Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com - "Di pekerjaanku yang sekarang ini, aku enggak mau naik jabatan sih. Karena aku merasa sudah stabil," ujar Putri, seorang Gen Z yang bekerja sebagai pegawai di perusahaan asing di Jakarta.
Sudah lima tahun ia bekerja di perusahaan tersebut. Gaji dan bonus yang diterimanya diakui sudah cukup, bahkan relatif tinggi dibandingkan teman-teman selingkarannya.
Selain itu, dengan pekerjaan yang sekarang, ia tetap bisa mengatur waktu untuk istirahat hingga menjalani hobi. Oleh karena itu, naik jabatan tak masuk dalam daftarnya.
Baca juga: Kata CEO Nvidia Jensen Huang, AI Bisa Jadi Mentor Karier Anda
Ilustrasi bekerja di kantor."Aku lebih ke khawatir, kalau naik jabatan, waktuku untuk kehidupan pribadi semakin terbatas. Kayaknya belum siap untuk menghadapi itu," Putri mengakui.
Lain lagi dengan Miftah. Pekerja generasi milenial yang berkarier di industri kreatif di Jakarta dengan tegas mengaku enggan naik jabatan.
Menurut dia, dengan posisi pekerjaannya saat ini, ia bisa mencurahkan waktu dan perhatian untuk putri semata wayangnya.
"Gue pernah ditawari naik jabatan, tapi gue tolak. Karena dengan yang sekarang ini, gue bisa tetap fokus ngurus anak," tuturnya.
Baca juga: Gen Z Cenderung Paling Kurang Bahagia di Tempat Kerja
Miftah mengaku tak tergiur dengan kenaikan gaji atau fasilitas yang dia terima lantaran promosi jabatan. Menurut dia, apa yang diperolehnya saat ini sudah cukup.
"Kalau mengejar uang, kayaknya enggak. Buat gue waktu untuk anak itu enggak tergantikan," cetusnya.
Di tengah lanskap pasar kerja global yang berubah cepat, muncul satu istilah yang kian sering dibicarakan, yakni career minimalism.
Konsep career minimalism merujuk pada pendekatan bekerja yang lebih sederhana dan selektif, fokus pada stabilitas, batasan yang jelas antara kerja dan kehidupan pribadi, serta penolakan terhadap ambisi korporat yang berlebihan. Fenomena ini terutama dikaitkan dengan generasi milenial dan Gen Z.
Baca juga: Gen Z dan Milenial Enggan Jadi Bos: Ancaman Krisis Kepemimpinan?
Alih-alih mengejar promosi setinggi mungkin atau berlomba menduduki posisi manajerial, sebagian dari mereka memilih jalur karier yang “cukup", yakni cukup stabil, cukup menghasilkan, dan cukup memberi ruang bagi kehidupan di luar kantor.
Laporan tren tenaga kerja dari Glassdoor menyoroti perubahan sikap ini. Morgan Sanner, pakar karier di Glassdoor, menggambarkan pergeseran tersebut dengan metafora yang cukup kuat.
“Kita telah mengganti jenjang karier yang kaku dengan pijakan karier yang fleksibel, sebuah jalur di mana kita dapat melompat ke peluang apa pun yang paling sesuai saat ini,” ungkap Sanner.
Ilustrasi bekerja di kantor. Alih-alih menaiki tangga karier yang kaku dan linear, generasi muda kini dinilai lebih memilih berpindah dari satu lompatan ke peluang lain yang dirasa paling sesuai pada waktu tertentu.
Baca juga: Tips Karier untuk Gen Z dari Barack Obama, Jadilah Karyawan Seperti Ini
Salah satu indikator yang kerap dikaitkan dengan career minimalism adalah meningkatnya kepemilikan side hustle alias pekerjaan sampingan di kalangan generasi muda.
Putri mengakui, ia memiliki side hustle, meski tak rutin dilakukan. Dengan pekerjaan sampingan sebagai penerjemah, ia memanfaatkan penghasilan yang diperoleh untuk "modal" liburan.
"Side hustle aku ada sih, tapi enggak rutin. Lumayan untuk aku liburan ke luar negeri," tuturnya.
Dalam laporan tren 2025 yang dirilis Glassdoor, sekitar 57 persen pekerja Gen Z dilaporkan memiliki pekerjaan sampingan, lebih tinggi dibandingkan 48 persen milenial.
Baca juga: Mengapa AI Bisa Menghambat Kenaikan Karier bagi Banyak Pekerja Muda
Data ini menunjukkan bahwa banyak pekerja muda tidak lagi menggantungkan seluruh ambisi dan pertumbuhan finansial mereka pada satu pekerjaan utama.
"Generasi Z sedang mempertimbangkan kembali apa arti sukses di tempat kerja saat ini," tutur Daniel Zhao, Lead Economist Glassdoor.
Pernyataan ini menegaskan bahwa definisi kesuksesan profesional tengah mengalami perubahan.