Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mandiri Sekuritas Optimis: Pipeline IPO 2026 Lebih Gemuk

Kompas.com, 25 Februari 2026, 20:33 WIB
Suparjo Ramalan ,
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Mandiri Sekuritas Indonesia memastikan masih membawahi sejumlah perusahaan untuk mencatatkan saham perdana (initial public offering/IPO) pada 2026.

Bahkan, jumlahnya lebih “gemuk” dibandingkan tahun lalu.

Direktur Utama Mandiri Sekuritas, Oki Ramadhana, mengatakan jumlah calon emiten yang masuk dalam pipeline IPO tahun ini tercatat lebih banyak dibandingkan tahun lalu.

Baca juga: 8 Perusahaan Antre IPO, IHSG Bisa Tembus 10.000?

Ilustrasi saham. Membangun kekayaan dari pasar saham bukan soal keberuntungan. Investor sukses memiliki tujuh kebiasaan yang mereka lakukan secara konsisten dan terbukti menghasilkan dalam jangka panjang.PIXABAY/SERGEI TOKMAKOV Ilustrasi saham. Membangun kekayaan dari pasar saham bukan soal keberuntungan. Investor sukses memiliki tujuh kebiasaan yang mereka lakukan secara konsisten dan terbukti menghasilkan dalam jangka panjang.

Bahkan, saat pasar modal mendapat sentimen negatif dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan Moody’s tak satu pun perusahaan menunda ataupun membatalkan rencana penawaran umum perdana sahamnya.

“Mengenai IPO tahun ini, sebenarnya tahun ini di pipeline kita untuk IPO tahun ini sebenarnya lebih banyak daripada tahun lalu,” ujar Oki di sela-sela buka puasa bersama awak media, Jakarta Selatan, Rabu (25/2/2026).

“Jadi event setelah kondisi MSCI, kondisi Moody's, gak ada satu pun dari calon emiten yang kita kerjakan itu yang hold atau even mundur gitu ya,” paparnya.

Justru momentum reformasi Bursa Efek Indonesia (BEI) yang tengah digenjot Self-Regulatory Organization (SRO) diyakini bisa memperkuat struktur pasar modal domestik.

Baca juga: BEI Revisi Aturan IPO, Akankah Pencatatan Saham Melambat pada 2026?

Peningkatan kualitas regulasi dan dorongan terhadap likuiditas dinilai membuat pasar menjadi lebih dalam dan atraktif bagi investor.

Dengan kondisi tersebut, Mandiri Sekuritas optimistis minat terhadap IPO tetap terjaga, bahkan berpotensi meningkat seiring ekspektasi pasar yang semakin konstruktif.

“Jadi karena kita yakin reformasi ini justru akan membuat market kita jauh lebih liquid,” beber Oki.

Lebih jauh, ia menjelaskan peningkatan ketentuan porsi kepemilikan saham publik (free float) minimal 15 persen justru akan memperkuat likuiditas pasar.

Ilustrasi saham, pergerakan saham. SHUTTERSTOCK/SHUTTER_O Ilustrasi saham, pergerakan saham.

Baca juga: Airlangga Ungkap Demutualiasi BEI Gunakan Private Placement atau IPO

Jika sebelumnya saham dengan porsi publik kecil masih bisa tergolong likuid, ke depan standar tersebut menjadi lebih ketat sehingga saham yang melantai benar-benar memiliki peredaran yang memadai di pasar.

Bayangin aja kalau misalnya yang tadinya itu liquid itu yang kecil, itu kita sekarang harus 15 persen (free float) dan itu harus liquid gitu ya. Jadi itu full portfolio investor itu yang bener-bener akan invest di capital market kita,” katanya.

Dengan komposisi seperti itu, portofolio investor, terutama institusi, akan lebih optimal ditempatkan di pasar modal domestik karena saham yang tersedia cukup besar dan aktif diperdagangkan.

Menurutnya, dalam praktik pasar, semakin besar ukuran emisi dan kapitalisasi, semakin besar pula peluang masuknya investor institusi.

Baca juga: Aturan Baru OJK: Free Float 15 Persen, IPO Makin Likuid tapi Volatilitas Lebih Tinggi

Halaman:


Terkini Lainnya
Bank QNB Indonesia Catat Lonjakan Kredit 18 Persen, NPL Turun 2,2 Persen
Bank QNB Indonesia Catat Lonjakan Kredit 18 Persen, NPL Turun 2,2 Persen
Ekbis
Dari Buka Puasa hingga Mudik, BSI Maslahat Jangkau 145 Ribu Penerima
Dari Buka Puasa hingga Mudik, BSI Maslahat Jangkau 145 Ribu Penerima
Ekbis
RI dan Korsel Sepakati 10 Kerja Sama Strategis, Fokus Mineral hingga AI
RI dan Korsel Sepakati 10 Kerja Sama Strategis, Fokus Mineral hingga AI
Ekbis
RI Antisipasi Krisis Bahan Baku Plastik, Bidik India hingga Afrika
RI Antisipasi Krisis Bahan Baku Plastik, Bidik India hingga Afrika
Ekbis
Penjualan Turun, Laba Tahun Berjalan 2025 Indocement (INTP) Justru Naik 12 Persen
Penjualan Turun, Laba Tahun Berjalan 2025 Indocement (INTP) Justru Naik 12 Persen
Ekbis
Pakai Lahan KAI dan Angkasa Pura, Pemerintah Bangun 800 Hunian di Pusat Jakarta
Pakai Lahan KAI dan Angkasa Pura, Pemerintah Bangun 800 Hunian di Pusat Jakarta
Ekbis
Indonesia Masuk Bisnis Leasing Pesawat Global, Danantara Luncurkan Platform Baru
Indonesia Masuk Bisnis Leasing Pesawat Global, Danantara Luncurkan Platform Baru
Ekbis
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Ekbis
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Ekbis
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Ekbis
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau