Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Harga Perak Melonjak Tiga Kali Lipat dalam Setahun, Apa Pemicunya?

Kompas.com, 6 Maret 2026, 06:07 WIB
Nur Jamal Shaid

Penulis

KOMPAS.com – Harga perak dunia kembali menjadi sorotan pasar global setelah pergerakannya sangat fluktuatif dalam setahun terakhir. Logam mulia ini bahkan sempat menembus level lebih dari 100 dollar AS per troy ons pada 2026, sebelum mengalami penurunan tajam pada 30 Januari.

Meski sempat terkoreksi, kinerja harga perak sepanjang setahun terakhir masih tergolong sangat kuat. Nilainya tercatat melonjak lebih dari tiga kali lipat dan bahkan melampaui kenaikan harga emas.

Sebagai perbandingan, harga emas hanya naik sekitar 90 persen dalam periode yang sama. Lonjakan harga perak tersebut sekaligus mendorong rasio emas terhadap perak atau gold-to-silver ratio ke level terendah baru.

Baca juga: Konflik Iran-AS-Israel Picu Lonjakan Harga Emas dan Perak Dunia

Rasio tersebut menunjukkan berapa banyak troy ons perak yang dibutuhkan untuk menyamai harga satu troy ons emas. Para analis menilai indikator ini dapat memberi gambaran apakah harga perak masih tergolong murah atau justru sudah mahal dibandingkan emas.

Dikutip dari Yahoo Finance, Jumat (6/3/2026), Chris Mancini, associate portfolio manager Gabelli Gold Fund, mengatakan rasio emas-perak saat ini berada di kisaran 48. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan rata-rata jangka panjang sekitar 65, serta mendekati titik terendah historis di sekitar 30.

“Jika rasio tersebut turun ke level 30, maka harga perak bisa mencapai sekitar 170 dollar AS per troy ons, dengan asumsi harga emas berada di 5.100 dollar AS per troy ons,” kata Mancini.

Dipicu Ketidakpastian Ekonomi Global

Lonjakan harga perak dalam setahun terakhir tidak terlepas dari sejumlah faktor makroekonomi global.

Para analis menilai kenaikan tersebut dipicu oleh pergeseran investor dari aset berbasis dollar AS, meningkatnya ketegangan geopolitik, serta ketidakpastian kondisi ekonomi dunia.

Baca juga: Harga Emas Dunia Sentuh 5.263 Dollar AS, Perak Ikut Melonjak

Pakar pasar logam mulia sekaligus managing partner CPM Group, Jeffrey Christian, mengatakan volatilitas harga perak sebenarnya lebih dipengaruhi kondisi ekonomi dan politik global dibandingkan faktor pasar perak itu sendiri.

“Ini bukan hanya tentang perak, melainkan kondisi ekonomi dan politik secara lebih luas,” kata Christian.

Menurut dia, kekhawatiran para ekonom saat ini meningkat seiring melemahnya kondisi pasar tenaga kerja, inflasi yang masih bertahan, serta dampak negatif dari tarif dan pembatasan perdagangan.

Situasi tersebut tidak hanya terjadi di Amerika Serikat, tetapi juga memengaruhi perekonomian global.

Dalam kondisi pasar yang tidak menentu, investor biasanya mencari aset alternatif seperti emas dan perak. Logam mulia kerap dianggap sebagai safe haven, yakni instrumen yang relatif lebih stabil ketika pasar saham dan obligasi bergejolak.

Ilustrasi perak batangan. Harga perak melonjak tajam di tengah proyeksi pasar yang masih defisit. Namun, permintaan industri diperkirakan melemah pada tahun depan.sahabat.pegadaian.co.id Ilustrasi perak batangan. Harga perak melonjak tajam di tengah proyeksi pasar yang masih defisit. Namun, permintaan industri diperkirakan melemah pada tahun depan.

Baca juga: Pergerakan Harga Emas dan Perak Melambat, Tren Bullish Dinilai Belum Berakhir

Permintaan Teknologi Dorong Harga Perak

Selain menjadi aset lindung nilai, perak juga memiliki peran penting dalam berbagai industri teknologi.

Logam ini digunakan dalam beragam produk, mulai dari panel surya, smartphone, televisi, semikonduktor, hingga pusat data kecerdasan buatan (AI).

Halaman:


Terkini Lainnya
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
 KKP Percepat Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
KKP Percepat Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
Ekbis
KA Ciremai Terdampak Longsor di Maswati–Sasaksaat, Seluruh Penumpang Selamat
KA Ciremai Terdampak Longsor di Maswati–Sasaksaat, Seluruh Penumpang Selamat
Ekbis
Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP
Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP
Ekbis
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau