JAKARTA, KOMPAS.com - Kemacetan di gerbang tol saat arus mudik dan arus balik Lebaran 2026 kembali mendapat perhatian, menyusul adanya 21.000 kendaraan yang mengalami kekurangan saldo e-toll di gerbang tol.
Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk, Rivan A. Purwantono, mengatakan ada 21.000 kendaraan kekurangan saldo e-toll di Gerbang Tol (GT) Kalikangkung.
Kondisi saldo e-toll yang tidak mencukupi membuat banyak pengendara harus melakukan top up di gerbang tol, sehingga waktu layanan menjadi lebih lama dari biasanya.
Proses tambahan ini menyebabkan penundaan yang signifikan, yang pada akhirnya memicu terbentuknya antrean panjang kendaraan di pintu tol, terutama saat volume lalu lintas meningkat seperti pada periode mudik dan arus balik.
“Dengan saldo e-toll kurang yang berdampak pada tingginya aktivitas top up di gerbang tol, maka akan mengakibatkan waktu penundaan yang cukup signifikan dan mengakibatkan antrean di gerbang tol,” ujar Rivan lewat keterangan pers Sabtu (28/3/2026).
Baca juga: 21.000 Kendaraan Kurang Saldo E-Toll, Jasa Marga Minta Saldo Disiapkan Sejak Awal
Jumlah kendaraan merupakan 4,9 persen dari total 442.000 kendaraan yang melakukan transaksi di GT Kalikangkung pada periode yang sama.
Data tersebut merupakan hasil evaluasi H-10 sampai dengan H+1 libur Hari Raya Idul Fitri 2026 atau periode 11-22 Maret 2026.
Permasalahan tersebut juga berpotensi terjadi saat arus balik Lebaran tahun ini. Karena itu, Jasa Marga mengimbau pengguna jalan untuk mengantisipasi perjalanan arus balik dengan memastikan kecukupan saldo e-toll, sebelum memasuki jalan tol untuk menghindari antrean kendaraan dan menjaga kelancaran arus lalu lintas.
Kurangnya saldo e-toll dari pengendara saat mudik dan balik Lebaran seringkali menyebabkan kemacetan di gerbang tol hingga berpuluh kilometer. Teknologi Multi LaneFree Flow (MLFF) dinilai bisa menjadi solusi.
Baca juga: Arus Balik, Kemenhub Berlakukan One Way hingga KM 70 Tol Trans Jawa
Pengamat transportasi dari Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan (PKTJ) Tegal, Anton Budiharjo, mengatakan teknologi MLFF dapat mengatasi kemacetan akibat antrean top up e-money di gerbang tol. MLFF atau teknologi toll nirhenti nirsentuh itu dapat menghilangkan transaksi di tol gate atau pintu tol.
“Pada sistem konvensional yang berbasis kartu seperti saat ini menggunakan e-toll, kita harus berhenti tap in untuk melakukan transaksi. Sehingga setiap kendaraan memerlukan waktu layanan kurang lebih 4-5 detik dan akan meningkat drastis jika terjadi saldo kurang,“ ucap Anton.
Permasalahan saldo e-money yang tidak mencukupi ini seringkali memicu intervensi petugas jalan tol untuk membantu top up. Akibatnya variabilitas waktu layanan ini menjadi penyebab utama terbentuknya antrean panjang.
Menurutnya, teknologi MLFF mengubah mekanisme tap in dengan menerapkan sistem pembayaran nirsentuh dan nir henti. Jadi kendaraan dapat melaju bebas (free flow) tanpa ada hambatan seperti pada metode pembayaran tap in dengan menggunakan e-money.
Baca juga: Sistem MLFF Belum Sempurna, Gagal Tangkap Data Kendaraan secara Akurat