Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 10 Maret 2026, 18:31 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Editor

Penulis: Astrid Prange de Oliveira/DW Indonesia

TEHERAN, KOMPAS.com - Ancaman Iran telah membuat lalu lintas kapal di Selat Hormuz hampir berhenti. Namun, para pakar meragukan Iran akan mengambil risiko memblokade jalur pelayaran tersebut dalam jangka panjang sebagai balasan atas serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

"Sekitar 70 persen perdagangan nonmigas Iran melewati pelabuhan yang bergantung pada akses melalui Selat Hormuz," kata analis gas dan ekonomi Dalga Khatinoglu dikutip dari Iran International, media yang berbasis di London.

Memblokade selat itu dalam jangka panjang justru akan merugikan Iran sendiri.

"Tidak rasional bagi Iran untuk menutup Selat Hormuz karena mereka bergantung pada impor barang-barang penting seperti pangan. Selain itu, sebagian besar ekspor mereka menuju China dan India sehingga langkah tersebut justru akan merugikan negara itu sendiri," kata pakar energi Sara Vakhshouri dari SVB Energy International kepada Bloomberg TV.

Harga minyak dan gas melonjak sejak AS dan Israel mulai menyerang Iran pada Sabtu (28/2/2026). Biaya satu barel minyak diperkirakan bisa naik hingga 100 dolar AS (sekitar Rp 1,6 juta) atau lebih jika pelayaran melalui Selat Hormuz menjadi terlalu berbahaya.

Baca juga: Ketegangan Memanas, Azerbaijan Tetap Kirim Bantuan Kemanusiaan ke Iran

Jalur utama perdagangan minyak

Menurut Badan Informasi Energi (Energy Information Administration/EIA) Amerika Serikat, sekitar 20 persen minyak mentah yang dikonsumsi dunia diangkut melalui jalur laut ini. Lebih dari 80 persen pengiriman tersebut menuju Asia, terutama China, India, dan Jepang.

Menurut media Iran International, penutupan Selat Hormuz tidak hanya akan menghambat pengiriman minyak, tetapi juga bahan bakar penerbangan dan gas alam cair (LNG).

Sekitar 30 persen bahan bakar penerbangan Eropa dan 20 persen LNG global diangkut melalui jalur tersebut.

Banyak negara, termasuk Amerika Serikat (AS), negara anggota Uni Eropa, Inggris, Jepang, dan Kanada, memiliki cadangan strategis yang cukup untuk menghadapi gangguan pasokan sementara selama beberapa minggu.

Baca juga: Syarat Mutlak Iran untuk Negosiasi, Tak Ada Lagi Serangan di Masa Depan

Iran bergantung pada China

Blokade tidak hanya akan menghambat pengiriman minyak dan gas dari negara-negara Teluk ke Barat, tetapi juga ekspor Iran yang ditujukan ke China dan India. Hal ini akan memperparah krisis ekonomi Iran.

Iran telah dikenai sanksi Barat sejak Revolusi Islam 1979, termasuk sanksi terhadap ekspornya. Sanksi tambahan dari PBB diberlakukan antara 2006 hingga 2015 terkait program nuklir Iran.

Sanksi sempat dilonggarkan antara 2016 dan 2018 setelah Iran ikut dalam kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Namun, Presiden AS Donald Trump kembali memberlakukan sanksi ketat setelah menarik AS dari kesepakatan tersebut.

Sanksi Barat juga membuka celah bagi Iran untuk tetap berdagang karena tidak ada sanksi bagi negara yang tidak mematuhi pembatasan tersebut.

Baca juga: Iran Akan Blokir Ekspor Minyak Timur Tengah ke Sekutu AS-Israel

Akibatnya, lebih dari 80 persen ekspor Iran dikirim ke China, menurut platform data dan analisis Kpler. Saat ini, China menjadi pembeli terbesar minyak dari Iran, Venezuela, dan Rusia.

Halaman:

Terkini Lainnya
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Internasional
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Internasional
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Internasional
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Internasional
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal 'Nyangkut' di Ruang Mesin
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal "Nyangkut" di Ruang Mesin
Internasional
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Internasional
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Internasional
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
Internasional
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Internasional
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Internasional
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Internasional
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Internasional
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Internasional
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Internasional
Dihantam Krisis, PM Malaysia Ajak Rakyat Fokus Hadapi Tekanan Ekonomi
Dihantam Krisis, PM Malaysia Ajak Rakyat Fokus Hadapi Tekanan Ekonomi
Global
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Perang Masih Berkecamuk, China Jadi Penentu Ekspor Minyak Iran
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat