Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com - Emas telah lama dikenal sebagai aset safe haven atau lindung nilai yang diminati investor ketika ketidakpastian ekonomi meningkat. Namun, posisi emas sebagai aset aman tidak berarti pergerakan harganya stabil.
Tahun 2026 diperkirakan menjadi periode ketika volatilitas justru menjadi karakter utama pasar logam mulia tersebut, dipengaruhi oleh dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat (AS), pergerakan dollar AS, serta perubahan ekspektasi investor global.
James Steel, Chief Precious Metals Analyst HSBC, mengatakan bahwa volatilitas akan menjadi ciri utama pasar logam mulia tahun ini.
Baca juga: Reli Emas Diprediksi Berlanjut pada 2026, Bank Global Naikkan Target Harga
Ilustrasi emas. Pegadaian Ungkap Penyebab Nasabah Sulit Cetak Emas FisikDalam wawancara dengan CNBC, Steel menjelaskan faktor kebijakan suku bunga Federal Reserve dan kekuatan dollar AS akan terus membentuk arah permintaan emas.
Ia menegaskan status emas sebagai aset safe haven tidak menjamin stabilitas harga.
"Hanya karena (emas) safe haven, bukan berarti tidak bergejolak," kata Steel.
Pernyataan tersebut mencerminkan realitas bahwa meskipun emas sering dipandang sebagai pelindung nilai, investor tetap menghadapi fluktuasi harga yang signifikan dalam jangka pendek maupun menengah.
Baca juga: Harga Emas Melemah, Pasar Tunggu Sinyal The Fed
Emas secara historis digunakan sebagai lindung nilai terhadap inflasi, gejolak pasar keuangan, dan risiko geopolitik.
Ketika pasar saham bergejolak atau nilai mata uang melemah, investor cenderung beralih ke emas karena sifatnya yang dianggap lebih stabil dalam jangka panjang.
Namun, perkembangan pasar modern menunjukkan, emas tetap rentan terhadap faktor makroekonomi, khususnya perubahan kebijakan moneter.
Ilustrasi emas. Steel menekankan, pasar emas sangat sensitif terhadap ekspektasi suku bunga dan nilai tukar dollar AS, yang memengaruhi daya tarik emas bagi investor global.
Baca juga: Investasi Emas Digital Populer, Hindari Kesalahan Ini agar Tak Rugi
Pergerakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) menjadi salah satu indikator penting yang memengaruhi harga emas.
Dalam beberapa hari sebelum wawancara tersebut, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun tajam dari 4,30 persen menjadi sekitar 4,00 persen.
Secara teori, penurunan imbal hasil obligasi biasanya mendukung harga emas karena mengurangi opportunity cost memegang aset yang tidak menghasilkan bunga seperti emas.
Namun, Steel mencatat reaksi pasar emas tidak selalu mengikuti pola yang sederhana.
Baca juga: Investasi Emas Digital: Ini yang Harus Dipahami Investor Pemula
Fenomena tersebut menunjukka harga emas dipengaruhi oleh kombinasi faktor yang kompleks, termasuk persepsi investor terhadap kebijakan bank sentral, kondisi likuiditas global, dan kekuatan dolar AS.
Bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) memainkan peran sentral dalam menentukan arah pasar emas melalui kebijakan suku bunga dan sinyal kebijakan moneter.
Ketika suku bunga meningkat, emas biasanya menghadapi tekanan karena investor cenderung beralih ke aset berbunga seperti obligasi. Sebaliknya, ketika suku bunga turun atau diperkirakan akan turun, emas menjadi lebih menarik.
Steel mengatakan, eksposur dollar AS menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi volatilitas emas tahun ini.
Baca juga: Harga Emas Naik Turun, Waspadai Risiko FOMO bagi Investor
Ilustrasi emas. Berikut daftar harga emas batangan Antam yang tercatat di laman Logam Mulia