Penulis
KOMPAS.com - Pemerintah Amerika Serikat (AS) membuka kembali akses minyak Iran ke pasar global, tetapi hanya untuk waktu terbatas. Kebijakan ini berlaku sekitar 30 hari dan difokuskan pada minyak yang sudah berada di laut.
Melalui otorisasi Departemen Keuangan AS, minyak mentah Iran yang telah dimuat ke kapal sebelum 20 Maret 2026 kini boleh dijual, dikirim, dan dibongkar hingga 19 April 2026.
Langkah ini diperkirakan dapat membuka akses sekitar 130 juta hingga 140 juta barel minyak ke pasar global, tambahan pasokan yang diharapkan bisa meredakan lonjakan harga energi.
Baca juga: Trump Ultimatum Iran, Harus Buka Selat Hormuz dalam 48 Jam
Dikutip dari Reuters, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kebijakan tersebut ditujukan sebagai solusi cepat untuk menambah suplai energi dunia.
“Pada dasarnya, kita memanfaatkan minyak Iran untuk menekan harga, sambil tetap melanjutkan operasi militer,” ujarnya.
Kebijakan ini muncul di tengah lonjakan tajam harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.
Dalam beberapa pekan terakhir, harga minyak naik lebih dari 50 persen hingga menembus 100 dollar AS per barel, tertinggi sejak 2022.
Lonjakan ini dipicu gangguan pada infrastruktur energi dan jalur distribusi utama, terutama Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas global.
Gangguan di jalur tersebut membuat pasokan tersendat dan memicu kekhawatiran krisis energi yang lebih luas.
Baca juga: Trump Ancam Caplok Pulau Minyak Kharg, Desak Iran Buka Selat Hormuz
Meski keran pasokan dibuka, realisasi penjualan minyak Iran belum tentu berjalan mulus.
AS tetap membatasi akses Iran ke sistem keuangan internasional. Artinya, pembayaran atas penjualan minyak masih sulit dilakukan, sehingga mengurangi daya tarik transaksi bagi pembeli.
Sejumlah analis menilai, tanpa mekanisme pembayaran yang jelas, kebijakan ini hanya akan berdampak terbatas pada peningkatan ekspor secara nyata.
Ilustrasi kapal tanker. Pemerintah Amerika Serikat (AS) membuka kembali akses minyak Iran ke pasar global, tetapi hanya untuk waktu terbatas. Kebijakan ini berlaku sekitar 30 hari dan difokuskan pada minyak yang sudah berada di laut.Di tengah keterbatasan itu, pelonggaran sanksi langsung menarik perhatian pasar, terutama di Asia.
Sejumlah kilang di India dan negara Asia lainnya mulai mengevaluasi kemungkinan kembali membeli minyak Iran untuk mengatasi pasokan yang menipis.
Baca juga: Harga Emas Dunia Tersungkur di Tengah Konflik Iran, Ini Penyebabnya
Asia sendiri sangat bergantung pada minyak Timur Tengah, dengan sekitar 60 persen kebutuhannya dipenuhi dari kawasan tersebut.