Penulis
NEW YORK, KOMPAS.com - Ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan pasar energi global setelah Teheran menggelar latihan militer di Selat Hormuz di tengah berlangsungnya perundingan nuklir kedua negara di Geneva, Swiss.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan minyak dunia, mengingat peran vital selat tersebut sebagai jalur utama distribusi energi global.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur laut paling strategis di dunia. Sekitar seperlima konsumsi minyak dunia, atau setara 18 hingga 19 juta barrel per hari (bph) melewati perairan sempit ini, menjadikannya titik kritis bagi perdagangan energi internasional.
Baca juga: Trump dan Netanyahu Tekan Iran untuk Batasi Ekspor Minyak ke China
Kapal induk USS Abraham Lincoln (kiri) saat berlayar di Selat Hormuz pada 19 November 2019. Amerika Serikat mengerahkan kapal yang biasanya mangkal di Pasifik Barat ini untuk mendekat ke Iran, di tengah tensi kedua negara yang semakin memanas.Pada saat yang sama, Iran dan AS melanjutkan pembicaraan tidak langsung terkait program nuklir Iran di Jenewa, Swiss dengan mediasi Oman.
Negosiasi ini berlangsung di tengah meningkatnya kehadiran militer AS di kawasan Timur Tengah dan latihan militer besar-besaran yang digelar Iran di sekitar Selat Hormuz.
Iran mengumumkan penutupan sementara sebagian Selat Hormuz sebagai bagian dari langkah pengamanan selama latihan militer yang dilakukan oleh Garda Revolusi Iran, Selasa (17/2/2026).
Dikutip dari Reuters, penutupan tersebut dimaksudkan untuk memastikan keselamatan navigasi selama latihan militer berlangsung.
Baca juga: Iran Buka Peluang Kerja Sama Migas sampai Pesawat dengan AS
Latihan militer ini termasuk uji coba peluncuran rudal dan operasi angkatan laut yang berlangsung di salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia.
Langkah tersebut dilakukan bersamaan dengan pembicaraan nuklir yang berlangsung di Jenewa dan meningkatnya kehadiran militer AS di kawasan tersebut.
Ilustrasi kapal tanker. Menurut International Energy Agency (IEA), sekitar seperempat pengiriman minyak melalui laut dan sekitar seperlima perdagangan gas alam cair (LNG) global melewati Selat Hormuz.
Hal ini membuat setiap gangguan di jalur tersebut berpotensi memicu dampak signifikan terhadap pasar energi global.
Baca juga: Harga Minyak Turun 1,4 Persen Usai AS-Iran Sepakat Gelar Pembicaraan
Ancaman terhadap jalur ini juga bukan hal baru. Iran sebelumnya telah beberapa kali mengancam akan menutup Selat Hormuz sebagai respons terhadap tekanan militer dan ekonomi dari AS dan sekutunya.
Negosiasi antara Iran dan AS bertujuan untuk mencapai kesepakatan terkait program nuklir Iran, dengan fokus pada pembatasan pengayaan uranium dan pemulihan mekanisme pengawasan internasional.
Pembicaraan ini merupakan kelanjutan dari rangkaian negosiasi yang telah dimulai sejak 2025 dan kembali dilanjutkan setelah sempat terhenti akibat konflik militer di kawasan.
Presiden AS Donald Trump menyatakan harapannya agar perundingan tersebut dapat menghasilkan kesepakatan.
Baca juga: Harga Emas Dunia Kembali Tembus 5.000 Dollar AS Usai Insiden Drone Iran