Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Prospek SR024 Menarik, Kuota Rp 15 Triliun Berpotensi Terserap Pasar

Kompas.com, 7 Maret 2026, 17:10 WIB
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Editor

Sumber

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) ritel kedua di tahun ini, yakni Sukuk Ritel seri SR024. Prospek penawaran SR024 dinilai masih cukup menarik bagi investor individu.

Penawaran sukuk ritel perdana ini dibuka mulai Jumat (6/3/2026) sampai dengan 15 April 2026. Sukuk SR024 ini menawarkan kupon 5,55 persen untuk SR024-T3 tenor tiga tahun dan 5,90 persen untuk SR024-T5 tenor lima tahun.

Perlu diketahui, Pemerintah berupaya menyerap dana sebesar Rp 15 triliun dari penerbitan sukuk ini. Jika diperinci, untuk jenis SR024-T3 memiliki kuota lebih besar yakni Rp 10 triliun, dan sisanya sebesar Rp 5 triliun untuk SR024-T5.

Baca juga: BI Genjot Likuiditas, Pembelian SBN Tembus Rp 23,7 Triliun di Awal 2026

Ilustrasi Sukuk. Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan resmi membuka masa penawaran Sukuk Wakaf Ritel seri SWR005 kepada wakif individu dan institusi.SHUTTERSTOCK/NOR SHAM SOYOD Ilustrasi Sukuk. Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan resmi membuka masa penawaran Sukuk Wakaf Ritel seri SWR005 kepada wakif individu dan institusi.

Terkait hal ini, Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi berpandangan kuota SR024 sebesar Rp 15 triliun berpotensi terserap habis oleh investor individu jika pemerintah mampu menjaga kepercayaan pasar.

Menurutnya, permintaan SBN ritel biasanya dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu stabilitas ekonomi makro dan ekspektasi suku bunga.

“Jika inflasi tetap terkendali dan nilai tukar relatif stabil, investor domestik akan melihat SBN sebagai instrumen penyimpan nilai yang aman,” jelas Syafruddin kepada Kontan, Jumat (6/2/2026).

Apa lagi mengingat, penawaran sukuk ritel ini bertepatan dengan momentum pencairan THR oleh karyawan menyusul periode Lebaran. Syafruddin menilai, permintaan SR024 sangat mungkin ikut terdorong oleh sentimen musiman tersebut.

Baca juga: Kemenkeu Tunggu PP DHE untuk Terbitkan SBN Valas di Pasar Domestik

“THR menambah likuiditas rumah tangga dan memberi ruang bagi sebagian masyarakat untuk mengalihkan dana dari konsumsi ke instrumen investasi yang aman. Dalam konteks ini, sukuk ritel menjadi pilihan yang logis karena menawarkan kupon tetap dan dijamin negara,” lanjutnya.

Ilustrasi obligasi. SHUTTERSTOCK/OK-PRODUCT STUDIO Ilustrasi obligasi.

Secara umum, dengan imbal hasil yang ditawarkan, Syafruddin berpandangan SR024 tetap menarik bagi investor ritel. Imbal hasil 5,55 persen sampai 5,90 persen masih terbilang kompetitif di tengah kondisi saat ini.

Apalagi jika dibandingkan dengan deposito setelah pajak. Pajak kupon SBN hanya 10 persen, sedangkan deposito dikenai pajak 20 persen.

Kondisi global yang masih penuh ketidakpastian juga mendorong investor mencari instrumen aman. Ketegangan geopolitik, arah suku bunga global, serta volatilitas pasar keuangan membuat aset dengan jaminan negara terlihat lebih menarik.

Baca juga: Simak Jadwal Penerbitan 8 Seri SBN Ritel Tahun Ini

Sentimen lain berkaitan dengan manajemen utang Indonesia. Rasio utang pemerintah masih relatif moderat dibanding banyak negara berkembang lain. Persepsi country risk Indonesia tetap terjaga sehingga SBN ritel masih dipandang sebagai instrumen yang aman bagi investor domestik.

Kendati demikain, perlu diketahui bahwa sebelumnya Kemenkeu telah menerbitkan SBN ritel jenis ORI di awal tahun ini, yakni ORI029. Tapi sayang, penjualan ORI029 tercatat belum mencapai target pemerintah hingga akhir masa penawaran.

Tercatat penawaran yang masuk hingga penutupan penawaran ORI029 baru mencapai Rp 14,478 triliun atau sekitar 57,9 persen dari target penghimpunan dana Rp 25 triliun.

Menurut Syafruddin, penjualan ORI029 yang tidak terserap penuh ini tidak secara langsung menunjukkan turunnya minat investor terhadap SBN ritel.

Baca juga: 58 Persen Pembeli SBN Ritel pada 2025 adalah Perempuan

Halaman:


Terkini Lainnya
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
 KKP Percepat Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
KKP Percepat Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
Ekbis
KA Ciremai Terdampak Longsor di Maswati–Sasaksaat, Seluruh Penumpang Selamat
KA Ciremai Terdampak Longsor di Maswati–Sasaksaat, Seluruh Penumpang Selamat
Ekbis
Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP
Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP
Ekbis
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau