Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tol Bocimi Arah Sukabumi Macet, Besok Diprediksi Lebih Padat

Kompas.com, 23 Maret 2026, 15:59 WIB
Afdhalul Ikhsan,
Diamanty Meiliana

Tim Redaksi

BOGOR, KOMPAS.com - Kepadatan kendaraan mulai terjadi di ruas tol menuju Sukabumi, termasuk di Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi), seiring meningkatnya mobilitas masyarakat pada masa libur Lebaran 2026.

Kapolda Jawa Barat Irjen Rudi Setiawan mengakui adanya kepadatan hingga menimbulkan antrean panjang kendaraan.

Ia menyebut bahwa peningkatan volume kendaraan di jalur tol diperkirakan masih akan terus bertambah dalam waktu dekat.

"Ya, untuk jalur tol ya, ini kita selalu berkoordinasi dengan Korlantas Polri. Ini situasi sekarang jelas ada peningkatan tapi saya lihat mungkin besok ya akan terjadi peningkatan lagi (lebih padat)," kata Rudi saat meninjau situasi lalu lintas di Pospol Hoegeng, Gadog, Puncak, Bogor, Senin (23/3/2026).

Baca juga: Jelang Lebaran, 7.758 Kendaraan Keluar dari Tol Fungsional Bocimi Menuju Sukabumi

Ia menjelaskan, kepolisian terus berkoordinasi dengan Korlantas Polri untuk menentukan pola rekayasa lalu lintas yang akan diterapkan di ruas tol tersebut.

Menurut dia, skema rekayasa bisa berupa one way sepenggal hingga penerapan one way skala nasional untuk mengurai kemacetan.

Namun rekayasa itu juga tergantung kondisi di lapangan alias bersifat situasional.

“Nanti rekayasa lalu lintasnya kita mengikut dari Mabes Polri. Apakah nanti mulai one way sepenggal atau one way nasional, kita ikuti arahan,” ujarnya.

Kepadatan Juga Terjadi di Jalur Arteri

Selain di jalur tol, Rudi menyebut kepadatan juga terjadi di jalur arteri akibat tingginya pergerakan masyarakat antarwilayah.

Ia mengatakan, aktivitas silaturahmi antar kabupaten dan kota menjadi salah satu faktor utama meningkatnya volume kendaraan.

“Pergerakan masyarakat antar kabupaten-kota ini cukup padat,” kata Rudi.

Baca juga: Karakter Ombak Besar dan Arus Kuat Jadi Imbauan Polisi di Laut Sukabumi

Meski demikian, kepolisian memastikan berbagai langkah antisipasi telah disiapkan untuk menjaga kelancaran arus lalu lintas, baik di jalan tol maupun arteri.

Rudi menegaskan, rekayasa lalu lintas akan diterapkan secara fleksibel menyesuaikan kondisi kendaraan di lapangan guna mencegah kemacetan semakin parah.

"Arteri jalur selatan ini mendominasi. Kita lihat struktur jalannya kan itu berbelok-belok, turunan, tanjakan, dan sebagainya. Banyak pasar, banyak tempat-tempat yang memungkinkan terjadinya pemberhentian segala macam sehingga kepadatan ini akan terjadi," jelas Rudi.

Untuk mengantisipasi penumpukan kendaraan di jalur selatan, polisi menyiagakan pos terpadu yang menghubungkan wilayah Nagreg, Limbangan, hingga Gentong.

"Nagreg kami ada pos berkoordinasi dengan Limbangan, berkoordinasi dengan Gentong. Ini tiga ini satu talian ya untuk di jalur selatan. Kita menerapkan beberapa rekayasa. Rekayasa tadi one way sepenggal dilihat dengan kapasitas kendaraan," pungkasnya.

Hingga Senin sore, titik kepadatan di wilayah Sukabumi masih terkonsentrasi di area Parung Kuda dan Cibadak.

Petugas terus melakukan pengamanan guna memastikan arus tetap mengalir meski terjadi lonjakan volume kendaraan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Asal-usul Nasi Jamblang Khas Cirebon, Kenapa Dibungkus Daun Jati?
Asal-usul Nasi Jamblang Khas Cirebon, Kenapa Dibungkus Daun Jati?
Bandung
Pemkot Bandung Jamin Gaji 121 Pekerja Bandung Zoo Selama Masa Transisi, Sesuai UMK
Pemkot Bandung Jamin Gaji 121 Pekerja Bandung Zoo Selama Masa Transisi, Sesuai UMK
Bandung
BI Ungkap Uang Palsu di Bogor Berkualitas Rendah, Dicetak Pakai Printer Biasa
BI Ungkap Uang Palsu di Bogor Berkualitas Rendah, Dicetak Pakai Printer Biasa
Bandung
Di Tengah Konflik Perang Iran-Israel, 4 Warga Subang Berangkat Kerja ke Timur Tengah
Di Tengah Konflik Perang Iran-Israel, 4 Warga Subang Berangkat Kerja ke Timur Tengah
Bandung
KA Ciremai Tertahan di Jalur Maswati-Sasaksaat akibat Longsor, KAI Lakukan Penanganan
KA Ciremai Tertahan di Jalur Maswati-Sasaksaat akibat Longsor, KAI Lakukan Penanganan
Bandung
Kereta Api Ciremai Anjlok di Maswati-Sasaksaat, Warga: Tabrak Material Longsor
Kereta Api Ciremai Anjlok di Maswati-Sasaksaat, Warga: Tabrak Material Longsor
Bandung
Pelari Tewas di Lebarun Sentul Ultra, Bima Arya: PP ALTI Serukan Evaluasi Total Keselamatan
Pelari Tewas di Lebarun Sentul Ultra, Bima Arya: PP ALTI Serukan Evaluasi Total Keselamatan
Bandung
Hemat Energi, ASN Pemkab Bogor Gunakan Sepeda atau Transportasi Umum ke Kantor Tiap Rabu
Hemat Energi, ASN Pemkab Bogor Gunakan Sepeda atau Transportasi Umum ke Kantor Tiap Rabu
Bandung
Longsor Tutup Rel Maswati–Sasaksaat, KA Ciremai Alami Gangguan Perjalanan
Longsor Tutup Rel Maswati–Sasaksaat, KA Ciremai Alami Gangguan Perjalanan
Bandung
Daftar Sektor ASN di Karawang yang Tak WFH, Tetap Kerja di Kantor
Daftar Sektor ASN di Karawang yang Tak WFH, Tetap Kerja di Kantor
Bandung
Melayat ke Rumah Duka di Cimahi, Panglima TNI Jamiin Hak Prajurit dan Siapkan Kenaikan Pangkat
Melayat ke Rumah Duka di Cimahi, Panglima TNI Jamiin Hak Prajurit dan Siapkan Kenaikan Pangkat
Bandung
Farhan Optimistis Ibadah Haji Aman meski Ada Konflik di Timur Tengah
Farhan Optimistis Ibadah Haji Aman meski Ada Konflik di Timur Tengah
Bandung
WFH ASN Tasikmalaya Tiap Jumat Mulai Pekan Depan, Diprediksi Tingkatkan Wisata Domestik
WFH ASN Tasikmalaya Tiap Jumat Mulai Pekan Depan, Diprediksi Tingkatkan Wisata Domestik
Bandung
Tabrak Truk yang Diduga Parkir Sembarangan, Pengendara Motor di Bandung Tewas
Tabrak Truk yang Diduga Parkir Sembarangan, Pengendara Motor di Bandung Tewas
Bandung
Tumpukan Sampah di Jalur Kebun Teh Pangalengan, Camat: Oknum Pungut Iuran lalu Buang Sembarangan
Tumpukan Sampah di Jalur Kebun Teh Pangalengan, Camat: Oknum Pungut Iuran lalu Buang Sembarangan
Bandung
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau