Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mendalami Penyebab Bank Syariah Dipersepsikan Lebih Mahal dari Bank Konvensional

Kompas.com, 25 Februari 2026, 10:47 WIB
Isna Rifka Sri Rahayu,
Teuku Muhammad Valdy Arief

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Anggapan pembiayaan bank syariah lebih mahal dari bank konvensional kembali mencuat. Persepsi ini muncul di masyarakat dan sempat disinggung Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

Direktur Utama Bank Muamalat Imam Teguh Saptono mengakui persepsi tersebut kerap terdengar.

"Secara umum, persepsi bahwa pembiayaan syariah terkesan lebih mahal memang kerap muncul di masyarakat," kata Imam kepada Kompas.com, Rabu (18/2/2026).

Baca juga: Seleksi Calon Pimpinan OJK, Purbaya: DPR Belum Kelihatan Daftar...

Ketua Penasihat Center for Sharia Economic Development (CSED) Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ma'ruf Amin meminta isu ini dilihat secara komprehensif. Skema bagi hasil membuat bank menerima porsi lebih besar saat keuntungan tinggi. Risiko yang ditanggung juga lebih besar dibanding sistem bunga.

"Saya kira kita lihatnya dari sisi mana gitu kan. Karena kan kalau berbagi hasil itu memang kalau keuntungannya besar tentu yang diterima oleh bank besar kalau berbagi hasil, tapi kan risikonya juga besar," ujarnya saat ditemui di Menara Bank Mega, Jakarta, Selasa (24/2/2026).

Wakil Kepala CSED INDEF Handi Risza menjelaskan perbedaan mendasar dua sistem. Perbankan konvensional menggunakan bunga atau interest rate. Aktivitas kredit tidak mempertimbangkan halal dan haram menurut syariat Islam. Perbankan syariah memakai skema bagi hasil atau profit dan revenue sharing. Pembiayaan diarahkan ke aktivitas ekonomi halal.

"Dari sini ruang lingkup dan aktivitasnya sudah berbeda," kata Risza.

Dari sisi struktur industri, skala permodalan bank syariah masih terbatas. Mayoritas masuk Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti atau KBMI I dengan modal inti hingga Rp 6 triliun dan KBMI II hingga Rp 14 triliun. Bank Syariah Indonesia berada di KBMI III dengan modal inti Rp 14 triliun hingga Rp 70 triliun.

Bank konvensional memiliki empat bank di KBMI IV dengan modal inti di atas Rp 70 triliun, yakni Bank Central Asia, Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, dan Bank Negara Indonesia.

Total aset perbankan syariah per Oktober 2025 mencapai Rp 1.028 triliun. Angka ini masih berada pada kategori kecil hingga menengah.

"Modal yang terbatas cenderung menyebabkan biaya operasional per unit produk cenderung lebih tinggi. Selain itu, jumlah modal akan sangat menentukan bank mampu berinvestasi terhadap teknologi, sistim informasi dan SDM yang membuat produk perbankan jauh lebih efisien dan inovatif," jelas Risza.

Baca juga: Gandeng OJK, BI Luncurkan Pusat Inovasi Digital Indonesia

Struktur dana juga memengaruhi harga pembiayaan. Bank syariah banyak menghimpun dana pihak ketiga atau DPK dari tabungan dan deposito. Sumber ini membuat biaya dana atau cost of fund lebih tinggi.

Bank konvensional lebih banyak mengandalkan giro dan dana murah lain, termasuk rekening giro pemerintah. Infrastruktur teknologi informasi dan jaringan yang luas ikut menekan biaya.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan atau OJK Dian Ediana Rae menyebut rendahnya skala usaha dan daya saing membuat bank syariah bergantung pada sumber dana mahal.

"Hal ini yang akhirnya mempengaruhi struktur pricing perbankan syariah," kata Dian kepada Kompas.com, Kamis (19/2/2026).

Halaman:


Terkini Lainnya
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
 KKP Percepat Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
KKP Percepat Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
Ekbis
KA Ciremai Terdampak Longsor di Maswati–Sasaksaat, Seluruh Penumpang Selamat
KA Ciremai Terdampak Longsor di Maswati–Sasaksaat, Seluruh Penumpang Selamat
Ekbis
Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP
Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP
Ekbis
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau