Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bencana Hidrometeorologi Meningkat, Dosen UGM: Harus Kurangi Deforestasi

Kompas.com, 31 Desember 2025, 15:41 WIB
Melvina Tionardus,
Mahar Prastiwi

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Bencana alam hidrometeorologi meningkat di berbagai wilayah di Indonesia pada penghujung tahun 2025.

Mengutip situs Universitas Gadjah Mada (UGM), data Kementerian Kehutanan RI memaparkan bahwa deforestasi netto Indonesia pada tahun 2024 mencapai 175,4 ribu hektar.

Sedangkan upaya reforestasi melalui program Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) tercatat seluas 217,9 ribu hektar.

Dosen Fakultas Kehutanan UGM, Dr. Hatma Suryatmojo, mengatakan deforestasi merupakan masalah struktural yang terjadi hampir setiap tahun dan melibatkan banyak pihak.

Baca juga: Tunjangan Khusus Guru Terdampak Bencana Sumatera Disalurkan Bertahap Mulai Desember 2025

Laju deforestasi selalu lebih tinggi dibandingkan laju rehabilitasi

Namun menurut Hatma, laju deforestasi selalu lebih tinggi dibandingkan laju rehabilitasi. Sebab, rehabilitasi sebagian besar dilakukan oleh pemerintah, sementara deforestasi bisa dilakukan oleh siapa saja.

“Laju deforestasi selalu lebih tinggi,” ujar Hatma atau kerap disapa Mayong, Selasa (30/12/2025), dikutip dari situs UGM, Rabu (31/12/2025).

Ia menyebut kawasan hutan Indonesia yang sekarang luasnya sekitar 120 juta hektar menjadi tantangan perihal pengawasan.

Jumlah polisi hutan yang terbatas membuat banyak kawasan tidak terpantau secara optimal.

“Dibandingkan dengan hutan konservasi, hutan lindung relatif kurang termonitor ketat,” imbuhnya.

Baca juga: Pemulihan Sekolah Terdampak Bencana Sumatera Capai 90 Persen, 2026 Anak-anak Siap Belajar

Ia menilai optimalisasi peran Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) dapat menjadi solusi realistis dan cepat dalam mengawasi ancaman deforestasi dan pembalakan liar.

“KPH itu sebenarnya sudah ada, infrastrukturnya, kantornya, stafnya ada. Tinggal bagaimana sistem dan perannya dioptimalkan untuk mengawasi dan melindungi kawasan hutan,” ujarnya.

Bukan sekadar pohon tumbuh

Pemulihan hutan, kata Hatma, tidak bisa terjadi instan dan sederhana. Ia mengingatkan bahwa pemulihan hutan tidak bisa diukur hanya dari tumbuhnya pohon melainkan dilihat pulihnya fungsi ekologis hutan.

Berdasarkan perhitungannya, pemulihan fungsi hutan lindung dapat memakan waktu hingga dua dekade atau malah lebih lama.

“Reforestasi itu belum tentu berarti pemulihan. Deforestasi dianggap pulih kalau fungsi hutannya kembali, misalnya mampu melindungi kawasan bawah dari banjir dan longsor,” jelasnya.

Upaya menjaga keberlanjutan lingkungan hidup di Kalimantan Timur menghadapi ujian serius. Di satu sisi, laju deforestasi masih tinggi mencapai 44.000 hektar sepanjang 2025. Selasa (16/12/2025).Pandawa Borniat/kompas.com Upaya menjaga keberlanjutan lingkungan hidup di Kalimantan Timur menghadapi ujian serius. Di satu sisi, laju deforestasi masih tinggi mencapai 44.000 hektar sepanjang 2025. Selasa (16/12/2025).

Harus kurangi deforestasi

Dengan situasi sekarang, ia berharap ini dapat menjadi momentum untuk menghentikan laju deforestasi dan mempercepat reforestasi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau