Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Ija Suntana
Dosen

Pengajar pada Program Studi Hukum Tata Negara UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Mudik Performatif, Mudik Kamuflase, dan Ancaman Mudik Ekstraktif

Kompas.com, 19 Maret 2026, 08:00 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

DI PERMUKAAN, mudik terlihat sebagai peristiwa sederhana. Orang pulang menemui orang tua, saudara, dan kampung halaman.

Namun, mudik sebenarnya adalah peristiwa sosial yang sarat dengan status, strategi sosial, dan bahkan masa depan.

Dalam praktiknya, gaya mudik perantau dapat dilihat setidaknya dalam tiga tipe. Pertama, mudik performatif. Dalam tipe ini, pulang kampung menjadi panggung untuk menampilkan keberhasilan hidup di kota.

Penampilan diatur sedemikian rupa. Pakaian baru, kendaraan yang terlihat mapan, gawai mahal, dan oleh-oleh yang melimpah. Tidak jarang ada yang rela menyewa telepon genggam mahal agar tampak lebih “sukses”.

Mudik tipe ini menjadi semacam presentasi sosial. Seseorang ingin memperlihatkan bahwa perjalanan merantau tidak sia-sia, ada hasilnya.

Kedua, mudik kamuflase. Jika yang pertama menaikkan citra, yang kedua justru menurunkannya.

Baca juga: Pemotongan Gaji Pejabat: Serius atau Sekadar Gimik?

Sebagian perantau sengaja tampil biasa saja ketika pulang kampung. Bukan semata-mata karena rendah hati, tetapi karena perhitungan sosial yang sangat realistis.

Di banyak tempat, seseorang yang terlihat sukses sering dianggap memiliki kemampuan finansial yang lebih.

Dari situlah muncul berbagai permintaan bantuan, pinjaman, atau tanggung jawab sosial tambahan. Agar tidak dibebani ekspektasi semacam itu, sebagian perantau memilih strategi sederhana, yaitu menyembunyikan tanda-tanda kemapanan.

Ketiga, mudik strategis. Mudik tipe ini berorientasi pada makna relasi dan masa depan. Dalam tipe ini, pulang kampung bukan panggung reputasi dan bukan pula strategi menghindari tuntutan secara kamuflase. Mudik dimaknai sebagai kesempatan membaca masa depan kampung halaman.

Pada tipe ketiga ini, perantau membawa pengalaman hidup di kota. Dalam percakapan santai di rumah keluarga atau di warung kopi desa, bisa terjadi transfer pengalaman.

Informasi tentang peluang usaha atau teknologi sederhana bisa mengalir melalui percakapan informal.

Dalam konteks pembangunan desa, mudik strategis sebenarnya dapat membantu pemerintah meningkatkan kapasitas masyarakat.

Negara tentu memiliki program untuk meningkatkan kapasitas warga di pedesaan, tetapi jangkauannya selalu terbatas karena banyak faktor.

Mudik, dalam batas tertentu, bisa menjadi mekanisme sosial yang membantu proses peningkatan kapasitas masyarakat desa. Perantau membawa pengetahuan, jaringan, dan kadang modal kecil yang dapat memicu aktivitas ekonomi lokal.

Halaman:
Baca tentang


Terkini Lainnya
10 Cara Hemat BBM Mobil Matic, Kurangi Boros dengan Tips Sederhana
10 Cara Hemat BBM Mobil Matic, Kurangi Boros dengan Tips Sederhana
Tren
10 Kota Teraman di Asia Tenggara 2026, Jakarta Ungguli Bangkok dan Kuala Lumpur
10 Kota Teraman di Asia Tenggara 2026, Jakarta Ungguli Bangkok dan Kuala Lumpur
Tren
Sejumlah Media Malaysia Soroti WFH ASN Indonesia, Apa Kata Mereka?
Sejumlah Media Malaysia Soroti WFH ASN Indonesia, Apa Kata Mereka?
Tren
Trump Kesal Sekutu Eropa Tak Bantu AS, Minta Inggris dan Perancis Cari Minyak Sendiri
Trump Kesal Sekutu Eropa Tak Bantu AS, Minta Inggris dan Perancis Cari Minyak Sendiri
Tren
Siaga Perang, Armada Kapal Induk AS Bertambah di Timur Tengah, Ini Kecanggihan USS George HW Bush
Siaga Perang, Armada Kapal Induk AS Bertambah di Timur Tengah, Ini Kecanggihan USS George HW Bush
Tren
Trump Bentuk Dewan Sains, Dipenuhi Taipan, Hanya Ada 1 Ilmuwan
Trump Bentuk Dewan Sains, Dipenuhi Taipan, Hanya Ada 1 Ilmuwan
Tren
10 Orang Terkaya di Dunia Awal April 2026 Versi Forbes, Kekayaan Elon Musk Rp 13.862 triliun
10 Orang Terkaya di Dunia Awal April 2026 Versi Forbes, Kekayaan Elon Musk Rp 13.862 triliun
Tren
Ancaman Nyata Pesisir Utara Jawa: Pekalongan, Semarang, Jakarta Bisa Tenggelam
Ancaman Nyata Pesisir Utara Jawa: Pekalongan, Semarang, Jakarta Bisa Tenggelam
Tren
Berlaku 1 April 2026, Ini 7 Aturan Baru Transformasi Budaya Kerja, WFH ASN hingga Efisiensi Perjalanan Dinas
Berlaku 1 April 2026, Ini 7 Aturan Baru Transformasi Budaya Kerja, WFH ASN hingga Efisiensi Perjalanan Dinas
Tren
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Tren
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, IDF Tak Mau Disalahkan
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, IDF Tak Mau Disalahkan
Tren
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Tren
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Tren
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Tren
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau