Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Survei KedaiKOPI: 85 Persen Masyarakat Berencana Mudik Lebaran dan Manfaatkan Mudik Gratis

Kompas.com, 12 Maret 2026, 18:10 WIB
Kiki Safitri,
Aprillia Ika

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Hasil Survei Pola Rencana Mudik 2026, oleh lembaga survei KedaiKOPI mencatatkan 85,1 persen atau sekitar 895 responden berencana mudik tahun ini, dan 73,2 persen di antaranya merupakan pemudik rutin tahunan.

Adapun survei rencana mudik ini dilakukan secara daring melalui kuesioner yang disebarkan di internet terhadap 1.053 Warga Negara Indonesia berusia 17-55 tahun pada 26 Februari hingga 7 Maret 2026.

“Kenapa sih responden itu melakukan mudik? Ternyata memang alasannya adalah kembali ke kampung halaman, di mana berkumpul dengan orang tua, keluarga, itu menjadi alasan yang cukup konsisten bagi hampir semua responden,” kata Head of Researcher Lembaga Survei KedaiKOPI Ashma Nur Afifah secara virtual, Kamis (12/3/2026).

Ashma menjelaskan, sekitar 15 persen responden memilih untuk tidak mudik ke kampung halaman tahun ini. Alasannya pun beragam, mulai dari faktor ekonomi (42 persen) hingga ingin berlibur di tempat lain (16,6 persen).


“Untuk alasan kenapa orang tidak melakukan mudik sebesar 15 persen kurang itu didorong utamanya adalah karena ketidakstabilan ekonomi rumah tangga yang di mana mereka tidak mampu secara ekonomi untuk melakukan mudik, yang kedua adalah memang tidak mempunyai kampung halaman atau sudah tinggal dan besar di daerah domisili yang sekarang,” ujar Ashma.

Baca juga: Mudik Gratis 2026 TNI AL Tersedia 1.000 Kuota, Ini Rute, Jadwal Keberangkatan, dan Syarat Daftar

Ashma menjelaskan, ketertarikan terhadap program mudik gratis juga besar, di mana sekitar 53,3 persen responden berminat untuk mengikuti mudik gratis.

“Walau memang baru 8,9 persen yang mendapatkan kuota tiketnya, yang udah secure tiketnya, sedangkan 44,4 persen itu masih mencari lagi, masih menunggu kuota mudik gratis,” ujarnya.

Ashma melihat minat masyarakat terhadap program mudik gratis pun melonjak dari tahun lalu. Diketahui, survei KedaiKOPI pada tahun 2025 mencatat hanya 39 persen masyarakat yang berminat ikut program mudik gratis.

“Terdapat 10 persen lebih kenaikan orang yang berminat ikut mudik gratis tahun ini, karena banyak yang ingin ikut maka saran dari orang-orang yang ingin ikut mudik gratis pun adalah memperbanyak kembali armada diberangkatkan untuk mudik gratis dan juga permudah proses pendaftaran serta calo harus dihilangkan,” kata Ashma.

Baca juga: InJourney Siapkan 16.000 Personil, Antisipasi 9 Juta Penumpang Selama Arus Mudik Lebaran 2026

Soal transportasi, Ashma menjelaskan 57,3 persen responden memilih moda umum, yang di mana setengahnya lewat bus, travel, atau shuttle (56,3 persen). Ia pun menyoroti pengguna kendaraan pribadi (33 persen) terbagi hampir merata antara mobil (48 persen) dan motor (52 persen).

Survei juga memotret sebanyak 65,8 persen responden setuju kalau sepeda motor dilarang untuk menjadi moda transportasi antar provinsi atau mudik. Padahal, sebagian kecil responden menilai sepeda motor masih menjadi favorit oleh pemudik karena waktu tempuh yang cepat dan bisa menghindari kemacetan.

“Yang setuju akan larangan sepeda motor itu banyak datangnya dari pengguna non-sepeda motor, ada mobil, pesawat, dan sebagainya, terutama yang pengguna kapal laut, paling banyak 79,1 persen,” katanya.

Dari sisi anggaran, survei KedaiKOPI menangkap bahwa 79,6 persen responden menyiapkan dana khusus mudik dengan rata-rata Rp3,4 juta.

“Jadi mudik ini bukan sesuatu yang impulsif, tapi memang sudah direncanakan sehingga dibutuhkan anggaran khusus.” kata Ashma.

Baca juga: Salah Satu Penyebab Harga Tiket Mahal, InJourney Airports: Indonesia Kekurangan Pesawat

Halaman:


Terkini Lainnya
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
 KKP Percepat Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
KKP Percepat Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
Ekbis
KA Ciremai Terdampak Longsor di Maswati–Sasaksaat, Seluruh Penumpang Selamat
KA Ciremai Terdampak Longsor di Maswati–Sasaksaat, Seluruh Penumpang Selamat
Ekbis
Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP
Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP
Ekbis
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau