JAKARTA, KOMPAS.com – Peralihan penggunaan kendaraan listrik dan kompor listrik bisa menjadi langkah strategis untuk menekan konsumsi energi berbasis impor, baik bahan bakar minyak (BBM) maupun elpiji.
Chief Executive Officer (CEO) Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan, pada sektor transportasi misalnya, peralihan satu juta mobil berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik diperkirakan mampu mengurangi kebutuhan minyak mentah dalam jumlah signifikan.
"Penggantian satu juta mobil listrik dapat mengurangi kebutuhan minyak mentah hingga 13,2 juta barrel per tahun,” ujar Fabby dalam keterangan resmi.
Baca juga: Permintaan Minyak Rusia Melonjak di Tengah Krisis Energi Global
Ilustrasi kendaraan listrikSementara pada sektor rumah tangga, ia menyebut, penggunaan kompor listrik juga dinilai efektif menekan konsumsi elpiji.
Bagi rumah tangga mampu, kompor listrik bahkan lebih ekonomis dibandingkan elpiji nonsubsidi, sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor energi.
“Jika rumah tangga mulai menggunakan kompor induksi, penghematan elpiji bisa mencapai lebih dari 130 ton per tahun,” tambah Fabby.
Urgensi elektrifikasi tersebut, menurut dia, semakin terasa karena tingginya sensitivitas fiskal Indonesia terhadap gejolak geopolitik global, seperti konflik di Timur Tengah.
Baca juga: Filipina Umumkan Darurat Energi, Bangladesh Krisis BBM, Korsel Aktifkan Mode Siaga
“Setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dollar AS per barrel dapat menambah beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Rp 6,7 triliun,” kata dia.
Selain itu, ia berpandangan, elektrifikasi juga berperan dalam menekan subsidi energi yang terus meningkat.
Sedikit catatan, pada 2025, subsidi energi tercatat sebesar Rp 203,4 triliun dan diproyeksikan naik menjadi Rp 210,1 triliun pada 2026.
“Elektrifikasi transportasi dan rumah tangga menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan impor energi sekaligus menekan beban subsidi,” tutup dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang