Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Waode Nurmuhaemin
Penulis

Praktisi pendidikan, penulis buku dan novel pendidikan

Working Poor: Kekalahan Para Perintis di Era Pewaris

Kompas.com, 6 Maret 2026, 10:30 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

AKHIR-akhir ini, istilah working poor menyeruak dalam percakapan publik Indonesia. Menjadi headline di banyak kanal berita. Bukan lagi sekadar istilah dalam jurnal ekonomi atau laporan lembaga internasional, tetapi mulai menjadi kosa kata keseharian untuk menjelaskan kenyataan yang terasa ganjil: orang bekerja keras, tetapi tetap miskin.

Jika diterjemahkan secara serampangan ke dalam bahasa Indonesia, working poor mungkin berbunyi sangat akrab: pergi pagi, pulang petang, penghasilan pas-pasan. Singkatnya, P7. Tentu ini bukan terjemahan akademis. Namun secara sosial, mungkin itulah definisi paling jujur.

Banyak pekerja informal sebenarnya produktif dan berkontribusi pada ekonomi. Mereka berdagang, mengemudi, membangun, mengantar, menjahit, atau melakukan berbagai pekerjaan yang membuat roda ekonomi tetap berputar. Namun penghasilan mereka sering kali hanya cukup untuk bertahan hidup, bukan untuk membangun masa depan.

Satirnya terletak di sini: kita hidup di zaman yang memuja produktivitas, tetapi semakin banyak orang produktif yang tetap tidak memiliki apa-apa. Fenomena ini sebenarnya bukan hanya terjadi di Indonesia. Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) mencatat ratusan juta pekerja di dunia masih hidup dalam atau sangat dekat dengan garis kemiskinan meskipun mereka bekerja.

Secara global, lebih dari separuh tenaga kerja berada di sektor informal tanpa perlindungan sosial yang kuat, tanpa stabilitas pendapatan, dan tanpa jaminan masa depan.

Indonesia mencerminkan pola tersebut. Sekitar 59 persen pekerja berada di sektor informal. Jutaan lainnya tergolong setengah pengangguran atau pekerja paruh waktu. Mereka tidak masuk statistik pengangguran, tetapi juga tidak memiliki keamanan ekonomi jangka panjang.

Baca juga: Bekerja Tapi Tetap Miskin, Fenomena Working Poor Hantui Jutaan Pekerja RI

Mengapa ini terjadi? Thomas Piketty memberi kita salah satu penjelasan paling kuat. Dalam "Capital in the Twenty-First Century" , ia menunjukkan bahwa ketika tingkat pengembalian modal lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi, maka kekayaan akan semakin terkonsentrasi pada pemilik modal.

Rumus terkenalnya menjelaskan mengapa mereka yang memiliki aset akan melaju lebih cepat dibanding mereka yang hanya mengandalkan upah. Dalam konteks ini, kerja keras sering kali kalah oleh warisan. Mereka yang memiliki rumah, tanah, saham, atau bisnis keluarga tidak hanya bekerja. Mereka memiliki aset yang bekerja untuk mereka. Sebaliknya, para perintis memulai dari nol. Mereka menjual waktu dan tenaga, tanpa bantalan risiko.

Joseph Stiglitz menambahkan bahwa ketimpangan modern bukan sekadar hasil bakat atau usaha, tetapi juga konsekuensi dari desain kebijakan dan struktur pasar. Dalam "The Price of Inequality", ia menunjukkan bagaimana sistem perpajakan, deregulasi, dan lemahnya perlindungan tenaga kerja dapat memperbesar kesenjangan. Meritokrasi, dalam banyak kasus, menjadi cerita yang indah tetapi tidak sepenuhnya nyata.

Lebih jauh, Branko Milanovic, pakar ketimpangan global, memberikan gambaran yang terkenal melalui grafik yang dikenal sebagai kurva gajah. Disebut begitu karena bentuknya memang mirip gajah: punggungnya naik, lalu turun, dan belalainya menjulang tinggi.

Di balik grafik yang tampak lucu itu tersembunyi cerita globalisasi yang tidak selalu lucu. Kurva itu menunjukkan bahwa globalisasi memang menguntungkan kelas menengah baru di negara berkembang, dan kelompok superkaya global melonjak tajam. Namun di tengah-tengahnya ada kelompok yang stagnan termasuk banyak pekerja berupah rendah.

Baca juga: Di Balik Fenomena Working Poor, Ketika Kerja Keras Tak Menjamin Sejahtera

Jika diterjemahkan ke konteks Indonesia, bagian stagnan itu sering berwajah pekerja informal. Globalisasi membuka pasar dan mempercepat arus modal, tetapi tidak otomatis memperkuat posisi tawar mereka. Dunia makin terkoneksi, tetapi penghasilan tetap segitu-segitu saja. Pertumbuhan diumumkan, investasi dipuji, tetapi mereka tetap harus menghitung bensin, cicilan, dan uang sekolah.

Di sisi lain, Guy Standing memperkenalkan istilah precariat, yaitu kelas pekerja yang hidup dalam ketidakpastian permanen. Kontrak pendek, ekonomi gig, pekerjaan proyek tanpa jaminan sosial. Fleksibilitas dijual sebagai kebebasan, tetapi sering kali berarti rapuhnya masa depan.

Jika diterjemahkan dalam bahasa satir Indonesia, mungkin bunyinya seperti ini: fleksibel hari ini, cemas setiap akhir bulan.

Di tengah kondisi struktural seperti ini, muncul fenomena lain yang terasa semakin absurd: motivasi-motivasi muluk dari para konten kreator. “Kalau belum sukses berarti kurang kerja keras.” “Bangun lebih pagi.” “Tambah side hustle.” Seolah-olah persoalan struktural bisa diselesaikan dengan alarm pukul empat subuh.

Halaman:


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau