KOMPAS.com - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq mengatakan, melakukan budaya literasi akan berdampak baik pada pemulihan mental siswa.
Hal itu diungkapkan Fajar dalam acara Pertemuan Pembelajaran Sebaya: Relawan Literasi Masyarakat (Relima) di Bogor, Jawa Barat, Selasa (11/11/2025).
"Saya ingin mengatakan bahwa kegiatan literasi yang dilakukan ini tidak semata-mata mengajarkan anak-anak kita bisa membaca dan menulis atau memahami teks," kata Fajar dikutip dari keterangan tertulis, Kamis (13/11/2025).
"Namun sebenarnya, aktivitas literasi yang jika dilakukan dengan baik dan benar dapat membantu murid memulihkan kesehatan mental mereka," lanjut dia.
Baca juga: Wamendikdasmen: TKA Bukan Penentu Kelulusan, Hanya Validator Nilai Rapor
Wamen Fajar juga menyoroti tentang fenomena siswa yang terpapar penuh pesan media sosial (medsos).
Menurut Fajar, peran Relima dalam sangat penting untuk dapat hadir membangun budaya literasi, mengajak siswa aktif membaca langsung dari buku, serta menggali berbagai makna baik dari buku yang dibaca.
"Saya mendukung penuh adanya Relima ini yang nantinya juga dapat membangun pertumbuhan sosial masyarakat untuk peserta didik," ujarnya.
"Ketika interaksi sosial itu pudar dengan adanya media sosial, saat ini sangat diperlukan peran komunitas seperti Relima yang bisa menjembatani antara sekolah dan juga masyarakat. Sehingga, budaya literasi juga menumbuhkan dan membuat murid menjadi manusia yang bermakna," pungkas Fajar.
Baca juga: Wamendikdasmen Sebut Kolaborasi Nyata Jadi Kunci Transformasi Pendidikan
Sementara itu, fenomena saat ini banyak Gen Z di Indonesia kini menghadapi realitas meningkatnya angka kesepian dan tekanan mental di kalangan anak muda.
Berdasarkan data, sepanjang 2012 hingga 2023 tercatat sebanyak 2.112 kasus bunuh diri di Indonesia, dan hampir setengahnya dilakukan oleh kelompok usia muda.
Beberapa pekan terakhir, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat 25 kasus bunuh diri anak hingga Oktober 2025, sebagian besar dipicu tekanan sosial dan perundungan di lingkungan sekolah.
Ilustrasi kesehatan mental. Kasus-kasus tersebut membuktikan isu kesehatan mental di kalangan remaja dan mahasiswa kini memasuki tahap yang serius dan tak bisa diabaikan.
Dalam situasi yang serba cepat dan penuh tekanan, banyak Gen Z justru memilih untuk mencari tempat aman di dunia digital.
Dilansir dari hasil survei UMN Consulting, lembaga penelitian independen oleh UMN dan Kompas Gramedia, Selasa (4/11/2025), anak muda kini banyak yang beralih ke teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk menumpahkan isi hati mereka. Bahka, AI dipakai sebagai konselor kesehatan mental.
Baca juga: Wamendikdasmen: Biaya Pengobatan Korban Ledakan SMAN 72 Jakarta Ditanggung Pemda
Pasalnya, Platform seperti ChatGPT, Gemini, DeepSeek, hingga Copilot menjadi ruang virtual tempat mereka merasa didengar tanpa takut dihakimi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangArtikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya