Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Wamendikdasmen: Aktivitas Literasi Dapat Bantu Pulihkan Kesehatan Mental Siswa

Kompas.com, 14 November 2025, 10:13 WIB
Sania Mashabi,
Mahar Prastiwi

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq mengatakan, melakukan budaya literasi akan berdampak baik pada pemulihan mental siswa.

Hal itu diungkapkan Fajar dalam acara Pertemuan Pembelajaran Sebaya: Relawan Literasi Masyarakat (Relima) di Bogor, Jawa Barat, Selasa (11/11/2025).

"Saya ingin mengatakan bahwa kegiatan literasi yang dilakukan ini tidak semata-mata mengajarkan anak-anak kita bisa membaca dan menulis atau memahami teks," kata Fajar dikutip dari keterangan tertulis, Kamis (13/11/2025).

"Namun sebenarnya, aktivitas literasi yang jika dilakukan dengan baik dan benar dapat membantu murid memulihkan kesehatan mental mereka," lanjut dia.

Baca juga: Wamendikdasmen: TKA Bukan Penentu Kelulusan, Hanya Validator Nilai Rapor

Budaya literasi membuat murid menjadi manusia yang bermakna

Wamen Fajar juga menyoroti tentang fenomena siswa yang terpapar penuh pesan media sosial (medsos).

Menurut Fajar, peran Relima dalam sangat penting untuk dapat hadir membangun budaya literasi, mengajak siswa aktif membaca langsung dari buku, serta menggali berbagai makna baik dari buku yang dibaca.

"Saya mendukung penuh adanya Relima ini yang nantinya juga dapat membangun pertumbuhan sosial masyarakat untuk peserta didik," ujarnya.

"Ketika interaksi sosial itu pudar dengan adanya media sosial, saat ini sangat diperlukan peran komunitas seperti Relima yang bisa menjembatani antara sekolah dan juga masyarakat. Sehingga, budaya literasi juga menumbuhkan dan membuat murid menjadi manusia yang bermakna," pungkas Fajar.

Baca juga: Wamendikdasmen Sebut Kolaborasi Nyata Jadi Kunci Transformasi Pendidikan

Angka kesepian meningkat

Sementara itu, fenomena saat ini banyak Gen Z di Indonesia kini menghadapi realitas meningkatnya angka kesepian dan tekanan mental di kalangan anak muda.

Berdasarkan data, sepanjang 2012 hingga 2023 tercatat sebanyak 2.112 kasus bunuh diri di Indonesia, dan hampir setengahnya dilakukan oleh kelompok usia muda.

Beberapa pekan terakhir, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat 25 kasus bunuh diri anak hingga Oktober 2025, sebagian besar dipicu tekanan sosial dan perundungan di lingkungan sekolah.

Ilustrasi kesehatan mental. Dok. Freepik Ilustrasi kesehatan mental.

Isu kesehatan mental tidak bisa diabaikan

Kasus-kasus tersebut membuktikan isu kesehatan mental di kalangan remaja dan mahasiswa kini memasuki tahap yang serius dan tak bisa diabaikan.

Dalam situasi yang serba cepat dan penuh tekanan, banyak Gen Z justru memilih untuk mencari tempat aman di dunia digital.

Dilansir dari hasil survei UMN Consulting, lembaga penelitian independen oleh UMN dan Kompas Gramedia, Selasa (4/11/2025), anak muda kini banyak yang beralih ke teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk menumpahkan isi hati mereka. Bahka, AI dipakai sebagai konselor kesehatan mental.

Baca juga: Wamendikdasmen: Biaya Pengobatan Korban Ledakan SMAN 72 Jakarta Ditanggung Pemda

Pasalnya, Platform seperti ChatGPT, Gemini, DeepSeek, hingga Copilot menjadi ruang virtual tempat mereka merasa didengar tanpa takut dihakimi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau