Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Alfin, Alumnus UMS Jadi Guru di Sentani, Fondasi Karakter Anak Masih Jadi Tantangan

Kompas.com, 25 Maret 2026, 15:49 WIB
Melvina Tionardus,
Mahar Prastiwi

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sejak 30 Januari 2026 lalu, Alfin Nur Ridwan menginjakkan kaki di tanah Papua tepatnya di Sentani, Kabupaten Jayapura.

Lulusan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) 2025 Jurusan Hukum Ekonomi Syariah ini memiliki kewajiban untuk pengabdian pasca-studi di kampusnya.

Ia mengaku kesan pertamanya dengan tanah Papua tidak sepenuhnya romantis atau penuh kekaguman.

Perasaan was-was ikut muncul. Sebab, para pendatang yang sudah puluhan tahun tinggal di tempat tersebut mengingatkannya untuk berhati-hati saat bepergian.

"Mereka bercerita bahwa kasus pencurian, khususnya motor, masih cukup sering terjadi. Pemalakan di titik-titik tertentu juga bukan hal yang sepenuhnya asing. Ditambah lagi, perilaku 'minum' yang masih cukup melekat dan menjadi kebiasaan di sebagian kelompok masyarakat, yang dalam beberapa situasi bisa memicu hal-hal yang tidak diinginkan,” tutur Alfin, dikutip dari situs UMS, Rabu (25/3/2026).

Baca juga: Biaya Kuliah di UMS Per SKS untuk Semua Jurusan S1

Sebagai pendatang, Alfn juga sadar bahwa ia bukan berada di wilayah yang sepenuhnya dia pahami.

Di sisi lain Alfin juga merasakan kehangatan masyarakat asli Papua yang hangat, sangat menghormati, dan peduli dengan perantau.

“Dalam beberapa kesempatan, mereka justru memperlakukan saya dengan baik, bahkan tidak jarang menunjukkan kepedulian yang sederhana. Ada semacam etika sosial yang tidak tertulis, bahwa saling menghormati adalah kunci untuk bisa hidup berdampingan di sini,” cerita Alfin.

Tantangan dari mengajar

Kata Alfin, dengan latar belakangnya sebagai aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dan Pers Mahasiswa, ia tidak pernah secara serius berencana menjadi guru sekolah dasar.

Biasanya ia selalu berhadapan dengan kegiatan diskusi, tulisan, dan analisis. Sementara ketika mengajar ia berhadapan dengan anak-anak yang dunia berpikirnya masih dalam proses perkembangan kognitif. Di situlah letak kerumitannya menurut Alfin.

Hampir dua bulan mengajar mata pelajaran Kemuhammadiyahan. Ia kerap menyadari bahwa pendidikan berkaitan dengan membentuk sikap.

Alfin menuturkan tantangan yang ia temui saat mengajar bukan soal kecerdasan, melainkan soal fondasi karakter.

Ia kerap menjumpai anak-anak melontarkan bahasa kasar dengan ringan, emosi yang mudah meledak, hingga kurangnya sikap hormat kepada orang yang lebih tua.

Realita yang ia temui ini pun bertanya pada diri sendiri, apa arti pendidikan jika tidak mampu menyentuh sisi paling dasar dari manusia?

Menurutnya, pendidikan karakter tidak bisa terjadi dalam semalam, melainkan kerja panjang yang membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan keteladanan.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau