Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pembatasan Medsos Anak di Bawah 16 Tahun dan Pentingnya Peran Orangtua

Kompas.com, 15 Maret 2026, 16:31 WIB
Sania Mashabi,
Mahar Prastiwi

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pemerintah berencana membatasi akses media sosial (medsos) untuk anak di bawah usia 16 tahun pada Maret 2026 ini.

Guru Besar Media Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair), Prof Rachmah Ida, menilai pada kebijakan ini pemerintah tidak melakukan penutupan akses penuh anak pada media sosial.

Menurut Ida, pemerintah hanya menangguhkan aktivasi akun hingga anak mencapai usia yang dianggap lebih siap.

Anak dapat menjadi dewasa sebelum waktunya

"Jika anak dibiarkan bebas mengakses media sosial, mereka bisa terpapar konten yang sebenarnya bukan target mereka. Akibatnya, anak dapat menjadi dewasa sebelum waktunya," kata Ida dikutip dari laman resmi Unair, Minggu (15/3/2025).

Ida menilai langkah tersebut dilakukan pemerintah sebagai bentuk kepedulian negara dalam melindungi anak dari paparan konten yang tidak bertanggung jawab di ruang digital.

Mengingat saat ini media sosial merupakan ruang yang sangat luas. Sehingga pengguna sulit mengontrol konten yang beredar di dalamnya.

Apalagi bagi bagi anak yang belum memiliki literasi digital yang memadai. Dampak bagi perkembangan anak dalam perspektif ilmu komunikasi, Ida menilai kebijakan tersebut berpotensi memberikan dampak positif bagi perkembangan anak.

Salah satunya adalah mengurangi paparan konten yang tidak sesuai dengan usia mereka. Sebab, tanpa pembatasan yang jelas, anak-anak dapat dengan mudah terpapar berbagai konten yang sebenarnya bukan ditujukan bagi mereka.

"Kondisi ini dapat memengaruhi pola pikir anak dan mendorong mereka mengalami proses pendewasaan yang lebih cepat," ujarnya.

Baca juga: 100 Juta Warga Terancam Tanpa Tabungan Pensiun 2038, Ini Penjelasan Pakar UGM

Anak bisa tiru gaya hidup para konten kreator

Ida juga menyoroti bahwa media sosial saat ini tidak terlepas dari logika kapitalisme digital dan bisa memengaruhi cara anak memandang media sosial.

Kata dia, anak-anak berpotensi meniru gaya hidup para konten kreator. Seperti perilaku konsumtif, keinginan untuk populer, hingga dorongan membuat konten demi memperoleh perhatian atau keuntungan meski belum memiliki kesiapan secara mental maupun sosial.

Oleh karena itu, Ida juga menekankan pentingnya peran orangtua dan keluarga dalam mendampingi anak ketika berinteraksi dengan media digital.

Ia juga mengingatkan agar orangtua tidak seharusnya menjadikan gawai sebagai solusi instan untuk menenangkan anak.

Ilustrasi anak-anak belajar TIK atau menggunakan laptop.canva.com Ilustrasi anak-anak belajar TIK atau menggunakan laptop.

Bikin anak bergantung pada perangkat digital

Kebiasaan memberikan gawai sejak dini justru berpotensi membuat anak bergantung pada perangkat digital.

Orangtua justru perlu aktif membimbing anak serta meningkatkan literasi digital di lingkungan keluarga.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau