Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Angtyasti Jiwasiddi
Dosen

Dosen & peneliti Information Systems

Lebaran Datang, Tagihan Pinjol Menyusul

Kompas.com, 20 Februari 2026, 14:42 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

RAMADHAN dikenal sebagai bulan menahan diri. Namun bagi banyak orang, justru inilah waktu ketika pengeluaran paling sulit ditahan. Antara takjil, mudik, dan tuntutan silaturahmi, ibadah sering berjalan berdampingan dengan tekanan ekonomi dan tuntutan sosial musiman.

Dalam celah inilah pinjaman online (pinjol) hadir. Ia bukan sekadar produk finansial digital, tetapi menjadi mekanisme adaptasi masyarakat terhadap tuntutan sosial yang datang sekaligus. Ironinya, bulan menahan diri justru menjadi momen berutang.

Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan penyaluran pinjaman online secara konsisten meningkat saat Ramadhan. Pada Ramadhan 2024 pendanaan pinjol tumbuh 8,9 persen secara bulanan, dan pada 2025 meningkat kembali 3,8 persen—dengan sekitar 67 persen di antaranya bersifat konsumtif.

Artinya mayoritas utang tidak digunakan untuk usaha, melainkan untuk mempertahankan ritme sosial musiman.

Dalam praktiknya, lemahnya verifikasi kemampuan bayar serta kemudahan akses membuat sebagian peminjam terjebak dalam praktik “gali lubang tutup lubang”, yakni meminjam baru untuk menutup pinjaman lama (BBC 2025). Dalam bahasa sederhana: masyarakat tidak berutang karena boros, tetapi karena tidak ingin tertinggal secara sosial.

Baca juga: Riset UI Ungkap Alasan Psikologis Orang Ambil Pinjol dan Investasi Bodong

Pinjaman online sendiri lahir dari tujuan yang sah: memperluas inklusi keuangan. Model peer-to-peer lending memungkinkan masyarakat tanpa akses bank memperoleh dana cepat tanpa agunan. Dalam kondisi normal, ini membantu kebutuhan darurat dan usaha kecil. Namun karakteristik teknologi, pencairan instan, tanpa tatap muka, tanpa jeda refleksi, mengubah relasi psikologis manusia dengan uang. Utang terasa seperti saldo tambahan, bukan kewajiban masa depan.

Masalah menjadi lebih kompleks karena pinjol di Indonesia berkembang dalam ekosistem platform. Ia terhubung dengan e-commerce, paylater, hingga aplikasi hiburan. Akibatnya, keputusan konsumsi dan keputusan berutang terjadi dalam satu klik yang sama. Psikologi perilaku menyebut kondisi ini sebagai frictionless decision making—ketika hambatan kognitif dihilangkan, impuls meningkat (Thaler & Sunstein, 2008). Maka pinjol bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi desain lingkungan keputusan.

Baca juga: Pinjol: Antara Akses Pembiayaan Cepat dan Jeratan Utang

Jenis aplikasi pinjol pun sangat beragam: dari platform legal berizin OJK hingga aplikasi ilegal yang berganti nama setiap saat. OJK secara berkala menutup ribuan pinjol ilegal setiap tahun, menandakan skala masalah yang besar (OJK, 2021). Pengguna berasal dari berbagai kalangan, namun proporsi terbesar tetap berasal dari kelompok berpendapatan rendah, pekerja informal, dan pekerja gig economy (misalnya driver ojek online)—kelompok dengan pendapatan tidak stabil.

Rekam masalah akibat pinjol juga tidak sedikit. Media melaporkan kasus keluarga kehilangan dana pendidikan anak, intimidasi penagihan, hingga bunuh diri akibat tekanan utang. Studi mengenai payday loans di berbagai negara menunjukkan pola serupa: pinjaman jangka pendek dengan bunga tinggi cenderung memperburuk kondisi finansial peminjam, bukan memperbaikinya (Melzer, 2011).

Baca juga: Pinjol dan Ilusi Ketahanan Ekonomi Rakyat

Dalam jangka panjang, utang berulang meningkatkan stres, kecemasan, dan konflik keluarga (Sweet et al., 2013). Dampaknya paling terasa pada kelompok menengah ke bawah. Banyak pengguna meminjam bukan untuk gaya hidup mewah, melainkan kebutuhan dasar.

Ketua Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia menyebut lebih dari separuh peminjam menggunakan pinjol untuk kebutuhan sehari-hari (BBC 2025). Hal ini menunjukkan bahwa pinjaman online digunakan secara sistemik dan masif di masyarakat menengah kebawah

Dalam konteks Ramadhan, kebutuhan sosial meningkat secara cukup signifikan, sementara pendapatan tidak. Bagi kelas menengah, ini mungkin sekadar pengeluaran musiman. Namun bagi pekerja informal dengan pendapatan tidak stabil, satu keputusan utang bisa bertahan berbulan-bulan setelah takbir berhenti. Lebaran selesai, cicilan tetap tinggal.

Ramadhan mengajarkan menahan diri, tetapi lingkungan kita justru bergerak ke arah sebaliknya dan cenderung konsumtif. Promo musiman, tekanan sosial Lebaran, dan kemudahan transaksi digital membuat konsumsi terasa wajar bahkan perlu. Dalam situasi seperti ini, yang diuji bukan hanya kesabaran individu, melainkan juga bagaimana sistem membentuk pilihan kita.

Tantangannya bukan sekadar menahan lapar, melainkan menjaga jarak dari keputusan yang dipermudah oleh teknologi—agar ibadah tetap menjadi ruang refleksi, bukan sekadar jeda sebelum cicilan berikutnya datang. 

Baca juga: Utang Pinjol Warga RI Nyaris Rp 100 Triliun, Risiko Kredit Naik

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang



Terkini Lainnya
10 Cara Hemat BBM Mobil Matic, Kurangi Boros dengan Tips Sederhana
10 Cara Hemat BBM Mobil Matic, Kurangi Boros dengan Tips Sederhana
Tren
10 Kota Teraman di Asia Tenggara 2026, Jakarta Ungguli Bangkok dan Kuala Lumpur
10 Kota Teraman di Asia Tenggara 2026, Jakarta Ungguli Bangkok dan Kuala Lumpur
Tren
Sejumlah Media Malaysia Soroti WFH ASN Indonesia, Apa Kata Mereka?
Sejumlah Media Malaysia Soroti WFH ASN Indonesia, Apa Kata Mereka?
Tren
Trump Kesal Sekutu Eropa Tak Bantu AS, Minta Inggris dan Perancis Cari Minyak Sendiri
Trump Kesal Sekutu Eropa Tak Bantu AS, Minta Inggris dan Perancis Cari Minyak Sendiri
Tren
Siaga Perang, Armada Kapal Induk AS Bertambah di Timur Tengah, Ini Kecanggihan USS George HW Bush
Siaga Perang, Armada Kapal Induk AS Bertambah di Timur Tengah, Ini Kecanggihan USS George HW Bush
Tren
Trump Bentuk Dewan Sains, Dipenuhi Taipan, Hanya Ada 1 Ilmuwan
Trump Bentuk Dewan Sains, Dipenuhi Taipan, Hanya Ada 1 Ilmuwan
Tren
10 Orang Terkaya di Dunia Awal April 2026 Versi Forbes, Kekayaan Elon Musk Rp 13.862 triliun
10 Orang Terkaya di Dunia Awal April 2026 Versi Forbes, Kekayaan Elon Musk Rp 13.862 triliun
Tren
Ancaman Nyata Pesisir Utara Jawa: Pekalongan, Semarang, Jakarta Bisa Tenggelam
Ancaman Nyata Pesisir Utara Jawa: Pekalongan, Semarang, Jakarta Bisa Tenggelam
Tren
Berlaku 1 April 2026, Ini 7 Aturan Baru Transformasi Budaya Kerja, WFH ASN hingga Efisiensi Perjalanan Dinas
Berlaku 1 April 2026, Ini 7 Aturan Baru Transformasi Budaya Kerja, WFH ASN hingga Efisiensi Perjalanan Dinas
Tren
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Tren
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, IDF Tak Mau Disalahkan
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, IDF Tak Mau Disalahkan
Tren
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Tren
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Tren
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Tren
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau