Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com - Pasar keuangan tidak hanya soal membaca arah harga. Di balik potensi keuntungan yang diharapkan trader, terdapat sejumlah faktor yang kerap luput dari perhatian, salah satunya adalah biaya tersembunyi yang dapat memengaruhi hasil akhir trading.
Selama ini, banyak trader berfokus pada analisis tren, arah pergerakan harga, serta level-level kunci untuk menyusun strategi dan manajemen risiko. Asumsinya, selama arah prediksi tepat, maka keuntungan akan mengikuti.
Namun dalam praktiknya, hasil trading dipengaruhi oleh lebih banyak variabel.
Baca juga: Disiplin dan Strategi Jangka Panjang Kunci Trader Hadapi Volatilitas Pasar
Ilustrasi investor, investasi saham, investor saham.Setiap transaksi memiliki biaya yang tidak selalu terlihat secara langsung. Mulai dari spread, komisi, kecepatan eksekusi, hingga slippage, seluruhnya berpotensi berdampak pada hasil akhir.
Dalam jangka panjang, faktor-faktor ini bahkan dapat menentukan apakah sebuah strategi tetap efektif atau justru kehilangan keunggulannya.
Client Relationship Manager JustMarkets, Bilal Sharqawi, menegaskan pentingnya memahami komponen biaya tersebut. Menurut dia, trader yang ingin konsisten harus mampu mengidentifikasi dan memperhitungkan seluruh komponen biaya, termasuk yang tidak kasat mata.
“Banyak trader hanya fokus pada biaya yang terlihat seperti komisi dan spread. Padahal, ada faktor lain yang lebih besar pengaruhnya, terutama dari sisi eksekusi dan kondisi pasar,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (19/3/2026).
Baca juga: Bitcoin Anjlok 30 Persen, Banyak Trader yang Terjebak di Posisi Rugi
Ilustrasi investor.Umumnya, trader hanya menghitung biaya yang bersifat transparan seperti komisi, spread, swap atau biaya menginap, serta biaya pembiayaan. Komponen biaya ini relatif mudah dipahami dan dibandingkan antar broker.
Namun dalam praktiknya, biaya terbesar sering muncul dari dinamika pasar secara real time.
Ketika volatilitas meningkat atau likuiditas menurun, spread dapat melebar, proses eksekusi order melambat, dan harga transaksi berpotensi berbeda dari yang direncanakan sebelumnya.
Kondisi tersebut dikenal sebagai slippage, yakni selisih antara harga yang diharapkan dengan harga aktual saat order dieksekusi. Meski tampak kecil dalam satu transaksi, dampaknya dapat menjadi signifikan apabila terjadi berulang kali.
Baca juga: Transaksi Derivatif Kripto RI Tembus Rp 73,8 T, Perlindungan Trader Jadi Kunci
Selain itu, pada momen rilis data ekonomi atau saat pembukaan pasar, pergerakan harga yang cepat juga dapat menyebabkan order seperti stop loss dan take profit tereksekusi jauh dari level yang telah ditentukan trader.
Bilal menilai, strategi trading jarang gagal hanya karena satu transaksi. Kegagalan justru kerap dipicu oleh akumulasi inefisiensi kecil yang terus terjadi dalam waktu lama.
“Sedikit slippage, spread yang melebar, atau entry yang kurang optimal bisa mengubah hasil secara signifikan dalam jangka panjang,” jelasnya.