KOMPAS.com - Bencana alam hidrometeorologi meningkat di berbagai wilayah di Indonesia pada penghujung tahun 2025.
Mengutip situs Universitas Gadjah Mada (UGM), data Kementerian Kehutanan RI memaparkan bahwa deforestasi netto Indonesia pada tahun 2024 mencapai 175,4 ribu hektar.
Sedangkan upaya reforestasi melalui program Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) tercatat seluas 217,9 ribu hektar.
Dosen Fakultas Kehutanan UGM, Dr. Hatma Suryatmojo, mengatakan deforestasi merupakan masalah struktural yang terjadi hampir setiap tahun dan melibatkan banyak pihak.
Baca juga: Tunjangan Khusus Guru Terdampak Bencana Sumatera Disalurkan Bertahap Mulai Desember 2025
Namun menurut Hatma, laju deforestasi selalu lebih tinggi dibandingkan laju rehabilitasi. Sebab, rehabilitasi sebagian besar dilakukan oleh pemerintah, sementara deforestasi bisa dilakukan oleh siapa saja.
“Laju deforestasi selalu lebih tinggi,” ujar Hatma atau kerap disapa Mayong, Selasa (30/12/2025), dikutip dari situs UGM, Rabu (31/12/2025).
Ia menyebut kawasan hutan Indonesia yang sekarang luasnya sekitar 120 juta hektar menjadi tantangan perihal pengawasan.
Jumlah polisi hutan yang terbatas membuat banyak kawasan tidak terpantau secara optimal.
“Dibandingkan dengan hutan konservasi, hutan lindung relatif kurang termonitor ketat,” imbuhnya.
Baca juga: Pemulihan Sekolah Terdampak Bencana Sumatera Capai 90 Persen, 2026 Anak-anak Siap Belajar
Ia menilai optimalisasi peran Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) dapat menjadi solusi realistis dan cepat dalam mengawasi ancaman deforestasi dan pembalakan liar.
“KPH itu sebenarnya sudah ada, infrastrukturnya, kantornya, stafnya ada. Tinggal bagaimana sistem dan perannya dioptimalkan untuk mengawasi dan melindungi kawasan hutan,” ujarnya.
Pemulihan hutan, kata Hatma, tidak bisa terjadi instan dan sederhana. Ia mengingatkan bahwa pemulihan hutan tidak bisa diukur hanya dari tumbuhnya pohon melainkan dilihat pulihnya fungsi ekologis hutan.
Berdasarkan perhitungannya, pemulihan fungsi hutan lindung dapat memakan waktu hingga dua dekade atau malah lebih lama.
“Reforestasi itu belum tentu berarti pemulihan. Deforestasi dianggap pulih kalau fungsi hutannya kembali, misalnya mampu melindungi kawasan bawah dari banjir dan longsor,” jelasnya.
Upaya menjaga keberlanjutan lingkungan hidup di Kalimantan Timur menghadapi ujian serius. Di satu sisi, laju deforestasi masih tinggi mencapai 44.000 hektar sepanjang 2025. Selasa (16/12/2025).Dengan situasi sekarang, ia berharap ini dapat menjadi momentum untuk menghentikan laju deforestasi dan mempercepat reforestasi.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya