
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
KITA perlu hati-hti dalam menggunakan kata “groom” atau “grooming”. Kata ini punya dua makna yang saling berlawanan, yakni positif dan negatif. Sekadar contoh. Seorang pria direktur sebuah perusahaan sedang meng-grooming salah seorang sekretarisnya.
Dari sisi makna positif, si direktur sedang mempersiapkan seorang sekretarisnya untuk menduduki posisi strategis di kantornya. Penyiapan dilakukan dengan memberi pelatihan-pelatihan memimpin, dan cara berpakaian yang elegan.
Sementara kalimat tersebut juga bisa diartikan dari sisi negatif. Si direktur sedang melakukan bujuk-rayu, dan memanipulasi psikologis, seakan-akan melindungi. Padahal tujuan utama yang disembunyikan dengan penuh kehati-hatian adalah pelecehan seksual, atau pelibatan dalam dunia kejahatan, seperti terorisme, dan perdagangan narkotika dan obat-obatan terlarang.
Istilah “grooming” (Bahasa Inggris), belakangan ini mendadak dominan bermakna negatif daripada positif yang selama ini diketahui banyak orang. Dominasi negatif kata “grooming” mewarnai jagat media, setelah terbit memoar Aurélie Alida Marie Moeremans, aktris dan penyanyi Indonesia, kelahiran Brussel, Belgia 1993.
Melalui memoarnya berjudul “Broken Strings” yang beredar Januari 2026, ia dengan jujur menyatakan dirinya menjadi korban (child) grooming, sejak usia 15 tahun.
United Nations Children's Fund (UNICEF), badan PBB yang berdedikasi untuk melindungi hak, kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan anak-anak serta perempuan di seluruh dunia, memberi definisi (child) grooming adalah proses membangun relasi dengan seseorang anak agar terlibat dalam aktivitas seksual dengan cara memikat, memanipulasi, atau menghasut anak, baik secara langsung maupun melalui internet. (BBC News Indonesia, 17 Januari 2026).
Istilah “grooming” selanjutnya digunakan untuk melabeli perbuatan tercela seorang guru wali kelas sebuah Sekolah Dasar Negeri di Serpong, Tangerang Selatan yang diduga mencabuli 16 murid pria. Kasus ini sedang ditangani Kepolisian Resort Tangerang Selatan (Kompas, Kamis, 22 Januari 2026).
Baca juga: Pelaku Child Grooming Sering Terlihat Baik, Ini Ciri-cirinya
Istilah “grooming” sebelumnya banyak dimaknai sebagai perbuatan positif, seperti bersolek, merawat kuda, merawat anjing, dan bahkan bermakna mempelai.
Dalam Dictionary of English and Culture, Longman Group UK Limited 1992, disebutkan “grooming” berasal dari kata “groom” (kata benda) yang berati orang yang bertanggung jawab merawat kuda, termasuk memberi makan, dan membersihkan. Bahkan “groom” dalam kamus ini juga dimaknai “mempelai (bridegroom)”.
“Groom” juga didefinisikan sebagai kata kerja yang berarti merawat penampilan diri dengan berpakaian necis, bersih, dan menjaga rambut selalu rapi.
Sementara “groom” untuk binatang, diartikan membersihkan bulu atau kulit baik dilakukan binatang sendiri atau binatang lainnya, saling membersihkan. Seperti monyet atau ayam membesihkan bulu sesamanya.
Masih bermakna positif, dalam kamus yang sama, kata “groom”berarti mempersiapkan seseorang untuk menempati posisi khusus.
Kamus lain Oxford Language (online) juga mendefinisikan dengan makna senada: “grooming” adalah menyiapkan seseorang dengan pelatihan untuk tujuan khusus untuk selanjutnya diberi tugas khusus, misalnya untuk kemajuan instansi atau bisnis perusahaan. Misalnya, seorang calon manajer diberi pelatihan khusus bagaimana cara memimpin rapat, memberi pengarahan, dan cara berpakaian yang pantas.
Akan tetapi kamus Oxford (online) juga memberi makna “grooming”dengan definisi yang mengandung makna negatif. Menurut kamus ini “grooming” adalah tindakan mencoba menjalin hubungan dengan seorang anak atau remaja, dengan maksud untuk melakukan pelecehan seksual terhadap mereka, atau membujuk mereka untuk melakukan tindakan ilegal seperti menjual narkoba atau bergabung dengan organisasi teroris.
Tindakan “grooming” juga dilakukan melalui jaringan internet yang kini marak dan semestinya menjadi perhatian bersama, supaya tidak memangsa banyak korban.
Karena kata “groom” mempunyai dua makna yang saling berlawanan, dalam berkomunikasi diperlukan kehati-hatian. Bagi penerima informasi tertulis maupun lisan, juga perlu hati-hati. LIhat konteks-nya, supaya tidak salah paham.
Baca juga: Mengapa Anak Tidak Sadar Dirinya Sedang Jadi Korban Child Grooming?
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang