KOMPAS.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau kembali menunjukkan tren yang mengkhawatirkan bahkan sebelum puncak musim kemarau tiba.
Dalam tiga bulan pertama tahun 2026, luas lahan yang terbakar telah mencapai ribuan hektare, menjadi sinyal awal meningkatnya potensi kebakaran skala besar.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat total luas karhutla di Riau mencapai 2.713,26 hektare dalam periode 1 Januari hingga 24 Maret 2026.
Data tersebut menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam waktu relatif singkat, terutama di wilayah yang dikenal rawan kebakaran.
Apa yang memicu peningkatan karhutla di awal tahun?
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyebut angka tersebut merupakan akumulasi laporan terbaru per 25 Maret yang menunjukkan tren kenaikan luas kebakaran di sejumlah titik strategis.
Lonjakan kebakaran tercatat di beberapa kabupaten seperti Siak, Pelalawan, Indragiri Hulu, dan Indragiri Hilir.
Wilayah ini memiliki karakteristik lahan gambut yang mudah terbakar, terutama saat kondisi mulai mengering.
Kondisi ini menjadi perhatian karena terjadi ketika musim kemarau belum mencapai puncaknya. Sejumlah pihak menilai situasi tersebut sebagai peringatan dini terhadap potensi kebakaran yang lebih luas.
Bagaimana respons pemerintah terhadap kondisi ini?
Merespons meningkatnya kasus karhutla, Pemerintah Provinsi Riau telah menetapkan status siaga darurat karhutla hingga 30 November 2026. Langkah ini bertujuan mempercepat koordinasi lintas instansi dalam penanganan kebakaran.
BNPB bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), tim Manggala Agni Kementerian Kehutanan wilayah Sumatera, serta unsur terkait lainnya terus melakukan penanganan darurat secara intensif.
Langkah-langkah ini diharapkan mampu menekan dampak kesehatan dan sosial akibat karhutla yang kerap menimbulkan kabut asap.
Apakah El Nino memperparah risiko karhutla?
Kondisi ini semakin mengkhawatirkan karena bertepatan dengan prediksi fenomena El Nino pada tahun 2026.
El Nino diketahui dapat menyebabkan musim kemarau lebih panjang dan kondisi cuaca yang lebih kering.
Akibatnya, lahan gambut menjadi lebih mudah terbakar dan api dapat menyebar dengan cepat jika tidak segera ditangani.
Jika tidak diantisipasi sejak dini, kondisi ini berpotensi memicu kebakaran besar seperti yang pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.
https://www.kompas.com/riau/read/2026/03/27/083636588/karhutla-riau-capai-2713-hektare-di-awal-2026-alarm-bahaya-jelang-el-nino