Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Harga Tiket Pesawat Masih Terasa Mahal Meski Ada Diskon, Ini Kata Menhub

Kompas.com, 7 Maret 2026, 11:37 WIB
Kiki Safitri,
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi menjelaskan alasan harga tiket pesawat masih terasa mahal bagi masyarakat meskipun pemerintah telah memberikan berbagai stimulus dan program diskon pada periode Lebaran 2026.

Menurut Dudy, salah satu faktor utama yang memengaruhi harga tiket pesawat adalah tingginya permintaan perjalanan pada periode puncak seperti musim libur panjang atau Lebaran.

“Tarif pesawat selalu menjadi isu. Kalau peak season itu sebenarnya hukum ekonomi, ketika ada high demand kemudian jumlah flight yang tersedia sedikit, berarti harganya pasti naik,” kata Dudy di Jakarta, Jumat (6/3/2026).

Baca juga: Garuda Indonesia Diskon Tiket Pesawat hingga 20 Persen untuk Mudik Lebaran 2026, Ini Rute dan Harganya

Ilustrasi tiket pesawat. THINKSTOCK Ilustrasi tiket pesawat.

Ia menjelaskan, pada momen seperti Lebaran atau kegiatan besar lainnya, mobilitas masyarakat meningkat secara signifikan sehingga berdampak langsung terhadap harga tiket pesawat.

“Lebaran maupun event besar di mana pergerakan masyarakat tinggi, biasanya harga akan naik. Ketika banyak keluarga bepergian pada saat high season, harganya pasti cukup tinggi karena jumlah orang yang bepergian juga besar,” ujarnya.

Meski demikian, pemerintah terus berupaya membantu masyarakat melalui berbagai stimulus agar harga tiket tetap lebih terjangkau, termasuk dengan kebijakan diskon maupun pengaturan tarif.

“Dalam event seperti ini pemerintah mencoba membantu dengan stimulus-stimulus agar masyarakat bisa bepergian dengan harga yang lebih terjangkau walaupun kondisinya cukup padat,” kata dia.

Baca juga: Diskon Tiket Pesawat 17-18 Persen Berlaku 14-29 Maret 2026

Selain tingginya permintaan, keterbatasan jumlah pesawat juga menjadi faktor yang memengaruhi harga tiket.

Dudy mengungkapkan jumlah armada pesawat di Indonesia belum sepenuhnya pulih sejak pandemi Covid-19.

Ilustrasi harga tiket pesawat. SHUTTERSTOCK/ZINAIDASOPINA Ilustrasi harga tiket pesawat.

“Ketersediaan pesawat kita memang belum kembali seperti sebelum Covid-19. Sebelum pandemi ada sekitar 700 pesawat, sekarang yang tersedia sekitar setengahnya,” ujarnya.

Ia menambahkan, kondisi tersebut membuat kapasitas kursi penerbangan terbatas sehingga maskapai sulit menekan harga tiket ketika permintaan perjalanan meningkat.

Baca juga: Pelita Air Beri Diskon Tiket Pesawat untuk Mudik Lebaran, Cek Rute dan Jadwal Pesannya

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah bersama maskapai berupaya menambah penerbangan tambahan atau extra flight pada rute-rute dengan permintaan tinggi.

“Kami menyikapinya dengan menambah extra flight untuk mengangkut sebanyak mungkin masyarakat yang akan bepergian dengan ketersediaan kursi pesawat,” jelas Dudy.

Di sisi lain, ia juga mengungkapkan bahwa maskapai sempat mengusulkan penyesuaian tarif batas atas dan tarif batas bawah.

Namun hingga saat ini usulan tersebut masih dikaji karena pemerintah juga harus mempertimbangkan kemampuan masyarakat.

Baca juga: Kemenhub Siapkan Mudik Gratis hingga Diskon Tiket Pesawat untuk Lebaran 2026

“Memang ada permintaan dari airline untuk perubahan tarif batas atas dan bawah, tapi kondisinya sekarang belum diterima. Kita harus memahami kondisi masyarakat karena penerbangan sekarang sudah menjadi kebutuhan, bukan lagi sesuatu yang mewah,” ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
 KKP Percepat Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
KKP Percepat Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
Ekbis
KA Ciremai Terdampak Longsor di Maswati–Sasaksaat, Seluruh Penumpang Selamat
KA Ciremai Terdampak Longsor di Maswati–Sasaksaat, Seluruh Penumpang Selamat
Ekbis
Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP
Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP
Ekbis
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau