
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
RAMADHAN dikenal sebagai bulan menahan diri. Namun bagi banyak orang, justru inilah waktu ketika pengeluaran paling sulit ditahan. Antara takjil, mudik, dan tuntutan silaturahmi, ibadah sering berjalan berdampingan dengan tekanan ekonomi dan tuntutan sosial musiman.
Dalam celah inilah pinjaman online (pinjol) hadir. Ia bukan sekadar produk finansial digital, tetapi menjadi mekanisme adaptasi masyarakat terhadap tuntutan sosial yang datang sekaligus. Ironinya, bulan menahan diri justru menjadi momen berutang.
Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan penyaluran pinjaman online secara konsisten meningkat saat Ramadhan. Pada Ramadhan 2024 pendanaan pinjol tumbuh 8,9 persen secara bulanan, dan pada 2025 meningkat kembali 3,8 persen—dengan sekitar 67 persen di antaranya bersifat konsumtif.
Artinya mayoritas utang tidak digunakan untuk usaha, melainkan untuk mempertahankan ritme sosial musiman.
Dalam praktiknya, lemahnya verifikasi kemampuan bayar serta kemudahan akses membuat sebagian peminjam terjebak dalam praktik “gali lubang tutup lubang”, yakni meminjam baru untuk menutup pinjaman lama (BBC 2025). Dalam bahasa sederhana: masyarakat tidak berutang karena boros, tetapi karena tidak ingin tertinggal secara sosial.
Baca juga: Riset UI Ungkap Alasan Psikologis Orang Ambil Pinjol dan Investasi Bodong
Pinjaman online sendiri lahir dari tujuan yang sah: memperluas inklusi keuangan. Model peer-to-peer lending memungkinkan masyarakat tanpa akses bank memperoleh dana cepat tanpa agunan. Dalam kondisi normal, ini membantu kebutuhan darurat dan usaha kecil. Namun karakteristik teknologi, pencairan instan, tanpa tatap muka, tanpa jeda refleksi, mengubah relasi psikologis manusia dengan uang. Utang terasa seperti saldo tambahan, bukan kewajiban masa depan.
Masalah menjadi lebih kompleks karena pinjol di Indonesia berkembang dalam ekosistem platform. Ia terhubung dengan e-commerce, paylater, hingga aplikasi hiburan. Akibatnya, keputusan konsumsi dan keputusan berutang terjadi dalam satu klik yang sama. Psikologi perilaku menyebut kondisi ini sebagai frictionless decision making—ketika hambatan kognitif dihilangkan, impuls meningkat (Thaler & Sunstein, 2008). Maka pinjol bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi desain lingkungan keputusan.
Baca juga: Pinjol: Antara Akses Pembiayaan Cepat dan Jeratan Utang
Jenis aplikasi pinjol pun sangat beragam: dari platform legal berizin OJK hingga aplikasi ilegal yang berganti nama setiap saat. OJK secara berkala menutup ribuan pinjol ilegal setiap tahun, menandakan skala masalah yang besar (OJK, 2021). Pengguna berasal dari berbagai kalangan, namun proporsi terbesar tetap berasal dari kelompok berpendapatan rendah, pekerja informal, dan pekerja gig economy (misalnya driver ojek online)—kelompok dengan pendapatan tidak stabil.
Rekam masalah akibat pinjol juga tidak sedikit. Media melaporkan kasus keluarga kehilangan dana pendidikan anak, intimidasi penagihan, hingga bunuh diri akibat tekanan utang. Studi mengenai payday loans di berbagai negara menunjukkan pola serupa: pinjaman jangka pendek dengan bunga tinggi cenderung memperburuk kondisi finansial peminjam, bukan memperbaikinya (Melzer, 2011).
Baca juga: Pinjol dan Ilusi Ketahanan Ekonomi Rakyat
Dalam jangka panjang, utang berulang meningkatkan stres, kecemasan, dan konflik keluarga (Sweet et al., 2013). Dampaknya paling terasa pada kelompok menengah ke bawah. Banyak pengguna meminjam bukan untuk gaya hidup mewah, melainkan kebutuhan dasar.
Ketua Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia menyebut lebih dari separuh peminjam menggunakan pinjol untuk kebutuhan sehari-hari (BBC 2025). Hal ini menunjukkan bahwa pinjaman online digunakan secara sistemik dan masif di masyarakat menengah kebawah
Dalam konteks Ramadhan, kebutuhan sosial meningkat secara cukup signifikan, sementara pendapatan tidak. Bagi kelas menengah, ini mungkin sekadar pengeluaran musiman. Namun bagi pekerja informal dengan pendapatan tidak stabil, satu keputusan utang bisa bertahan berbulan-bulan setelah takbir berhenti. Lebaran selesai, cicilan tetap tinggal.
Ramadhan mengajarkan menahan diri, tetapi lingkungan kita justru bergerak ke arah sebaliknya dan cenderung konsumtif. Promo musiman, tekanan sosial Lebaran, dan kemudahan transaksi digital membuat konsumsi terasa wajar bahkan perlu. Dalam situasi seperti ini, yang diuji bukan hanya kesabaran individu, melainkan juga bagaimana sistem membentuk pilihan kita.
Tantangannya bukan sekadar menahan lapar, melainkan menjaga jarak dari keputusan yang dipermudah oleh teknologi—agar ibadah tetap menjadi ruang refleksi, bukan sekadar jeda sebelum cicilan berikutnya datang.
Baca juga: Utang Pinjol Warga RI Nyaris Rp 100 Triliun, Risiko Kredit Naik
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang