Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
DALAM beberapa tahun terakhir, pemerintah Indonesia menunjukkan komitmen yang semakin kuat dalam mendorong lahirnya wirausaha baru, khususnya dari kalangan generasi muda.
Berbagai program digulirkan secara masif, mulai dari tingkat sekolah menengah hingga perguruan tinggi.
Di tingkat SMA/SMK, hadir FIKSI (Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia) yang menjadi wadah bagi siswa untuk mengembangkan ide bisnis dan inovasi.
Setiap tahun FIKSI bahkan diselenggarakan dalam skala nasional melalui expo di Smesco Convention Hall, menampilkan karya dan ide bisnis dari berbagai daerah di Indonesia.
Di tingkat perguruan tinggi, pemerintah melalui Direktorat Belmawa Diktisaintek membuat P2MW (Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha) yang secara eksplisit bertujuan mendorong kampus membangun ekosistem kewirausahaan sekaligus mencetak mahasiswa menjadi pelaku usaha.
Dari survei tiap tahunnya, program ini berhasil menjangkau lebih dari 5000 mahasiswa dan melibatkan lebih dari 500 kampus.
Sekitar 90 persen peserta menyatakan bahwa program ini memberikan manfaat signifikan, terutama dalam hal pengalaman langsung menjalankan usaha, meningkatkan ketangguhan, dan kemampuan problem solving.
Jika dilihat secara keseluruhan, upaya ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam membangun fondasi kewirausahaan nasional.
Baca juga: Paradoks di Peron 7 Stasiun Bekasi: Buruh Digital Tanpa Bayaran adalah Kita
Ribuan peserta terlibat, ide bisnis bermunculan, dan berbagai ajang expo serta kompetisi menjadi ruang aktualisasi bagi generasi muda.
Namun, di balik geliat tersebut, muncul pertanyaan yang semakin sering terdengar: apakah program-program ini benar-benar menghasilkan wirausaha yang bertahan?
Salah satu tantangan terbesar dalam program kewirausahaan adalah keberlanjutan. Data terbaru menunjukkan bahwa meskipun banyak peserta merasakan manfaat selama program berlangsung, belum ada informasi yang jelas mengenai berapa banyak usaha yang tetap berjalan setelah program selesai.
Dalam P2MW, misalnya, laporan resmi lebih menekankan pada peningkatan pengalaman belajar dan pengembangan karakter kewirausahaan, seperti ketangguhan dan kemampuan problem solving.
Namun, data mengenai survival rate usaha pasca-program tidak banyak dipublikasikan.
Hal yang sama ada di program lain serupa. Pemerintah menampilkan beberapa kisah sukses alumni yang berhasil mengembangkan usaha dengan omzet stabil, bahkan mencapai jutaan rupiah per bulan.
Ini tentu menjadi bukti bahwa program dapat memberikan dampak nyata. Namun, kisah tersebut masih bersifat individual, belum mencerminkan gambaran keseluruhan peserta.
Ketiadaan data dan informasi ini menjadi indikator penting bahwa fokus program masih cenderung pada aktivitas dan output jangka pendek, seperti jumlah peserta, jumlah proposal, atau jumlah pemenang lomba, bukan pada outcome jangka panjang berupa bisnis yang bertahan dan berkembang.
Akibatnya, kita melihat fenomena berulang: banyak ide lahir, tetapi hanya sedikit yang benar-benar tumbuh menjadi usaha yang berkelanjutan.
Kondisi ini memunculkan kritik yang tidak bisa diabaikan: apakah pemerintah sedang mengalokasikan anggaran besar untuk program yang dampaknya belum optimal?
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya