Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tren "Career Minimalism": Generasi Muda Tak Lagi Kejar Jabatan

Kompas.com, 12 Februari 2026, 09:19 WIB
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - "Di pekerjaanku yang sekarang ini, aku enggak mau naik jabatan sih. Karena aku merasa sudah stabil," ujar Putri, seorang Gen Z yang bekerja sebagai pegawai di perusahaan asing di Jakarta.

Sudah lima tahun ia bekerja di perusahaan tersebut. Gaji dan bonus yang diterimanya diakui sudah cukup, bahkan relatif tinggi dibandingkan teman-teman selingkarannya.

Selain itu, dengan pekerjaan yang sekarang, ia tetap bisa mengatur waktu untuk istirahat hingga menjalani hobi. Oleh karena itu, naik jabatan tak masuk dalam daftarnya.

Baca juga: Kata CEO Nvidia Jensen Huang, AI Bisa Jadi Mentor Karier Anda

Ilustrasi bekerja di kantor.PEXELS/FAUXELS Ilustrasi bekerja di kantor.

"Aku lebih ke khawatir, kalau naik jabatan, waktuku untuk kehidupan pribadi semakin terbatas. Kayaknya belum siap untuk menghadapi itu," Putri mengakui.

Lain lagi dengan Miftah. Pekerja generasi milenial yang berkarier di industri kreatif di Jakarta dengan tegas mengaku enggan naik jabatan.

Menurut dia, dengan posisi pekerjaannya saat ini, ia bisa mencurahkan waktu dan perhatian untuk putri semata wayangnya.

"Gue pernah ditawari naik jabatan, tapi gue tolak. Karena dengan yang sekarang ini, gue bisa tetap fokus ngurus anak," tuturnya.

Baca juga: Gen Z Cenderung Paling Kurang Bahagia di Tempat Kerja

Miftah mengaku tak tergiur dengan kenaikan gaji atau fasilitas yang dia terima lantaran promosi jabatan. Menurut dia, apa yang diperolehnya saat ini sudah cukup.

"Kalau mengejar uang, kayaknya enggak. Buat gue waktu untuk anak itu enggak tergantikan," cetusnya.

Di tengah lanskap pasar kerja global yang berubah cepat, muncul satu istilah yang kian sering dibicarakan, yakni career minimalism.

Konsep career minimalism merujuk pada pendekatan bekerja yang lebih sederhana dan selektif, fokus pada stabilitas, batasan yang jelas antara kerja dan kehidupan pribadi, serta penolakan terhadap ambisi korporat yang berlebihan. Fenomena ini terutama dikaitkan dengan generasi milenial dan Gen Z.

Baca juga: Gen Z dan Milenial Enggan Jadi Bos: Ancaman Krisis Kepemimpinan?

Alih-alih mengejar promosi setinggi mungkin atau berlomba menduduki posisi manajerial, sebagian dari mereka memilih jalur karier yang “cukup", yakni cukup stabil, cukup menghasilkan, dan cukup memberi ruang bagi kehidupan di luar kantor.

Laporan tren tenaga kerja dari Glassdoor menyoroti perubahan sikap ini. Morgan Sanner, pakar karier di Glassdoor, menggambarkan pergeseran tersebut dengan metafora yang cukup kuat.

“Kita telah mengganti jenjang karier yang kaku dengan pijakan karier yang fleksibel, sebuah jalur di mana kita dapat melompat ke peluang apa pun yang paling sesuai saat ini,” ungkap Sanner.

Ilustrasi bekerja di kantor. PEXELS/THIRDMAN Ilustrasi bekerja di kantor.

Alih-alih menaiki tangga karier yang kaku dan linear, generasi muda kini dinilai lebih memilih berpindah dari satu lompatan ke peluang lain yang dirasa paling sesuai pada waktu tertentu.

Baca juga: Tips Karier untuk Gen Z dari Barack Obama, Jadilah Karyawan Seperti Ini

Pekerjaan sampingan dan redefinisi sukses

Salah satu indikator yang kerap dikaitkan dengan career minimalism adalah meningkatnya kepemilikan side hustle alias pekerjaan sampingan di kalangan generasi muda.

Putri mengakui, ia memiliki side hustle, meski tak rutin dilakukan. Dengan pekerjaan sampingan sebagai penerjemah, ia memanfaatkan penghasilan yang diperoleh untuk "modal" liburan.

"Side hustle aku ada sih, tapi enggak rutin. Lumayan untuk aku liburan ke luar negeri," tuturnya.

Dalam laporan tren 2025 yang dirilis Glassdoor, sekitar 57 persen pekerja Gen Z dilaporkan memiliki pekerjaan sampingan, lebih tinggi dibandingkan 48 persen milenial.

Baca juga: Mengapa AI Bisa Menghambat Kenaikan Karier bagi Banyak Pekerja Muda

Data ini menunjukkan bahwa banyak pekerja muda tidak lagi menggantungkan seluruh ambisi dan pertumbuhan finansial mereka pada satu pekerjaan utama.

"Generasi Z sedang mempertimbangkan kembali apa arti sukses di tempat kerja saat ini," tutur Daniel Zhao, Lead Economist Glassdoor.

Pernyataan ini menegaskan bahwa definisi kesuksesan profesional tengah mengalami perubahan.

Halaman:


Terkini Lainnya
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
 KKP Percepat Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
KKP Percepat Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
Ekbis
KA Ciremai Terdampak Longsor di Maswati–Sasaksaat, Seluruh Penumpang Selamat
KA Ciremai Terdampak Longsor di Maswati–Sasaksaat, Seluruh Penumpang Selamat
Ekbis
Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP
Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP
Ekbis
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau