Kehadiran robot kucing dengan kantong ajaib itu muncul ketika industri Jepang berhasil mengatasi krisis minyak pada 1970-an, sehingga membuka jalan bagi pertumbuhan ekonomi yang luar biasa pada dekade berikutnya.
Di tengah kemakmuran ekonomi, tahun 1980-an menjadi era ketika warga Jepang banyak melancong ke luar negeri.
Mobilitas antarnegara yang meningkat turut berperan dalam memperkenalkan budaya Jepang, termasuk manga. Para turis, serta koresponden Jepang di luar negeri lantas menyadari betapa populernya Doraemon dan kawan-kawan.
Bahkan, penerbitan Doraemon di Indonesia berawal dari kunjungan Jakob Oetama, salah satu pendiri Kompas Gramedia, ke Jepang pada akhir 1980-an.
Baca juga: Kilas Balik Doraemon di Indonesia, Hiburan Layar Kaca dan Ketertarikan Jakob Oetama
Ia tertarik dengan manga dan mencoba mengenalkannya ke pasar Indonesia, melalui penerbit Elex Media Komputindo.
Ternyata manga Doraemon juga diminati di negara lain, seperti Hong Kong, Taiwan, Korea Selatan, Thailand, dan China.
Dikutip dari situs web Nippon, ada lonjakan minat yang besar terhadap Doraemon di negara-negara tersebut, meskipun manganya tidak dipromosikan secara intensif.
Pembajakannya juga massif. Bahkan setelah edisi legal berdasarkan Konvensi Hak Cipta Universal mulai diterbitkan awal 1990-an, praktik pembajakan tidak berkurang.
Popularitas Doraemon semakin meluas seiring dengan adaptasi ke televisi, yang menyebabkan peningkatan tajam jumlah penggemar, sama seperti yang terjadi di Jepang.
Jika manga aslinya hanya beredar di delapan negara, serial animenya berhasil disiarkan di 19 negara.