Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Margarito Kamis
Dosen

Pakar Hukum Tata Negara Indonesia

Resonansi No Kings: Apakah Trump Presiden atau Raja?

Kompas.com, 31 Maret 2026, 07:30 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

NO King’s”, “King’s day”, "No dictator” itulah sebagian kata-kata di banner-banner yang ditulis demonstran Amerika Serikat dalam demonstrasi terhadap Presiden Donald Trump.

Kata-kata itu, harus saya akui, tidak cukup mengagetkan, apalagi menggetarkan, tetapi tetap saja menyentak.

Slogan-slogan yang tertera di lapisan demonstran itu dalam seluruh spektrumnya memperlihatkan konstitusionalisme yang menaruh akuntabilitas, transparansi dan responsibilitas di jantungnya, sedang rapuh, serapuh-rapuhnya.

Kerapuhan itu, kini dikoreksi delapan juta orang di jalan-jalan di berbagai kota di Amerika pada 28 Maret 2025.

Ini menarik, bukan karena jumah orang yang terlibat dalam demonstrasi itu, bukan juga karena jumlah itu lebih besar dari jumlah demonstrasi di Iran, yang diprovokasi pemerintah Amerika dan Israel.

Yang menarik adalah persitiwa ini terjadi di Amerika, negara pengekspor demokrasi ke berbagai negara di dunia.

Ditolak Sejak Awal

Harus diakui, pemerintahan berkarakter kerajaan, dengan raja sebagai bos-nya, raja sebagai sumber segala sumber, termasuk dan tidak terbatas pada hukum, sejak awal telah ditolak oleh para pembentuk UUD Amerika.

Penolakan itu diekspresikan secara terbuka oleh seorang delegasi dalam perdebatan pembentukan dan perumusan UUD di Philadelphia Constitutional Convention. Konvensi ini berlangsung sejak 27 Mei hingga 17 September 1787.

Baca juga: No Kings: Tanggungjawab Rakyat Amerika

Carol Berkin, sejarawan konstitusi yang meneliti gagasan-gagasan para pembentuk UUD Amerika di Philadelphia Constitutional Convention, mengidentifikasi penolakan gagasan pemerintahan berkarater Kerajaan.

Penolakan ini, menurut temuan Carol Berkin, muncul pada saat para delegasi dalam rapat itu, memperdebatkan gagasan tentang sistem pemerintahan.

Dibimbing oleh impian menciptakan pemerintahan yang efektif dan efisien, mereka menolak gagasan pemerintah dipegang oleh tiga orang, triumvirat.

Gagasan pemerintah dipegang oleh tiga orang, triumvirat, diusulkan Elbridge Gerry, delegasi Nort Carolina yang antifederalist.

Gerry, yang kelak menjadi Wakil Presiden James Madison, dirangsang oleh asumsi bahwa bentuk pemerintah triumvirat akan responsif terhadap seluruh negara bagian.

Gagasan Gerry ini disanggah oleh delegasi lainnya. Pemerintah triumvirat, menurut penyanggah, tidak menghasilkan pemerintahan yang efisien dan efektif.

Bagi mereka, pemerintah yang efektif akan terjadi bila dipegang oleh satu orang; single executive, presiden. Gagasan single executive inilah yang diapresiasi oleh hampir semua delegasi, walau bukan tanpa peringatan.

Gagasan single executive, presiden, diperingatkan oleh Edmond Randolph, delegasi Virginia. Dalam kata-katanya, Randolph mengatakan “nothing less that the foetus of monarchy.”

Menariknya, kekhawatiran ini segera disanggah oleh James Wilson, delegasi Pensilvania. Menurutnya, bukan “foetus monarchy”, tetapi merupakan “the best safeguard against tirany”.

Faktanya, konvensi berakhir dengan persetujuan tanpa syarat, kekuasaan pemerintah dipegang oleh satu orang, single executive, presiden.

Pemerintahan Presiden Donald Trump memberikan kelonggaran sementara terhadap sanksi pembelian minyak Iran di laut selama 30 hari. Kebijakan ini ditempuh sebagai upaya meredam lonjakan harga minyak dunia di tengah konflik dengan Iran.AFP/MANDEL NGAN Pemerintahan Presiden Donald Trump memberikan kelonggaran sementara terhadap sanksi pembelian minyak Iran di laut selama 30 hari. Kebijakan ini ditempuh sebagai upaya meredam lonjakan harga minyak dunia di tengah konflik dengan Iran.
No King’s dan No dictator, yang digemakan demonstran di sepanjang jalan, yang terlihat sangat asyik itu, apakah merupakan koreksi atas kesalahan premis para pembentuk UUD mereka? Entahlah. Itu soal lain.

Namun satu hal, Presiden Trump, yang digambarkan demonstran sebagai “King” telah mengambil kebijakan khas raja, dalam urusan tarif perdagangan dengan berbagai negara, termasuk Indonesia, imigrasi dan perang dengan Iran.

Baca juga: No Kings dan Ingatan Revolusi Amerika

Dalam penilaian demonstran, kebijakan ini diambil seperti titah sang raja, tanpa terlebih dahulu membicarakan dengan senat atau kongres. Dan kebijakan itu pula menurut demonstran menyengsarakan mereka.

Ketiga isu ini, untuk alasan sejarah benar-benar menarik dikenali lebih dalam. Thomas Jefferson, Presiden Amerika ke-3, tidak menunggu waktu memastikan keamanan perdagangan Amerika di Kawasan Afrika Utara – Libia, Maroko, Tunisia dan Aljazair, selalu terganggu.

Tanpa otorisasi Senat, Jefferson mengirimkan Angkatan Laut ke kawasan ini memerangi para perompak yang merampok kapal-kapal, memperbudak orang-orangnya.

Jauh sebelum Jefferson memegang kekuasaan presiden, Amerika telah memiliki Alien Enemy Act 1798.

Dilihat dari segi sejarah, pembentukan UU ini dirangsang oleh kekhawatiran Amerika terhadap orang-orang Perancis, yang negaranya sedang berperang dengan Inggris.

Orang-orang ini oleh pemerintah John Adam dicurigai akan melakukan tindakan-tindakan yang membahayakan keamanan negara ini.

Halaman:

Terkini Lainnya
Irak Mendadak 'Lupa Perang' Usai Lolos Piala Dunia, Ukir Sejarah 40 Tahun
Irak Mendadak "Lupa Perang" Usai Lolos Piala Dunia, Ukir Sejarah 40 Tahun
Internasional
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Internasional
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Internasional
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Internasional
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Internasional
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal 'Nyangkut' di Ruang Mesin
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal "Nyangkut" di Ruang Mesin
Internasional
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Internasional
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Internasional
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
Internasional
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Internasional
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Internasional
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Internasional
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Internasional
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Internasional
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Resonansi No Kings: Apakah Trump Presiden atau Raja?
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat