JAKARTA, KOMPAS.com - “Aku anak sehat, tubuhku kuat. Karena ibuku rajin dan cermat. Semasa aku bayi, selalu diberi ASI, makanan bergizi dan imunisasi…”
Lirik ini terdengar indah, tapi belum jadi kenyataan bagi banyak anak Indonesia. Faktanya, masih banyak yang belum mendapatkan makanan bergizi. Bahkan, makan setiap hari pun belum tentu berarti gizinya cukup.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2024, angka prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan di Indonesia masih berada di angka 8,53 persen.
Baca juga: Perpadi Mau Produksi Beras Fortifikasi, Bantu Atasi Stunting dan Kurang Gizi
Ilustrasi makanan bernutrisi. Latihan keras tanpa gizi seimbang tak akan maksimal. Ahli nutrisi olahraga ungkap peran karbohidrat, protein, lemak sehat, hidrasi, dan pemulihan untuk capai target kebugaran.Angka tersebut menunjukkan banyak anak di Indonesia yang masih kurang asupan gizi yang memadai, baik dari segi jumlah maupun kualitas.
Di kota-kota besar, masih banyak anak yang ditemukan mengalami gizi buruk.
Teranyar adalah Medan. Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas mengungkapkan temuan kasus gizi buruk yang menimpa seorang anak di Kecamatan Medan Denai.
Rico menyatakan bahwa temuan ini merupakan persoalan serius yang seharusnya tidak terjadi di kota besar seperti Medan.
Baca juga: Luncurkan Kampanye Gizi Anak Diluncurkan, BGN Soroti Dampak Ekonomi MBG
"Ada keluarga punya problem yang sejatinya tidak boleh terjadi di kota besar seperti kita ini. Apa itu, anak gizi buruk. Kalau ini tidak bisa ditoleransi," ujar Rico di hadapan ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) saat memimpin apel bersama pasca-Idul Fitri 1447 Hijriah di halaman Kantor Wali Kota Medan, Rabu (25/3/2026).
Selain Medan, kawasan yang sering disorot akan terjadinya gizi buruk adalah Agats, Kabupaten Asmat, Papua Selatan.
Jika melihat ke belakang, sepanjang Januari hingga Juni dilaporkan 508 anak menderita gizi buruk dan 2.221 anak menderita gizi kurang di Provinsi Papua.
Anak Kurang Gizi, Apa yang Harus Dilakukan Orangtua?Mereka tersebar di 18 kabupaten dan 1 kota. tercatat kasus gizi buruk tertinggi berada di Nabire dengan 125 kasus, Merauke 124 kasus, dan Intan Jaya 105 kasus.
Padahal, Papua merupakan kota yang memiliki kekayaan sumber daya alamnya yang terbilang tinggi.
Hal yang juga jarang disorot adalah kelaparan tersembunyi atau hidden hunger. Kelaparan tersembunyi adalah kondisi yang disebabkan karena kekurangan gizi karena kurangnya asupan vitamin dan mineral.
Dampak dari terjaidnya hidden hunger ini sendiri adalah bisa membuat berat badan kurang hingga angka kematian lebih tinggi untuk bayi.
Sementara itu, untuk anak-anak bisa menyebbakn stunting, dna lanjut usia bisa meningkatkan risiko morbiditas dan kematian.
Baca juga: Atasi Masalah Stunting, Program Bulog Peduli Gizi Sasar Balita di Desa Karangdawa