JAKARTA, KOMPAS.com - PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB) mencatat kinerja keuangan sepanjang 2025 di tengah tekanan industri semen nasional. Pendapatan turun, namun laba tetap terjaga.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasi 2025, pendapatan SMCB tercatat Rp 10,73 triliun. Angka ini turun dari Rp 11,82 triliun pada 2024. Penurunan sejalan dengan melemahnya permintaan di industri semen domestik.
Perseroan tetap membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp 659 miliar.
Dari sisi operasional, beban pokok pendapatan turun menjadi Rp 8,32 triliun dari Rp 9,26 triliun pada 2024. Penurunan ini menopang laba kotor yang mencapai Rp 2,42 triliun.
Kinerja operasional juga tercermin dari EBITDA sebesar Rp 1,87 triliun.
Baca juga: Bank Jatim Bukukan Laba Bersih Rp 1,54 Triliun, Tumbuh 20,65 Persen
Direktur Utama Solusi Bangun Indonesia Rizki Kresno Edhie Hambali menyebut strategi transformasi dijalankan untuk menjaga kinerja. Fokus diarahkan pada efisiensi dan penguatan penjualan.
“Pada aspek operational excellence, kami meningkatkan efisiensi produksi, optimalisasi energi dan bahan bakar alternatif. Sedangkan pengelolaan pemasaran dan penjualan difokuskan pada penguatan merek dan saluran distribusi terutama di area-area dengan margin tinggi,” ujar Rizki lewat keterangan pers, Senin (30/3/2026).
Strategi ini mulai diterapkan sejak semester II-2025. Hasilnya, volume penjualan semen dan terak mencapai 12,1 juta ton dengan pendapatan sekitar Rp 10,7 triliun.
Program efisiensi juga menekan beban keuangan hingga 34,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Perusahaan juga memperkuat struktur permodalan dan mempercepat pembayaran pinjaman. Langkah ini menjaga kesehatan neraca dan likuiditas.
SMCB melanjutkan sinergi dengan PT Semen Indonesia Tbk (SIG). Perusahaan menyiapkan sejumlah inisiatif strategis untuk menjaga pertumbuhan.
Salah satu proyek utama adalah pengembangan dermaga dan fasilitas produksi untuk ekspor semen di Tuban, Jawa Timur. Proyek ini merupakan kerja sama dengan Taiheiyo Cement Corporation.
Fasilitas tersebut memiliki kapasitas ekspor 500.000 hingga 1 juta ton semen. Target operasional pada pertengahan 2026.
Baca juga: Bukan di Gresik, Ini Pabrik Semen Pertama di RI
Selain ekspor, kerja sama juga mencakup pengembangan bisnis stabilisasi tanah. Langkah ini diarahkan untuk membuka pasar baru di sektor konstruksi.
Data Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (ASPERSSI) menunjukkan tekanan industri masih berlanjut. Produksi semen nasional turun 4,5 persen dari 67,8 juta ton menjadi 64,7 juta ton pada 2025.
Penjualan domestik juga turun sekitar 1,5 persen.
Pelemahan dipicu daya beli masyarakat yang menurun, curah hujan tinggi, serta perlambatan proyek infrastruktur. Industri juga menghadapi kelebihan kapasitas produksi yang menekan persaingan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang