebih kompleks dalam dunia kerja.

Kondisi tersebut kerap dimaknai sebagai gelombang “kutu loncat” oleh perusahaan. Padahal, data terbaru menunjukkan keputusan karyawan untuk berpindah kerja tidak semata-mata didorong oleh kompensasi finansial.

"Fenomena resign sesudah Lebaran ini memang terjadi, akan tetapi tidak dalam jumlah yang signifikan dibanding periode lainnya seperti akhir tahun atau setelah performance review yang biasanya berkaitan dengan promosi dan kenaikan gaji," jelas Ria Novita, Talent Acquisition Manager Jobstreet by SEEK, melalui keterangannya, Minggu (29/3/2026).

"Bagi yang resign setelah Lebaran, biasanya dikarenakan mereka memang sudah berniat sejak jauh hari, namun masih menunggu pembayaran THR agar mendapatkan haknya secara penuh. Jadi, pengunduran dirinya baru dilakukan sesudah THR diterima."

Baca juga: Working Poor: Kekalahan Para Perintis di Era Pewaris

Mitos Lonjakan Resign Pasca-Lebaran

Ria menegaskan, lonjakan pengunduran diri setelah Lebaran kerap dibesar-besarkan. Secara praktik, keputusan resign sudah direncanakan sebelumnya, bukan reaksi spontan setelah menerima THR.

Ia juga menyoroti aspek etika dalam pengunduran diri tersebut.

"Selama karyawan memenuhi ketentuan masa kerja dan mengikuti prosedur pengunduran diri yang berlaku di perusahaan—misalnya memberikan pemberitahuan sesuai notice period, menyelesaikan tanggung jawab dengan baik, dan mendukung proses serah-terima—resign setelah menerima THR pada dasarnya tetap dapat dipandang sebagai sesuatu yang sah dan etis," tambahnya.

Dengan demikian, momentum pasca-Lebaran lebih tepat dipahami sebagai fase realisasi keputusan, bukan pemicu utama resign.

Baca juga: Jangan Tanya Soal Work Life Balance Saat Wawancara Kerja, Mengapa?

Lebih dari Gaji, Ini yang Dicari Karyawan

Laporan Workplace Happiness Index dari Jobstreet by SEEK menunjukkan, meskipun 54 persen pekerja di Indonesia mengakui gaji lebih tinggi dapat meningkatkan kebahagiaan, faktor tersebut bukan satu-satunya penentu loyalitas.

Dua faktor utama yang justru lebih menentukan adalah keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance) dan tujuan kerja yang bermakna (purpose at work).

Karyawan yang merasa pekerjaannya memiliki makna terbukti lebih bahagia sekaligus lebih kecil kemungkinan untuk meninggalkan perusahaan. Bahkan, pekerja yang bahagia memiliki peluang 24 persen lebih besar untuk termotivasi memberikan kinerja ekstra.

Temuan ini menegaskan bahwa strategi mempertahankan talenta tidak cukup hanya mengandalkan kenaikan gaji, tetapi juga perlu memperhatikan kualitas lingkungan kerja.

Baca juga: 6 Kesalahan yang Harus Dihindari Saat Minta Naik Gaji

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau