JAKARTA, KOMPAS.com - Harga minyak dunia melemah pada Jumat (27/3/2026) waktu setempat, setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Iran telah mengizinkan 10 kapal tanker minyak melintas di Selat Hormuz sebagai “hadiah” bagi AS.
Pernyataan ini memberi sinyal meredanya ketegangan di jalur pelayaran energi paling vital di dunia tersebut.
Harga minyak mentah Brent turun 0,6 persen menjadi 107,36 dollar AS per barrel, sementara harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 0,8 persen ke level 93,72 dollar AS per barrel.
Baca juga: Trump Tunda Serangan ke Fasilitas Energi Iran, Harga Minyak Tertahan
Ilustrasi harga minyak dunia.Dalam rapat kabinet pada Kamis, Trump menyebut langkah Iran itu sebagai bentuk iktikad baik di tengah proses diplomasi yang masih berlangsung.
“Mereka bilang, ‘untuk menunjukkan bahwa kami serius dan solid, kami akan membiarkan delapan kapal minyak berlayar,’” ujar Trump, merujuk pada pernyataan pihak Iran, mengutip CNBC.
Dalam kesempatan itu, Trump juga mengatakan bahwa jumlah kapal yang diizinkan akhirnya bertambah.
“Mereka kemudian meminta maaf dan mengatakan akan mengirim dua kapal lagi. Jadi totalnya menjadi 10 kapal,” katanya.
Baca juga: Prabowo Soroti Lonjakan Harga Minyak, Purbaya Pastikan APBN Aman
Pernyataan ini memperjelas komentar Trump sebelumnya yang menyebut Iran telah memberikan hadiah terkait minyak dan gas, tanpa merinci lebih lanjut.
Pasar global sendiri terus mencermati perkembangan di Selat Hormuz, mengingat jalur ini merupakan arteri utama distribusi minyak dunia.
Setiap tanda gangguan atau meredanya ketegangan sangat memengaruhi pergerakan harga energi.
Ilustrasi Selat Hormuz.Komentar Trump mengindikasikan bahwa sebagian pengiriman minyak masih dapat berlangsung, sehingga membantu meredakan kekhawatiran pasokan dalam jangka pendek.
Baca juga: Trump Klaim Iran Izinkan 10 Kapal Minyak sebagai “Hadiah” untuk AS
Meski demikian, para analis mengingatkan bahwa kondisi pasar minyak global tetap rapuh.
“Pasar minyak tidak bereaksi berlebihan terhadap gangguan di Selat Hormuz. Mereka mampu menyerapnya,” ujar Kepala Analis Minyak Rystad Energy, Paola Rodriguez-Masiu.
“Namun fase tersebut kini mulai berakhir,” tambah Paola Rodriguez-Masiu.
Menurutnya, selama hampir empat pekan terakhir pasar masih ditopang oleh kelebihan pasokan sebelum perang, cadangan minyak di laut, serta intervensi kebijakan.
Baca juga: Harga Minyak Melonjak Hampir 6 Persen, Kekhawatiran Eskalasi Timur Tengah Meningkat
Namun kini, bantalan tersebut mulai menipis.
Rystad memperkirakan sekitar 17,8 juta barrel minyak dan bahan bakar per hari terdampak gangguan di Selat Hormuz, dengan total kehilangan pasokan mendekati 500 juta barrel sejauh ini.
Kondisi ini membuat pasar global semakin rentan terhadap gejolak baru.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang