KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim kemarau 2026 di Sumatera Selatan (Sumsel) berlangsung mulai bulan Mei 2026.
Adapun puncak musim kemarau di Sumsel diperkirakan terjadi pada bulan Juli hingga Agustus 2026.
Dilansir Antara (30/3/2026), Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Sumsel Wandayantolis mengatakan sejumlah wilayah di Sumsel berpotensi mengalami kemarau lebih awal dibandingkan daerah lainnya.
Berdasarkan analisis iklim, puncak musim kemarau lebih dulu terjadi di Zona Musim (ZOM) 125 dan 135. Wilayah ini berpotensi mengalami puncak kemarau lebih awal satu bulan.
ZOM 125 sendiri meliputi wilayah Palembang, Musi Banyuasin, Penukal Abab Lematang Ilir, Muara Enim, dan Ogan Ilir.
Sementara ZOM 135 mencakup wilayah Ogan Komering Ilir (OKI) dan Ogan Komering Ulu (OKU) Timur.
Kemudian, sebanyak 12 ZOM lainnya di Sumatera Selatan diperkirakan mengalami puncak musim kemarau pada Agustus 2026.
Namun, untuk ZOM 137 yang meliputi Pagar Alam, Lahat bagian selatan dan barat, sebagian kecil Musi Rawas bagian selatan, serta sebagian kecil Empat Lawang bagian timur, puncak kemarau diprediksi terjadi lebih lambat sekitar satu bulan dari kondisi normal.
Musim kemarau 2026 Sumsel berlangsung 3-5 bulan
Durasi musim kemarau di Sumatera Selatan tahun ini diperkirakan berlangsung antara 7 hingga 15 dasarian atau sekitar tiga hingga lima bulan.
“Wilayah Sumsel bagian tengah diprediksi mengalami kemarau terlama, yakni sekitar 13 hingga 15 dasarian,” kata Wandayantolis..
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau.
Terutama potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kekeringan, serta keterbatasan air bersih. Wandayantolis juga meminta pemerintah daerah agar meningkatkan kesiapsiagaan.
Ini termasuk pengendalian titik panas dan pengelolaan sumber daya air guna meminimalkan dampak selama periode musim kemarau.
Kemarau 2026 di Sumsel diprediksi lebih kering
Sebelumnya, BMKG juga memprakirakan musim kemarau di Sumsel lebih kering dibandingkan kondisi normal seiring dengan rendahnya curah hujan di sebagian besar wilayah di provinsi tersebut.
Awal musim kemarau di Sumsel diprediksi terjadi pada Mei hingga Juni 2026, dengan mayoritas wilayah mulai memasuki musim kemarau pada awal hingga pertengahan Juni.
“Sekitar 29 persen wilayah mulai kemarau pada akhir Mei, dan sekitar 64 persen wilayah lainnya terjadi pada awal sampai pertengahan Juni,” kata Wandayantolis, Rabu (25/3/2026).
Menurut dia, tahun ini sebagian besar wilayah Sumatera Selatan mengalami percepatan awal musim kemarau dibandingkan rata-rata klimatologis periode 1991–2020.
“Sekitar 64 persen wilayah mengalami kemajuan hingga dua dasarian atau sekitar 20 hari lebih cepat dari biasanya,” ujarnya.
Ini karena musim kemarau 2026 datang lebih awal dari pola normal. Sehingga, sifat musim kemaraunya didominasi kondisi bawah normal, yang berarti curah hujan diprediksi lebih rendah dari biasanya.
“Hanya sebagian kecil wilayah yang bersifat normal, selebihnya lebih kering sehingga potensi kekeringan perlu diwaspadai,” jelas Wandayantolis.
https://www.kompas.com/sumatera-selatan/read/2026/03/30/200000288/bmkg--musim-kemarau-di-sumsel-diprediksi-berlangsung-mulai-mei