Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Henry MP Siahaan
Advokat, Peneliti, dan Dosen

Advokat, peneliti, dan dosen

Krisis Hormuz dan Ujian Kerentanan Ketahanan Pangan Nasional

Kompas.com, 17 Maret 2026, 08:45 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

KONDISI ketahanan pangan Indonesia sampai Maret 2026, masih perlu mendapatkan banyak asupan pertanyaan kritis.

Narasi swasembada yang dipromosikan pemerintah tidak hanya dihadapkan pada masalah struktural dalam negeri, tapi juga harus dibenturkan dengan realitas pahit krisis geopolitik di Selat Hormuz.

Jika dikaji secara mendalam, sejatinya struktur pangan nasional sudah lama mengalami fenomena "kerapuhan tersembunyi" (hidden fragility).

Di satu sisi, angka statistik menampilkan optimisme surplus dan rekor produksi. Namun di sisi lain, fundamen kedaulatan pangan Indonesia tetap bersandar pada input global yang sangat rentan terhadap guncangan eksternal.

Memasuki kuartal pertama 2026, klaim mengenai capaian swasembada beras secara konsisten didasarkan pada data produksi tahun 2025 yang mencapai 34,71 juta ton hingga 34,77 juta ton, meningkat sekitar 13 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Namun, dari perspektif ekonomi politik, angka surplus ini layak diuji melalui teori "bantalan impor". Setidaknya tesis Prebisch-Singer pada bantalan impor menekankan bahwa ketidakseimbangan impor negara maju dengan negara berkembang.

Stok beras nasional yang tinggi di awal 2026 sebenarnya didorong oleh kebijakan impor terbesar dalam 25 tahun terakhir, yakni 3,06 juta ton pada 2023 dan melonjak drastis menjadi 4,52 juta ton pada 2024.

Impor masif tersebut dilakukan untuk mengamankan stok menjelang siklus politik dan penyaluran bantuan sosial pangan yang masif. Dan ternyata mendongkrak stok di tahun 2025, bahkan sampai tahun 2026 karena bertemu dengan masa panen yang berjalan baik di tahun 2025.

Baca juga: Krisis Minyak 1973 dan 2026, Apakah Amerika Kembali Mencekik Kelas Menengahnya?

Paradoks serupa terjadi pada industri minyak goreng. Sebagai produsen CPO terbesar dunia dengan produksi 51,66 juta ton pada 2025, Indonesia justru gagal menjamin harga minyak goreng yang terjangkau bagi rakyat.

Harga Minyakita di tingkat domestik terus mengalami tekanan, bahkan menembus Rp 17.000 hingga Rp 18.000 per liter di berbagai wilayah, jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp 15.700 per liter.

Kegagalan stabilisasi ini berakar pada struktur pasar yang oligopolistik dan ketergantungan harga domestik pada volatilitas pasar global yang kemungkinan dipicu oleh permintaan biofuel (B40) dan fluktuasi harga energi.

Di luar beras dan minyak goreng, potret ketahanan pangan menunjukkan ketergantungan impor yang mengkhawatirkan pada komoditas strategis lainnya.

Untuk tahun 2026, kuota impor gula bahan baku industri telah ditetapkan sebesar 3,12 juta ton, sementara garam industri sebesar 1,18 juta ton.

Selain itu, ketergantungan pada gandum bersifat absolut dengan volume impor mencapai 9,30 miliar kilogram pada 2025.

Struktur konsumsi masyarakat yang bergeser ke pangan berbasis terigu menjadikan kedaulatan pangan Indonesia sangat rentan terhadap gangguan rantai pasok global.

Fondasi Kerentanan

Klaim swasembada yang sering didengungkan pemerintah sebenarnya berpotensi kehilangan legitimasinya ketika dihadapkan pada biaya produksi yang terus membengkak.

Komoditas hortikultura seperti bawang merah dan cabai sering kali menjadi penyumbang utama inflasi pangan (volatile food).

Meskipun pada awal 2026 terjadi deflasi sebesar 0,15 persen yang dipicu oleh panen melimpah di sentra produksi seperti Brebes dan Nganjuk, harga di tingkat petani justru anjlok hingga Rp 22.000-Rp 28.000 per kilogram.

Baca juga: Utang Luar Negeri Indonesia Rp 7.389 Triliun: Mengapa Kita Selalu Panik?

Fenomena ini mencerminkan lemahnya sistem manajemen stok dan infrastruktur penyimpanan (cold storage) nasional. Petani selalu menjadi korban saat panen raya karena harga anjlok, sementara konsumen menderita saat kelangkaan terjadi di luar musim tanam.

Ketahanan pangan Indonesia saat ini juga berdiri di atas fondasi yang rapuh karena sangat bergantung pada input energi dan bahan baku pupuk global.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
 KKP Percepat Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
KKP Percepat Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
Ekbis
KA Ciremai Terdampak Longsor di Maswati–Sasaksaat, Seluruh Penumpang Selamat
KA Ciremai Terdampak Longsor di Maswati–Sasaksaat, Seluruh Penumpang Selamat
Ekbis
Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP
Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP
Ekbis
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau