Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Udin Suchaini
ASN di Badan Pusat Statistik

Praktisi Statistik Bidang Pembangunan Desa

Potensi Ekonomi Sisa MBG

Kompas.com, 12 Maret 2026, 06:55 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

SELAMA ini, sebagian pihak memandang makanan yang tidak habis sebagai ”sisa” atau akhir dari proses. Wajar saja jika sisa makanan bergizi gratis (MBG) dianggap sebagai pemborosan, karena dibuang setelah kebutuhan perut terpenuhi.

Apalagi sisa makanan ini masif, paradoks awal akan menjadi dengungan: MBG pemborosan, berakhir di tempat sampah karena tidak dihabiskan. Padahal, di dalamnya terbuka peluang ekonomi baru dengan multiplier effect yang luar biasa.

Bagi keluarga kecil yang tinggal di desa, sisa makanan bukan sesuatu yang sia-sia. Sisa makanan merupakan pakan ternak alternatif berbiaya rendah, bisa juga jadi produk pangan tradisional seperti rengginang dan kerupuk gendar, atau hal lain yang bisa diproduksi sederhana.

Di sinilah konsep ekonomi keluarga pertanian yang berlaku sirkular, dan dapat direplikasi dengan lebih massal.

Sisa makanan dari dapur SPPG dapat dikumpulkan secara sistematis dan dikelola oleh BUMDes atau koperasi desa sebagai bahan baku industri: pakan ternak, budidaya maggot, hingga pupuk mikroorganisme lokal.

Baca juga: Mubazir MBG di Piring Anak SD Jakarta

Dengan pendekatan ini, subsidi negara tidak berhenti pada konsumsi semata, tetapi berputar menjadi aktivitas ekonomi yang menciptakan nilai tambah bagi warga desa.

Skala Bahan Baku dari Masifnya Food Loss and Waste (FLW)

Pada kondisi normal, sebagian besar makanan tidak sepenuhnya habis dikonsumsi. Pemerintah serius mencegah Food Loss and Waste (FLW) atau kita kenal dengan istilah Susut dan Sisa Pangan (SSP), sesuai RPJMN 2025-2029 terdapat target persentase penyelamatan pangan sebesar 3-5 persen per tahun.

Indonesia memadukan pencapaian dua komitmen global, yakni Sustainable Development Goals (SDGs) ke-12 poin 3, yaitu mengurangi 50 persen food waste per kapita di tingkat retail dan konsumen, serta menghubungkan juga dengan target SDGs ke-2, menuju Zero Hunger di tahun 2030.

Hasil kajian Bappenas tahun 2021, potensi susut dan sisa makanan di Indonesia mencapai 23–48 juta ton per tahun, setara 115–184 kg per orang per tahun.

Jika dimanfaatkan sebagai edible food waste, jumlah ini cukup memberi makan 61–125 juta orang, atau sekitar 29–47 persen populasi Indonesia.

Sementara, jika dihitung dari MBG saat ini, setiap siswa berpotensi menyisakan 25 hingga 50 gram makanan per hari.

Jika dikonversi ke tingkat butiran, satu gram beras mengandung sekitar 50 butir nasi. Maka ketika seorang anak menyisakan 50 gram nasi, ia sebenarnya membuang sekitar 2.500 butir nasi dalam satu kali makan.

Angka ini mungkin terlihat kecil pada tingkat individu, tetapi berubah dramatis ketika dihitung dalam skala kolektif 3.000 siswa per hari.

Bayangkan jika setiap siswa menyisakan 50 gram makanan, maka setiap hari akan terkumpul sekitar 150 kilogram sisa makanan.

Dalam satu tahun operasional sekolah sekitar 200 hari, jumlahnya mencapai 30 ton. Tiga puluh ton bukan lagi sekadar sisa makan siang, ia adalah volume bahan baku industri kecil yang stabil dan dapat diprediksi.

Halaman:


Terkini Lainnya
Bank QNB Indonesia Catat Lonjakan Kredit 18 Persen, NPL Turun 2,2 Persen
Bank QNB Indonesia Catat Lonjakan Kredit 18 Persen, NPL Turun 2,2 Persen
Ekbis
Dari Buka Puasa hingga Mudik, BSI Maslahat Jangkau 145 Ribu Penerima
Dari Buka Puasa hingga Mudik, BSI Maslahat Jangkau 145 Ribu Penerima
Ekbis
RI dan Korsel Sepakati 10 Kerja Sama Strategis, Fokus Mineral hingga AI
RI dan Korsel Sepakati 10 Kerja Sama Strategis, Fokus Mineral hingga AI
Ekbis
RI Antisipasi Krisis Bahan Baku Plastik, Bidik India hingga Afrika
RI Antisipasi Krisis Bahan Baku Plastik, Bidik India hingga Afrika
Ekbis
Penjualan Turun, Laba Tahun Berjalan 2025 Indocement (INTP) Justru Naik 12 Persen
Penjualan Turun, Laba Tahun Berjalan 2025 Indocement (INTP) Justru Naik 12 Persen
Ekbis
Pakai Lahan KAI dan Angkasa Pura, Pemerintah Bangun 800 Hunian di Pusat Jakarta
Pakai Lahan KAI dan Angkasa Pura, Pemerintah Bangun 800 Hunian di Pusat Jakarta
Ekbis
Indonesia Masuk Bisnis Leasing Pesawat Global, Danantara Luncurkan Platform Baru
Indonesia Masuk Bisnis Leasing Pesawat Global, Danantara Luncurkan Platform Baru
Ekbis
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Ekbis
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Ekbis
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Ekbis
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau