Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ketika Makanan Sehat Jadi Barang Mahal di Negeri Sendiri, Pangan Fortifikasi Jadi Harapan

Kompas.com, 30 Maret 2026, 20:17 WIB
Elsa Catriana,
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - “Aku anak sehat, tubuhku kuat. Karena ibuku rajin dan cermat. Semasa aku bayi, selalu diberi ASI, makanan bergizi dan imunisasi…

Lirik ini terdengar indah, tapi belum jadi kenyataan bagi banyak anak Indonesia. Faktanya, masih banyak yang belum mendapatkan makanan bergizi. Bahkan, makan setiap hari pun belum tentu berarti gizinya cukup.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2024, angka prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan di Indonesia masih berada di angka 8,53 persen.

Baca juga: Perpadi Mau Produksi Beras Fortifikasi, Bantu Atasi Stunting dan Kurang Gizi

Ilustrasi makanan bernutrisi. Latihan keras tanpa gizi seimbang tak akan maksimal. Ahli nutrisi olahraga ungkap peran karbohidrat, protein, lemak sehat, hidrasi, dan pemulihan untuk capai target kebugaran.Freepik/Master1305 Ilustrasi makanan bernutrisi. Latihan keras tanpa gizi seimbang tak akan maksimal. Ahli nutrisi olahraga ungkap peran karbohidrat, protein, lemak sehat, hidrasi, dan pemulihan untuk capai target kebugaran.

Angka tersebut menunjukkan banyak anak di Indonesia yang masih kurang asupan gizi yang memadai, baik dari segi jumlah maupun kualitas.

Di kota-kota besar, masih banyak anak yang ditemukan mengalami gizi buruk.

Teranyar adalah Medan. Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas mengungkapkan temuan kasus gizi buruk yang menimpa seorang anak di Kecamatan Medan Denai.

Rico menyatakan bahwa temuan ini merupakan persoalan serius yang seharusnya tidak terjadi di kota besar seperti Medan.

Baca juga: Luncurkan Kampanye Gizi Anak Diluncurkan, BGN Soroti Dampak Ekonomi MBG

"Ada keluarga punya problem yang sejatinya tidak boleh terjadi di kota besar seperti kita ini. Apa itu, anak gizi buruk. Kalau ini tidak bisa ditoleransi," ujar Rico di hadapan ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) saat memimpin apel bersama pasca-Idul Fitri 1447 Hijriah di halaman Kantor Wali Kota Medan, Rabu (25/3/2026).

Selain Medan, kawasan yang sering disorot akan terjadinya gizi buruk adalah Agats, Kabupaten Asmat, Papua Selatan.

Jika melihat ke belakang, sepanjang Januari hingga Juni dilaporkan 508 anak menderita gizi buruk dan 2.221 anak menderita gizi kurang di Provinsi Papua.

Anak Kurang Gizi, Apa yang Harus Dilakukan Orangtua?FREEPIK Anak Kurang Gizi, Apa yang Harus Dilakukan Orangtua?

Mereka tersebar di 18 kabupaten dan 1 kota. tercatat kasus gizi buruk tertinggi berada di Nabire dengan 125 kasus, Merauke 124 kasus, dan Intan Jaya 105 kasus.

Baca juga: 5 Sorotan Pidato Kenegaraan Prabowo: dari Gizi Anak, Pengangguran Turun hingga Perang Lawan Tambang Ilegal

Padahal, Papua merupakan kota yang memiliki kekayaan sumber daya alamnya yang terbilang tinggi.

Hal yang juga jarang disorot adalah kelaparan tersembunyi atau hidden hunger. Kelaparan tersembunyi adalah kondisi yang disebabkan karena kekurangan gizi karena kurangnya asupan vitamin dan mineral.

Dampak dari terjaidnya hidden hunger ini sendiri adalah bisa membuat berat badan kurang hingga angka kematian lebih tinggi untuk bayi. 

Sementara itu, untuk anak-anak bisa menyebbakn stunting, dna lanjut usia bisa meningkatkan risiko morbiditas dan kematian.

Baca juga: Atasi Masalah Stunting, Program Bulog Peduli Gizi Sasar Balita di Desa Karangdawa

Halaman:


Terkini Lainnya
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
 KKP Percepat Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
KKP Percepat Pembangunan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
Ekbis
KA Ciremai Terdampak Longsor di Maswati–Sasaksaat, Seluruh Penumpang Selamat
KA Ciremai Terdampak Longsor di Maswati–Sasaksaat, Seluruh Penumpang Selamat
Ekbis
Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP
Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP
Ekbis
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau