Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kamis Pagi, Rupiah dan IHSG Kompak Menguat

Kompas.com, 5 Maret 2026, 09:56 WIB
Suparjo Ramalan ,
Erlangga Djumena

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah kompak menguat pada pembukaan perdagangan Kamis (5/3/2026), setelah kedua instrumen keuangan itu terkoreksi pada penutupan pasar Rabu kemarin.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG naik 157,353 poin atau 2,08 persen ke level 7.734,417.

Sebelumnya ketika penutupan pasar Rabu kemarin, indeks anjlok 362,70 poin atau turun 4,57 persen ke level 7.577,06.

IHSG dibuka di posisi 7.695,347 dan sempat bergerak hingga menyentuh level tertinggi 7.765,613.

Baca juga: IHSG Dibuka Menguat 1,72 Persen ke Level 7.707

Sementara itu, posisi terendah indeks pada sesi perdagangan berada di 7.681,688.

Penguatan indeks juga tecermin dari dominasi saham yang bergerak di zona hijau.

Tercatat 582 saham menguat, sedangkan 80 saham melemah, dan 67 saham lainnya stagnan.

Dari sisi aktivitas transaksi, volume perdagangan mencapai 9,329 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 5,031 triliun.

Frekuensi perdagangan sebanyak 547.934 kali transaksi.

Adapun, nilai tukar rupiah terapresiasi 12 poin atau 0,07 persen ke posisi Rp 16.879 per dollar AS saat perdagangan dibuka pagi ini.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan rupiah berpotensi bergerak menguat terhadap dollar Amerika Serikat seiring membaiknya sentimen pasar global, terutama dipicu oleh harapan de-eskalasi konflik di Timur Tengah, setelah muncul laporan bahwa Iran memberi sinyal kesediaan untuk kembali melakukan perundingan.

Harapan meredanya ketegangan geopolitik tersebut mendorong peningkatan risk appetite investor terhadap aset negara berkembang, termasuk mata uang di kawasan Asia seperti rupiah.

“Rupiah berpotensi menguat terhadap dollar AS di tengah sentimen yang membaik oleh harapan de-eskalasi perang di Timur Tengah menyusul berita bahwa Iran mensinyalkan niat untuk kembali berunding,” ujar Lukman saat dihubungi Kompas.com.

Dalam kondisi ketidakpastian global, perkembangan geopolitik sering mempengaruhi arus modal dan pergerakan mata uang.

Ketika risiko konflik mulai mereda, investor cenderung kembali masuk ke aset berisiko yang sebelumnya ditinggalkan saat ketegangan meningkat.

Di sisi lain, pergerakan dollar AS juga tetap dipengaruhi oleh dinamika global seperti harga energi, inflasi, dan kebijakan suku bunga Amerika Serikat.

Ketegangan geopolitik yang mereda dapat menahan penguatan dollar yang sebelumnya mendapat dukungan dari permintaan aset aman (safe haven).

Kondisi tersebut membuka ruang bagi mata uang negara berkembang untuk melakukan penguatan terbatas.

Dengan mempertimbangkan sentimen tersebut, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp 16.850 hingga Rp 16.950 per dollar AS dalam jangka pendek.

Baca juga: Imbas Perang Iran-Israel, IHSG Ditutup Turun Hampir 5 Persen, Rupiah Ikut Melemah

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Bank QNB Indonesia Catat Lonjakan Kredit 18 Persen, NPL Turun 2,2 Persen
Bank QNB Indonesia Catat Lonjakan Kredit 18 Persen, NPL Turun 2,2 Persen
Ekbis
Dari Buka Puasa hingga Mudik, BSI Maslahat Jangkau 145 Ribu Penerima
Dari Buka Puasa hingga Mudik, BSI Maslahat Jangkau 145 Ribu Penerima
Ekbis
RI dan Korsel Sepakati 10 Kerja Sama Strategis, Fokus Mineral hingga AI
RI dan Korsel Sepakati 10 Kerja Sama Strategis, Fokus Mineral hingga AI
Ekbis
RI Antisipasi Krisis Bahan Baku Plastik, Bidik India hingga Afrika
RI Antisipasi Krisis Bahan Baku Plastik, Bidik India hingga Afrika
Ekbis
Penjualan Turun, Laba Tahun Berjalan 2025 Indocement (INTP) Justru Naik 12 Persen
Penjualan Turun, Laba Tahun Berjalan 2025 Indocement (INTP) Justru Naik 12 Persen
Ekbis
Pakai Lahan KAI dan Angkasa Pura, Pemerintah Bangun 800 Hunian di Pusat Jakarta
Pakai Lahan KAI dan Angkasa Pura, Pemerintah Bangun 800 Hunian di Pusat Jakarta
Ekbis
Indonesia Masuk Bisnis Leasing Pesawat Global, Danantara Luncurkan Platform Baru
Indonesia Masuk Bisnis Leasing Pesawat Global, Danantara Luncurkan Platform Baru
Ekbis
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Ekbis
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Ekbis
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Ekbis
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau