SURABAYA, KOMPAS.com — Konsumsi masyarakat biasanya meningkat menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Masyarakat membeli berbagai kebutuhan seperti pakaian baru, kue kering, hingga perlengkapan mudik.
Tradisi halalbihalal, reuni, dan silaturahmi keluarga juga mendorong pengeluaran lebih besar dibanding hari biasa.
Baca juga: Fitur Pocket Rupiah BCA Diminati 40.000 Pengguna, Bantu Kelola Keuangan
Pakar Ekonomi Universitas Airlangga Tika Widiastuti menilai peningkatan konsumsi tersebut merupakan hal yang wajar.
Menurut dia, berbagai aktivitas khas Lebaran membuat kebutuhan masyarakat ikut meningkat.
Kegiatan seperti mudik, halal bihalal, hingga menyiapkan hidangan untuk tamu mendorong pengeluaran tambahan.
“Konsumsi tidak selalu bersifat konsumtif. Kalau dari perspektif ekonomi, perilaku konsumtif terjadi ketika seseorang membeli sesuatu bukan berdasarkan kebutuhan, melainkan keinginan. Biasanya hal ini dipengaruhi oleh tren, keinginan untuk meningkatkan status sosial, atau sekadar mengikuti ajakan lingkungan,” jelasnya, Rabu (18/3/2026).
Tika menyebut kesalahan yang sering terjadi menjelang Lebaran adalah tidak memprioritaskan kebutuhan utama.
Masyarakat cenderung langsung memenuhi berbagai kebutuhan tanpa menyusun prioritas.
Ia menjelaskan dalam prinsip ekonomi Islam, kebutuhan terbagi menjadi tiga tingkat.
Baca juga: Tips Atur THR agar Tidak Boncos Saat Lebaran
Kebutuhan tersebut meliputi dharuriyah atau kebutuhan pokok, hajiyah atau kebutuhan penunjang, dan tahsiniyah atau kebutuhan pelengkap.
Menurut dia, banyak orang justru lebih fokus pada pemenuhan keinginan.
“Karena, yang disebut keinginan itu apabila itu dipenuhi sebenarnya biaya yang dikeluarkan itu tidak sebanding dengan benefitnya,” ujarnya.