
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
SELAMA ini, sebagian pihak memandang makanan yang tidak habis sebagai ”sisa” atau akhir dari proses. Wajar saja jika sisa makanan bergizi gratis (MBG) dianggap sebagai pemborosan, karena dibuang setelah kebutuhan perut terpenuhi.
Apalagi sisa makanan ini masif, paradoks awal akan menjadi dengungan: MBG pemborosan, berakhir di tempat sampah karena tidak dihabiskan. Padahal, di dalamnya terbuka peluang ekonomi baru dengan multiplier effect yang luar biasa.
Bagi keluarga kecil yang tinggal di desa, sisa makanan bukan sesuatu yang sia-sia. Sisa makanan merupakan pakan ternak alternatif berbiaya rendah, bisa juga jadi produk pangan tradisional seperti rengginang dan kerupuk gendar, atau hal lain yang bisa diproduksi sederhana.
Di sinilah konsep ekonomi keluarga pertanian yang berlaku sirkular, dan dapat direplikasi dengan lebih massal.
Sisa makanan dari dapur SPPG dapat dikumpulkan secara sistematis dan dikelola oleh BUMDes atau koperasi desa sebagai bahan baku industri: pakan ternak, budidaya maggot, hingga pupuk mikroorganisme lokal.
Baca juga: Mubazir MBG di Piring Anak SD Jakarta
Dengan pendekatan ini, subsidi negara tidak berhenti pada konsumsi semata, tetapi berputar menjadi aktivitas ekonomi yang menciptakan nilai tambah bagi warga desa.
Pada kondisi normal, sebagian besar makanan tidak sepenuhnya habis dikonsumsi. Pemerintah serius mencegah Food Loss and Waste (FLW) atau kita kenal dengan istilah Susut dan Sisa Pangan (SSP), sesuai RPJMN 2025-2029 terdapat target persentase penyelamatan pangan sebesar 3-5 persen per tahun.
Indonesia memadukan pencapaian dua komitmen global, yakni Sustainable Development Goals (SDGs) ke-12 poin 3, yaitu mengurangi 50 persen food waste per kapita di tingkat retail dan konsumen, serta menghubungkan juga dengan target SDGs ke-2, menuju Zero Hunger di tahun 2030.
Hasil kajian Bappenas tahun 2021, potensi susut dan sisa makanan di Indonesia mencapai 23–48 juta ton per tahun, setara 115–184 kg per orang per tahun.
Jika dimanfaatkan sebagai edible food waste, jumlah ini cukup memberi makan 61–125 juta orang, atau sekitar 29–47 persen populasi Indonesia.
Sementara, jika dihitung dari MBG saat ini, setiap siswa berpotensi menyisakan 25 hingga 50 gram makanan per hari.
Jika dikonversi ke tingkat butiran, satu gram beras mengandung sekitar 50 butir nasi. Maka ketika seorang anak menyisakan 50 gram nasi, ia sebenarnya membuang sekitar 2.500 butir nasi dalam satu kali makan.
Angka ini mungkin terlihat kecil pada tingkat individu, tetapi berubah dramatis ketika dihitung dalam skala kolektif 3.000 siswa per hari.
Bayangkan jika setiap siswa menyisakan 50 gram makanan, maka setiap hari akan terkumpul sekitar 150 kilogram sisa makanan.
Dalam satu tahun operasional sekolah sekitar 200 hari, jumlahnya mencapai 30 ton. Tiga puluh ton bukan lagi sekadar sisa makan siang, ia adalah volume bahan baku industri kecil yang stabil dan dapat diprediksi.