JAKARTA, KOMPAS.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah kompak menguat pada pembukaan perdagangan Kamis (5/3/2026), setelah kedua instrumen keuangan itu terkoreksi pada penutupan pasar Rabu kemarin.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG naik 157,353 poin atau 2,08 persen ke level 7.734,417.
Sebelumnya ketika penutupan pasar Rabu kemarin, indeks anjlok 362,70 poin atau turun 4,57 persen ke level 7.577,06.
IHSG dibuka di posisi 7.695,347 dan sempat bergerak hingga menyentuh level tertinggi 7.765,613.
Baca juga: IHSG Dibuka Menguat 1,72 Persen ke Level 7.707
Sementara itu, posisi terendah indeks pada sesi perdagangan berada di 7.681,688.
Penguatan indeks juga tecermin dari dominasi saham yang bergerak di zona hijau.
Tercatat 582 saham menguat, sedangkan 80 saham melemah, dan 67 saham lainnya stagnan.
Dari sisi aktivitas transaksi, volume perdagangan mencapai 9,329 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 5,031 triliun.
Frekuensi perdagangan sebanyak 547.934 kali transaksi.
Adapun, nilai tukar rupiah terapresiasi 12 poin atau 0,07 persen ke posisi Rp 16.879 per dollar AS saat perdagangan dibuka pagi ini.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan rupiah berpotensi bergerak menguat terhadap dollar Amerika Serikat seiring membaiknya sentimen pasar global, terutama dipicu oleh harapan de-eskalasi konflik di Timur Tengah, setelah muncul laporan bahwa Iran memberi sinyal kesediaan untuk kembali melakukan perundingan.
Harapan meredanya ketegangan geopolitik tersebut mendorong peningkatan risk appetite investor terhadap aset negara berkembang, termasuk mata uang di kawasan Asia seperti rupiah.
“Rupiah berpotensi menguat terhadap dollar AS di tengah sentimen yang membaik oleh harapan de-eskalasi perang di Timur Tengah menyusul berita bahwa Iran mensinyalkan niat untuk kembali berunding,” ujar Lukman saat dihubungi Kompas.com.
Dalam kondisi ketidakpastian global, perkembangan geopolitik sering mempengaruhi arus modal dan pergerakan mata uang.
Ketika risiko konflik mulai mereda, investor cenderung kembali masuk ke aset berisiko yang sebelumnya ditinggalkan saat ketegangan meningkat.
Di sisi lain, pergerakan dollar AS juga tetap dipengaruhi oleh dinamika global seperti harga energi, inflasi, dan kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
Ketegangan geopolitik yang mereda dapat menahan penguatan dollar yang sebelumnya mendapat dukungan dari permintaan aset aman (safe haven).
Kondisi tersebut membuka ruang bagi mata uang negara berkembang untuk melakukan penguatan terbatas.
Dengan mempertimbangkan sentimen tersebut, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp 16.850 hingga Rp 16.950 per dollar AS dalam jangka pendek.
Baca juga: Imbas Perang Iran-Israel, IHSG Ditutup Turun Hampir 5 Persen, Rupiah Ikut Melemah
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang