Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gen Z Nepal Antusias Daftar Pemilih Usai Demo Mematikan Gulingkan Pemerintah

Kompas.com, 14 Oktober 2025, 09:33 WIB
Albertus Adit

Penulis

Sumber AFP

KATHMANDU, KOMPAS.com – Antusiasme generasi muda Nepal meningkat tajam menjelang pemilu pertama sejak kerusuhan besar menggulingkan pemerintahan bulan lalu.

Di ibu kota Kathmandu, ratusan calon pemilih muda tampak mengantre untuk mendaftar sebagai pemilih baru.

Bagi banyak dari mereka, ini menjadi pengalaman pertama menggunakan hak pilih dalam sejarah politik Nepal yang baru saja diguncang protes anti-korupsi paling mematikan dalam beberapa dekade.

Baca juga: Tanah Longsor di Nepal Tewaskan 42 Orang, India Catat 20 Korban Jiwa

Setidaknya 73 orang tewas dalam kerusuhan 8–9 September, ketika massa membakar gedung parlemen, pengadilan, dan kantor pemerintahan.

Aksi itu dipicu oleh larangan sementara media sosial, tetapi diperdalam oleh kemarahan publik terhadap korupsi dan kesulitan ekonomi yang meluas.

Beberapa hari setelah pemerintah tumbang, mantan Ketua Mahkamah Agung Sushila Karki (73) ditunjuk sebagai perdana menteri sementara untuk memimpin Nepal hingga pemilu pada 5 Maret 2026.

“Pilar pemerintahan baru ini dibangun di atas mayat-mayat mahasiswa,” kata Niranjan Bhandari (21), mahasiswa yang tengah menunggu giliran memberikan data biometrik untuk pendaftaran pemilih.

“Itulah sebabnya kami ingin menyingkirkan wajah-wajah lama yang terlalu lama berkuasa,” ujarnya kepada AFP.

Baca juga: Pemerintah Sementara Usut Kematian 74 Orang dalam Demo Nepal

Krisis politik dan ekonomi

Masa depan politik Nepal kini berada di persimpangan. Tantangan terbesar bagi pemerintahan sementara adalah mengembalikan kepercayaan publik terhadap partai-partai lama yang dinilai gagal membawa perubahan.

Belum jelas apakah generasi muda akan membentuk partai baru atau justru memberi kesempatan kembali kepada elite lama.

Pemerintah saat ini telah memberlakukan larangan bepergian bagi KP Sharma Oli, politikus berhaluan Marxis berusia 73 tahun yang pernah empat kali menjabat perdana menteri.

Oli sedang diselidiki terkait perannya dalam kerusuhan, namun ia tetap vokal menyerukan pemulihan parlemen yang dibubarkan secara inkonstitusional.

Kerusuhan besar tersebut memperburuk kondisi ekonomi Nepal yang sudah rapuh. Bank Dunia mencatat, 82 persen tenaga kerja Nepal masih berada di sektor informal, sementara produk domestik bruto (PDB) per kapita hanya 1.447 dollar AS (sekitar Rp 24 juta) pada 2024.

Lembaga itu juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Nepal menjadi 2,1 persen, seiring meningkatnya ketidakpastian politik dan ekonomi pascakerusuhan.

Baca juga: Demo Nepal Berakhir: Banyak yang Hancur Sia-sia, Kerugian Ditaksir Rp 2,9 Triliun

Antusiasme generasi muda

Di kantor Komisi Pemilihan Umum distrik Kathmandu, suasana optimisme tampak di antara anak muda yang mengantre.

Halaman:

Terkini Lainnya
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Internasional
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Internasional
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Internasional
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Internasional
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal 'Nyangkut' di Ruang Mesin
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal "Nyangkut" di Ruang Mesin
Internasional
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Internasional
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Internasional
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
Internasional
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Internasional
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Internasional
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Internasional
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Internasional
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Internasional
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Internasional
Dihantam Krisis, PM Malaysia Ajak Rakyat Fokus Hadapi Tekanan Ekonomi
Dihantam Krisis, PM Malaysia Ajak Rakyat Fokus Hadapi Tekanan Ekonomi
Global
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Gen Z Nepal Antusias Daftar Pemilih Usai Demo Mematikan Gulingkan Pemerintah
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat