Mulai dari suhu air yang terlalu panas, takaran bubuk yang tidak konsisten, hingga kualitas air yang diabaikan, kesalahan-kesalahan ini bisa membuat kopi terasa pahit, asam berlebihan, atau hambar meski menggunakan biji berkualitas.
Artikel ini menghadirkan tips dari barista mengenai cara menyeduh kopi yang benar agar rasa tetap maksimal.
Dengan memahami efek dari kesalahan seduh, seperti ekstraksi berlebih, aroma yang hilang, atau body yang terlalu tipis, pembaca dapat memperbaiki kebiasaan harian dan menikmati secangkir kopi rumahan yang jauh lebih nikmat.
Kesalahan dalam membuat kopi
Indah, barista dari Smiljan, mengatakan penyebab kopi rumahan tidak seenak kopi ala kafe atau kedai kopi karena orang awam sering melakukan kesalahan dalam proses penyeduhan.
Lantas, apa saja kesalahan tersebut? Ini selengkapnya:
1. Tidak memperhatikan atau mempelajari roast profile
Proses pascapanen dan roasting date, adalah fase yang berperan besar pada rasa dan karakter kopi.
Jadi sebaiknya masyarakat tahu, jenis biji kopi yang dibelinya. Apakah berjenis natural, full washed, atau honey.
"Cara seduh berbeda-beda untuk masing-masing jenis biji kopi. Seperti misalnya biji kopi natural ekstrasinya lebih mudah, jadi sebaiknya kontak dengan air jangan terlalu banyak. Jenis gilingan kopi juga jangan terlalu halus, diseduh dengan suhu jangan terlalu tinggi, sekitar 89-91 derajat Celsius saja," ujarnya kepada Kompas.com saat ditemui di Melek Huruf, Borobudur, Minggu (7/12/2025).
Biji kopi jenis honey juga mudah diekstrasi. Sehingga sebaiknya tidak digiling terlalu halus.
Berbeda dengan full washed yang bisa digiling halus dan diseduh dengan suhu lebih tinggi, antara 90-92 derajat Celsius.
2. Menyimpan kopi dengan salah
Salah cara dalam menyimpan kopi bisa membuat kopi kehilangan kesegarannya lebih cepat.
Agar kopi awet, Indah menyarankan menyimpan kopi dalam di wadah kedap udara, dan usahakan tidak terkena sinar Matahari langsung.
"Panas bisa memengaruhi rasa kopi cepat hilang," ujar Indah.
Jika tak ada wadah, Anda bisa menyimpan biji kopi di wadah atau kemasan aslinya. Asalkan, kemasan kopi memang ideal, yaitu dilengkapi lubang valve. Lubang ini berfungsi mengeluarkan gas karbon dioksida (CO2) dari dalam kemasan kopi.
"Setelah di-roasting, biji kopi akan mengeluarkan gas CO2. Gas yang terperangkan akan menutup rasa alami kopi," paparnya.
3. Tidak memperhatikan rasio
Rasio penting karena menentukan banyaknya air yang dipakai dan hasil akhir rasa. Menurut Indah, rasio yang umum dipakai adalah 1:15 (1 berat kopi x 15 berat air).
Apakah rasio bisa diubah? Bisa disesuaikan dengan preferensi masing-masing. Rasio lain yang umum dipakai adalah:
4. Tidak memperhatikan agitasi/kontak air pada bubuk kopi
Air dan tuangan berperan penting pada hasil akhir, maka dari itu, agitasi harus diperhatikan.
Air harus membasahi bubuk kopi dengan merata agar ekstraksi lebih maksimal.
"Biasanya dalam manual brew kita menggunakan 3 kali tuangan, rasio yang dipakai 1:16, yaitu 13 gr kopi dengan 210 gr air," ujar indah.
"Pour terakhir yang menentukan akhir ekstraksi dan kejelasan rasa," ujarnya.
5. Tidak mengatur suhu dengan baik
Menurut Indah, suhu terlalu tinggi bisa menyebabkan overextract, dan suhu terlalu rendah bisa menyebabkan underextract.
Perhatikan proses pascapanen dan seberapa gelap biji kopi untuk menentukan suhu air yang dipakai.
6. Menggunakan air keran
Apakah air keran bisa digunakan menyeduh kopi? Indah tidak menyarankan siapa pun menyeduh kopi menggunakan air keran, karena kita tidak pernah tahu mineral yang terkandung di dalamnya.
"Karena kandungan mineral dalam air sangat memengaruhi rasa seduhan kopi," wanti-wanti Indah.
Jika ingin citarasa kopi yang lebih ringan, maka pilihkan air galon/air kemasan yang memiliki kandungan mineral nol.
Jika ingin body kopi lebih tebal, pilih air kemasan dengan kandungan mineral tinggi.
Mineral berfungsi menarik minyak esensial di dalam biji kopi.
Itulah kesalahan yang sering dilakukan barista rumahan. Indah menyarankan agar "barista" rumahan mengulik terus proses seduhannya.
"Saya pribadi, setiap coba resep seduh atau teknik baru, selalu mencatatnya di buku untuk bahan belajar selanjutnya," pungkasnya.
https://www.kompas.com/jawa-tengah/read/2025/12/10/180000688/barista-ungkap-kesalahan-dalam-membuat-kopi-bolehkah-pakai-air-keran