Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Ronny P Sasmita
Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution

Penikmat kopi yang nyambi jadi Pengamat Ekonomi

Mengawal Proyek "Waste to Energy" Danantara

Kompas.com, 10 Maret 2026, 06:10 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

LANGKAH ambisius Indonesia dalam mentransformasi sektor limbah menjadi energi kini memasuki babak baru.

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) baru saja mengumumkan pemenang tender proyek Waste-to-Energy (WtE) untuk Kota Bekasi dan Denpasar, yang dimenangkan oleh dua raksasa lingkungan asal China, Wangneng Environment dan Zhejiang Weiming.

Pengumuman ini adalah sinyal dimulainya uji nyali Danantara menjadi pengelola modal negara dalam membuktikan kemampuannya mengorkestrasi investasi jumbo senilai total 5,5 miliar dollar AS di tengah tantangan teknis dan risiko tata kelola yang membayanginya.

Sejatinya, keputusan Indonesia untuk memajukan pembangunan sekitar 33 pembangit listrik tenaga sampah (PLTSa) memang terkesan sebagai langkah kebijakan bernada aksi iklim sekaligus ambisi industri.

Di atas kertas, kebijakan ini tentu akan menjawab persoalan ancaman kesehatan masyarakat terkait puluhan juta ton sampah kota yang dikelola dengan buruk setiap tahun, sembari menjanjikan megawatt baru bagi kota-kota yang menghasilkannya.

Namun, angka-angka tersebut mengaburkan masalah investasi yang cukup rumit, terutama soal cara Danantara dalam mendapatkan dananya (menjual surat utang ke para konglomerat), bagaimana struktur proyeknya, siapa yang akan membangunnya, dan apakah hasilnya nanti akan dianggap sebagai kesuksesan industri, atau sebagai keberhasilan dalam menjalankan kewajiban lingkungan, atau sekadar pajangan politik.

Baca juga: Strategi Energi 5 Tahun China Akan Menggambar Ulang Peta Energi di Asia

Aritmatikanya sederhana. Jakarta dan pusat kota besar lainnya memang menghasilkan ribuan ton sampah setiap hari dan pemerintah ingin setiap pembangkit besar yang terlibat menangani sekitar 1.000 ton per hari dengan perkiraan total kebutuhan pendanaan sekitar puluhan triliun rupiah.

Danantara, sebagai lembaga pengelola investasi baru, telah mengumumkan akan memulai setidaknya delapan proyek dan menanggung studi teknis, sementara PLN diharapkan membeli listrik melalui perjanjian standar.

Pembiayaan akan bersifat hibrida dari modal negara, ekuitas swasta, dan keuangan pengembang.

Namun, keterlibatan langsung Danantara sebagai pemegang saham sekaligus fasilitator investasi menempatkan lembaga ini di tengah potensi konflik kepentingan.

Tanpa "tembok" yang jelas antara pengawasan kebijakan dan motif keuntungan, risiko tata kelola bisa berlipat ganda.

Untuk lembaga yang masih sangat muda, mengelola portofolio infrastruktur yang kompleks sambil memastikan perlindungan lingkungan dan sosial akan menguji kedewasaan institusional Danantara.

Keberhasilan atau kegagalan dari pertaruhan awal ini akan menentukan kredibilitas Danantara sebagai katalis investasi berkelanjutan ke depannya.

Belajar dari pengalaman dunia, kesuksesan seperti Amager Bakke di Denmark bergantung pada standar lingkungan yang tinggi dan kepemilikan publik yang cukup kuat.

Sebaliknya, pembangunan insinerator yang terlalu cepat di China melampaui aliran sampah yang tersedia, menyebabkan aset tidak terutilisasi dan imbal hasil keuangan yang mengecewakan.

China memberikan pelajaran berharga melalui pembangunan insinerator yang dilakukan secara masif dan terburu-buru dalam beberapa tahun terakhir.

Di beberapa wilayah, skala pembangunan tersebut justru melampaui ketersediaan aliran sampah yang ada, sehingga banyak pembangkit yang akhirnya tidak terpakai secara optimal. Akibatnya, imbal hasil keuangan dari proyek-proyek tersebut sangat mengecewakan.

Kasus China ini seharusnya menjadi peringatan nyata soal risiko membangun kapasitas infrastruktur besar sebelum landasan ekonomi dan pasokan bahannya benar-benar terjamin.

Dengan kata lain, Indonesia sebaiknya melihat WtE bukan sebagai solusi cepat, tapi uji kemampuan negara dalam menyelaraskan antara ambisi iklim, pragmatisme industri, dan tata kelola yang bersih.

Tanpa disiplin tata kelola, proyek ini bisa berakhir dengan "membakar uang" sambil mengklaim "membakar sampah".

Baca juga: Antrean BBM: Bukan Sekadar Energi, tapi Krisis Kepercayaan

Jadi, apakah proyek dan investasi ini akan menguntungkan? Jawaban singkatnya: bisa saja, tapi hanya jika prasyarat yang ketat terpenuhi.

Proyek Waste-to-Energy (WtE) adalah industri padat modal yang sangat peka terhadap tiga risiko yang saling berkaitan, yakni keandalan pasokan sampah, stabilitas regulasi, dan kepatuhan lingkungan.

Investor baru bisa mengharapkan imbal hasil yang masuk akal apabila pemerintah kota mampu menjamin volume sampah atau pemerintah daerah memiliki kewajiban kontrak untuk menyediakannya, ditambah dengan harga jual listrik (PPA) yang realistis, serta penyerapan panas atau pendapatan tambahan lainnya.

Tanpa jaminan-jaminan tersebut, tingkat pengembalian modal (Internal Rate of Return) bisa saja menguap dengan cepat dan pembayaran utang akan menjadi masalah besar di kemudian hari.

Di luar urusan finansial, persoalan sosial dan lingkungan juga tak kalah pentingnya. Meskipun teknologi insinerasi modern mampu memangkas emisi secara drastis dibandingkan pembangkit model lama, teknologi ini tidak sepenuhnya bebas emisi.

Halaman:


Terkini Lainnya
Bank QNB Indonesia Catat Lonjakan Kredit 18 Persen, NPL Turun 2,2 Persen
Bank QNB Indonesia Catat Lonjakan Kredit 18 Persen, NPL Turun 2,2 Persen
Ekbis
Dari Buka Puasa hingga Mudik, BSI Maslahat Jangkau 145 Ribu Penerima
Dari Buka Puasa hingga Mudik, BSI Maslahat Jangkau 145 Ribu Penerima
Ekbis
RI dan Korsel Sepakati 10 Kerja Sama Strategis, Fokus Mineral hingga AI
RI dan Korsel Sepakati 10 Kerja Sama Strategis, Fokus Mineral hingga AI
Ekbis
RI Antisipasi Krisis Bahan Baku Plastik, Bidik India hingga Afrika
RI Antisipasi Krisis Bahan Baku Plastik, Bidik India hingga Afrika
Ekbis
Penjualan Turun, Laba Tahun Berjalan 2025 Indocement (INTP) Justru Naik 12 Persen
Penjualan Turun, Laba Tahun Berjalan 2025 Indocement (INTP) Justru Naik 12 Persen
Ekbis
Pakai Lahan KAI dan Angkasa Pura, Pemerintah Bangun 800 Hunian di Pusat Jakarta
Pakai Lahan KAI dan Angkasa Pura, Pemerintah Bangun 800 Hunian di Pusat Jakarta
Ekbis
Indonesia Masuk Bisnis Leasing Pesawat Global, Danantara Luncurkan Platform Baru
Indonesia Masuk Bisnis Leasing Pesawat Global, Danantara Luncurkan Platform Baru
Ekbis
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Ekbis
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Ekbis
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Ekbis
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau