Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

KPAI: Persiapan Masuk Sekolah Usai Mudik Perlu Sinergi dengan Orangtua

Kompas.com, 27 Maret 2026, 11:16 WIB
Sania Mashabi,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengingatkan persiapan masuk sekolah memerlukan sinergi yang utuh antara anak-anak, orangtua, dan institusi pendidikan.

Wakil Ketua KPAI Jasra Putra menilai ada beberapa hal yang harus diperhatikan bagi orangtua yang memang memanfaatkan masa liburan hingga menjelang masa anaknya masuk sekolah.

Sebab, keluarga tersebut akan menjalani arus balik yang mungkin akan terjadi lonjakan-lonjakan volume kendaraan atau penumpang yang tentunya akan mempengaruhi juga psikis anak ketika kembali belajar.

 Baca juga: Catat Tanggal Siswa Masuk Sekolah Usai Libur Lebaran 2026, Bersiap Hadapi TKA 2026

"Faktor kelelahan pasca perjalanan panjang tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga secara signifikan memengaruhi kondisi psikologis dan mental anak saat dihadapkan kembali pada rutinitas belajar," kata Jasra dikutip dari keterangan tertulis, Kamis (26/3/2026).

Jasra menjelaskan, keluarga yang menggunakan transportasi umum, seperti kereta api dan pesawat, cenderung memiliki risiko kemacetan yang lebih minim.

Namun, bagi pengguna jalur darat, KPAI mengimbau agar masyarakat senantiasa memperhatikan saran petugas di lapangan serta mematuhi rambu-rambu lalu lintas demi arus balik yang aman, nyaman, dan lancar.

Baca juga: MBG Libur Selama Lebaran 2026, Hemat Anggaran sampai Rp 5 Triliun

"Secara umum, KPAI melihat penyelenggaraan mudik tahun ini berjalan dengan baik. Meski demikian, KPAI mengingatkan agar para petugas di lapangan tidak lengah," ujarnya.

"Potensi kepadatan arus balik lalu lintas di hari-hari terakhir libur tetap memerlukan rekayasa dan langkah antisipatif untuk mengurangi faktor kelelahan pada masyarakat, khususnya anak-anak," lanjut dia.

Selain itu, Jasra juga mengingatkan agar sekolah tidak langsung membebani siswa dengan materi yang berat setelah libur Lebaran 2026.

Baca juga: 10 Bidang Ilmu Undip Masuk Ranking QS WUR by Subject 2026, Tembus Top 500 

Karena setelah liburan siswa akan mengalami masa transisi psikologis dari masa liburan ke belajar di sekolah.

"KPAI mengingatkan pentingnya masa transisi belajar secara psikologis, bahwa anak-anak membutuhkan fase transisi dari suasana liburan menuju kesiapan kognitif untuk belajar," ungkapnya.

"Kesadaran ini harus menjadi motivasi para pengajar, sebelum mereka benar benar siap memasuki rutinitas sekolah. Sekolah diharapkan tidak langsung membebani siswa dengan intensitas materi yang berat," tambah Jasra.

Baca juga: 28 Bidang Ilmu UGM Masuk Pemeringkatan QS WUR by Subject 2026

Menurut Jasra, setelah liburan diperlukan kondisi yang kondusif di sekolah dengan membangun konektivitas emosional seperti menggunakan metode belajar storytelling.

Materi yang dibahas bisa seputar pengalaman mudik di kemapung halaman. Hal ini dinilai Jasra akan efektif membantu siswa kembali ke sekolah tanpa tekanan.

"Seperti metode belajar reflektif dan metode bercerita (storytelling) mengenai pengalaman mudik di kampung halaman dapat menjadi instrumen transisi yang efektif, sehingga anak-anak bisa masuk kembali ke dunia belajarnya tanpa tekanan," ujarnya.

Baca juga: Tidak Bisa Pilih Pusat UTBK SNBT 2026, Panitia SNPMB Umumkan H-10 Ujian

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau