KOMPAS.com - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengingatkan persiapan masuk sekolah memerlukan sinergi yang utuh antara anak-anak, orangtua, dan institusi pendidikan.
Wakil Ketua KPAI Jasra Putra menilai ada beberapa hal yang harus diperhatikan bagi orangtua yang memang memanfaatkan masa liburan hingga menjelang masa anaknya masuk sekolah.
Sebab, keluarga tersebut akan menjalani arus balik yang mungkin akan terjadi lonjakan-lonjakan volume kendaraan atau penumpang yang tentunya akan mempengaruhi juga psikis anak ketika kembali belajar.
Baca juga: Catat Tanggal Siswa Masuk Sekolah Usai Libur Lebaran 2026, Bersiap Hadapi TKA 2026
"Faktor kelelahan pasca perjalanan panjang tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga secara signifikan memengaruhi kondisi psikologis dan mental anak saat dihadapkan kembali pada rutinitas belajar," kata Jasra dikutip dari keterangan tertulis, Kamis (26/3/2026).
Jasra menjelaskan, keluarga yang menggunakan transportasi umum, seperti kereta api dan pesawat, cenderung memiliki risiko kemacetan yang lebih minim.
Namun, bagi pengguna jalur darat, KPAI mengimbau agar masyarakat senantiasa memperhatikan saran petugas di lapangan serta mematuhi rambu-rambu lalu lintas demi arus balik yang aman, nyaman, dan lancar.
Baca juga: MBG Libur Selama Lebaran 2026, Hemat Anggaran sampai Rp 5 Triliun
"Secara umum, KPAI melihat penyelenggaraan mudik tahun ini berjalan dengan baik. Meski demikian, KPAI mengingatkan agar para petugas di lapangan tidak lengah," ujarnya.
"Potensi kepadatan arus balik lalu lintas di hari-hari terakhir libur tetap memerlukan rekayasa dan langkah antisipatif untuk mengurangi faktor kelelahan pada masyarakat, khususnya anak-anak," lanjut dia.
Selain itu, Jasra juga mengingatkan agar sekolah tidak langsung membebani siswa dengan materi yang berat setelah libur Lebaran 2026.
Baca juga: 10 Bidang Ilmu Undip Masuk Ranking QS WUR by Subject 2026, Tembus Top 500
Karena setelah liburan siswa akan mengalami masa transisi psikologis dari masa liburan ke belajar di sekolah.
"KPAI mengingatkan pentingnya masa transisi belajar secara psikologis, bahwa anak-anak membutuhkan fase transisi dari suasana liburan menuju kesiapan kognitif untuk belajar," ungkapnya.
"Kesadaran ini harus menjadi motivasi para pengajar, sebelum mereka benar benar siap memasuki rutinitas sekolah. Sekolah diharapkan tidak langsung membebani siswa dengan intensitas materi yang berat," tambah Jasra.
Baca juga: 28 Bidang Ilmu UGM Masuk Pemeringkatan QS WUR by Subject 2026
Menurut Jasra, setelah liburan diperlukan kondisi yang kondusif di sekolah dengan membangun konektivitas emosional seperti menggunakan metode belajar storytelling.
Materi yang dibahas bisa seputar pengalaman mudik di kemapung halaman. Hal ini dinilai Jasra akan efektif membantu siswa kembali ke sekolah tanpa tekanan.
"Seperti metode belajar reflektif dan metode bercerita (storytelling) mengenai pengalaman mudik di kampung halaman dapat menjadi instrumen transisi yang efektif, sehingga anak-anak bisa masuk kembali ke dunia belajarnya tanpa tekanan," ujarnya.
Baca juga: Tidak Bisa Pilih Pusat UTBK SNBT 2026, Panitia SNPMB Umumkan H-10 Ujian