Editor
KOMPAS.com — Sejumlah investor mulai memburu saham SpaceX sebelum perusahaan milik Elon Musk itu melantai di bursa.
Minat tinggi dipicu potensi keuntungan besar, tetapi risiko meningkat karena transaksi berlangsung di pasar yang tidak transparan.
Pengusaha Tejpaul Bhatia menjadi salah satu investor yang masuk lebih awal. Ia mengaku memiliki sebagian saham SpaceX, tetapi tidak dapat memastikan kepemilikannya secara penuh.
“Saya harap saya tidak tertipu,” kata Bhatia.
“Saya rasa tidak, tetapi sekali lagi, tidak ada cara untuk mengetahuinya,” sambungnya.
Baca juga: Elon Musk Makin Dekat Jadi Triliuner Pertama Dunia, Roket SpaceX Jadi Penopang Kekayaan
Bhatia mulai masuk ke industri antariksa pada 2021 saat valuasi SpaceX sekitar 75 miliar dollar AS atau sekitar Rp1.266 triliun.
Akses langsung ke saham sulit karena kepemilikan didominasi investor awal dan institusi dekat Elon Musk.
Ia kemudian membeli saham melalui pasar sekunder. Pasar ini mempertemukan investor dengan broker yang menjual saham perusahaan privat.
SpaceX kini disebut bersiap melakukan penawaran umum perdana atau initial public offering dengan valuasi mendekati 1,75 triliun dollar AS atau sekitar Rp29.559 triliun.
“Ini adalah peluang IPO terpanas dalam sejarah,” ujar Bhatia.
Baca juga: Ambisi Baru Elon Musk, Siapkan Terafab untuk Produksi Chip AI
Transaksi di pasar sekunder sering menggunakan special purpose vehicle atau SPV, kendaraan investasi yang mengumpulkan dana untuk membeli hak atas saham di masa depan.
Struktur ini membuat investor tidak selalu memiliki saham langsung di perusahaan.
“Anda bergantung pada pihak lawan dalam transaksi ini dan reputasi mereka,” kata Mitchell Littman. “Setiap kali ada kehebohan seputar hal-hal seperti ini, para penipu pasti akan muncul karena mereka mencium peluang.”
Permintaan tinggi membuat struktur investasi semakin rumit. Saham dapat berpindah melalui beberapa perantara, masing-masing mengambil biaya.
“Situasinya menjadi agak longgar,” kata Namek Zu’bi.
Zu’bi memilih tidak membeli saham SpaceX karena khawatir penipuan.
“Banyak orang akan menghasilkan banyak uang,” ujarnya. “Tetapi Anda juga akan menemukan banyak orang yang terkejut atau kaget” karena mereka tidak memiliki saham apa pun.
Investor sering hanya melihat entitas di atas mereka dalam struktur tersebut. Mereka tidak dapat memastikan apakah saham di tingkat atas benar-benar ada.
“Itu tidak cukup untuk memastikan saham tersebut benar-benar ada,” kata seorang eksekutif industri pasar sekunder.