Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Yusuf Rendy
Peneliti Ekonomi

Peneliti Ekonomi di Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia

Hormuz dan Lubang di APBN

Kompas.com, 31 Maret 2026, 09:49 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

SUDAH sebulan lebih sejak "Operation Epic Fury" dimulai, serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, tapi proses deeskalasi konflik tiga negara ini masih jauh dari kata jelas.

Presiden Donald Trump pekan lalu memberi Iran tenggat hingga 6 April, yakni membuka kembali Selat Hormuz atau menghadapi konsekuensi lebih lanjut.

Teheran merespons dengan mengizinkan sepuluh kapal tanker melintas sebagai isyarat niat baik. Pasar sejenak lega, harga minyak Brent sempat terkoreksi.

Namun, kondisi tersebut tidak bertahan lama. Akhir pekan ini, Trump kembali menyulut ketegangan dengan menyatakan keinginannya untuk menguasai minyak Iran.

Pasar langsung bereaksi, harga minyak Brent kembali melonjak ke kisaran 115 dollar AS per barel, memupus harapan bahwa isyarat diplomatik Teheran sudah cukup untuk meredam premi risiko yang tertanam di pasar.

Goldman Sachs bahkan memproyeksikan rata-rata harga Brent sepanjang 2026 akan menetap di 85 dollar AS per barel, angka yang sudah jauh melampaui asumsi APBN yang hanya 70 dollar AS — dan itu pun dihitung sebelum eskalasi pekan ini.

Baca juga: Harga Emas Turun Saat Dunia Bergejolak: Ada Apa Sebenarnya?

Bagi Indonesia, kenaikan angka harga minyak bukan tanpa konsekuensi. Sebagai net importir minyak, setiap kenaikan harga mentah dunia langsung memukul kas negara melalui pembengkakan subsidi energi.

Simulasi kami menunjukkan, jika harga minyak bertahan di 105 dollar AS per barel dengan kurs Rp 17.000, beban subsidi energi berpotensi melonjak dari Rp 210 triliun, angka baseline APBN 2026, menjadi Rp 433 triliun.

Pada skenario yang lebih moderat sekalipun, yakni 87 dollar AS per barel dengan kurs yang sama, defisit sudah bergerak ke 3,13 persen dari PDB.

Yang lebih mengkhawatirkan dari sekadar pembengkakan angka adalah konsekuensi hukumnya.

Undang-Undang Keuangan Negara menetapkan batas defisit APBN sebesar 3 persen dari PDB. Pada skenario 105 dollar AS per barel dengan kurs Rp 17.000, defisit diproyeksikan menembus 3,55 persen.

Angka itu bahkan bisa mencapai 4,41 persen jika kurs merosot ke Rp 18.500. Pemerintah dengan demikian bukan hanya berhadapan dengan tekanan fiskal biasa, melainkan dengan potensi pelanggaran terhadap koridor hukum pengelolaan keuangan negara.

Kondisi beban kenaikan harga energi bukanlah yang pertama kalinya. Pada 2008, ketika harga minyak menembus 147 dollar AS per barel, pemerintah terpaksa menaikkan harga BBM bersubsidi di tengah tahun karena anggaran tak lagi mampu menanggung selisihnya.

Pada 2011 hingga 2014, harga minyak yang bertahan di atas 100 dollar AS per barel selama hampir tiga tahun berturut-turut memaksa subsidi BBM menyedot rata-rata Rp 215 triliun per tahun, menggerus ruang fiskal untuk belanja produktif.

Perang Rusia-Ukraina 2022 mengulang skenario yang sama. Konflik Iran-Israel hanya mempertegas satu kerentanan lama. Selama Indonesia bergantung pada energi fosil, harga energi domestik akan selalu ditentukan oleh geopolitik.

Halaman:


Terkini Lainnya
Bank QNB Indonesia Catat Lonjakan Kredit 18 Persen, NPL Turun 2,2 Persen
Bank QNB Indonesia Catat Lonjakan Kredit 18 Persen, NPL Turun 2,2 Persen
Ekbis
Dari Buka Puasa hingga Mudik, BSI Maslahat Jangkau 145 Ribu Penerima
Dari Buka Puasa hingga Mudik, BSI Maslahat Jangkau 145 Ribu Penerima
Ekbis
RI dan Korsel Sepakati 10 Kerja Sama Strategis, Fokus Mineral hingga AI
RI dan Korsel Sepakati 10 Kerja Sama Strategis, Fokus Mineral hingga AI
Ekbis
RI Antisipasi Krisis Bahan Baku Plastik, Bidik India hingga Afrika
RI Antisipasi Krisis Bahan Baku Plastik, Bidik India hingga Afrika
Ekbis
Penjualan Turun, Laba Tahun Berjalan 2025 Indocement (INTP) Justru Naik 12 Persen
Penjualan Turun, Laba Tahun Berjalan 2025 Indocement (INTP) Justru Naik 12 Persen
Ekbis
Pakai Lahan KAI dan Angkasa Pura, Pemerintah Bangun 800 Hunian di Pusat Jakarta
Pakai Lahan KAI dan Angkasa Pura, Pemerintah Bangun 800 Hunian di Pusat Jakarta
Ekbis
Indonesia Masuk Bisnis Leasing Pesawat Global, Danantara Luncurkan Platform Baru
Indonesia Masuk Bisnis Leasing Pesawat Global, Danantara Luncurkan Platform Baru
Ekbis
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Ekbis
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Ekbis
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Ekbis
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau