Editor
Penulis: Astrid Prange de Oliveira/DW Indonesia
TEHERAN, KOMPAS.com - Ancaman Iran telah membuat lalu lintas kapal di Selat Hormuz hampir berhenti. Namun, para pakar meragukan Iran akan mengambil risiko memblokade jalur pelayaran tersebut dalam jangka panjang sebagai balasan atas serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
"Sekitar 70 persen perdagangan nonmigas Iran melewati pelabuhan yang bergantung pada akses melalui Selat Hormuz," kata analis gas dan ekonomi Dalga Khatinoglu dikutip dari Iran International, media yang berbasis di London.
Memblokade selat itu dalam jangka panjang justru akan merugikan Iran sendiri.
"Tidak rasional bagi Iran untuk menutup Selat Hormuz karena mereka bergantung pada impor barang-barang penting seperti pangan. Selain itu, sebagian besar ekspor mereka menuju China dan India sehingga langkah tersebut justru akan merugikan negara itu sendiri," kata pakar energi Sara Vakhshouri dari SVB Energy International kepada Bloomberg TV.
Harga minyak dan gas melonjak sejak AS dan Israel mulai menyerang Iran pada Sabtu (28/2/2026). Biaya satu barel minyak diperkirakan bisa naik hingga 100 dolar AS (sekitar Rp 1,6 juta) atau lebih jika pelayaran melalui Selat Hormuz menjadi terlalu berbahaya.
Baca juga: Ketegangan Memanas, Azerbaijan Tetap Kirim Bantuan Kemanusiaan ke Iran
Menurut Badan Informasi Energi (Energy Information Administration/EIA) Amerika Serikat, sekitar 20 persen minyak mentah yang dikonsumsi dunia diangkut melalui jalur laut ini. Lebih dari 80 persen pengiriman tersebut menuju Asia, terutama China, India, dan Jepang.
Menurut media Iran International, penutupan Selat Hormuz tidak hanya akan menghambat pengiriman minyak, tetapi juga bahan bakar penerbangan dan gas alam cair (LNG).
Sekitar 30 persen bahan bakar penerbangan Eropa dan 20 persen LNG global diangkut melalui jalur tersebut.
Banyak negara, termasuk Amerika Serikat (AS), negara anggota Uni Eropa, Inggris, Jepang, dan Kanada, memiliki cadangan strategis yang cukup untuk menghadapi gangguan pasokan sementara selama beberapa minggu.
Baca juga: Syarat Mutlak Iran untuk Negosiasi, Tak Ada Lagi Serangan di Masa Depan
Blokade tidak hanya akan menghambat pengiriman minyak dan gas dari negara-negara Teluk ke Barat, tetapi juga ekspor Iran yang ditujukan ke China dan India. Hal ini akan memperparah krisis ekonomi Iran.
Iran telah dikenai sanksi Barat sejak Revolusi Islam 1979, termasuk sanksi terhadap ekspornya. Sanksi tambahan dari PBB diberlakukan antara 2006 hingga 2015 terkait program nuklir Iran.
Sanksi sempat dilonggarkan antara 2016 dan 2018 setelah Iran ikut dalam kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Namun, Presiden AS Donald Trump kembali memberlakukan sanksi ketat setelah menarik AS dari kesepakatan tersebut.
Sanksi Barat juga membuka celah bagi Iran untuk tetap berdagang karena tidak ada sanksi bagi negara yang tidak mematuhi pembatasan tersebut.
Baca juga: Iran Akan Blokir Ekspor Minyak Timur Tengah ke Sekutu AS-Israel
Akibatnya, lebih dari 80 persen ekspor Iran dikirim ke China, menurut platform data dan analisis Kpler. Saat ini, China menjadi pembeli terbesar minyak dari Iran, Venezuela, dan Rusia.