Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Harga Emas Fluktuatif, Warga Surabaya Pilih Tunda Investasi Jelang Lebaran

Kompas.com, 14 Maret 2026, 19:00 WIB
Suci Rahayu,
Aprillia Ika

Tim Redaksi

SURABAYA, KOMPAS.com - Menjelang Hari Raya Idul Fitri, ritme keuangan masyarakat berubah. Jika pada awal tahun banyak orang berbondong-bondong membeli emas sebagai investasi, kini sebagian warga justru memanfaatkan emas yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhan Lebaran.

Situasi ini terlihat di Pegadaian Cabang Dinoyotangsi Surabaya, Jawa Timur. Pemimpin cabang, Deddy Dharmawan mengatakan minat masyarakat untuk membeli emas saat ini tidak setinggi beberapa bulan lalu.

“Kalau dibandingkan dengan Januari dan Februari, peminat investasi emas memang sedikit berkurang. Di awal tahun itu bisa dibilang sedang berada di puncaknya,” ujar Deddy kepada jurnalis termasuk KOMPAS.com.

Menurutnya, fluktuasi harga emas membuat sebagian masyarakat memilih menunggu sebelum memutuskan membeli.

Fenomena yang terjadi juga cukup unik. Ketika harga emas naik, banyak orang justru berbondong-bondong membeli karena takut harga akan terus meningkat. Namun saat harga turun, minat membeli tidak serta-merta meningkat.

“Masyarakat masih khawatir harga emasnya akan turun lagi. Jadi mereka memilih menunggu sampai benar-benar yakin,” imbuhnya.

Baca juga: Harga Emas Tak Meledak di Tengah Konflik Iran, Apa Penyebabnya?

Dana Dialihkan untuk Persiapan Lebaran, Perhiasan Emas Paling Banyak Digadaikan

Selain faktor harga, perubahan perilaku masyarakat juga dipengaruhi kebutuhan menjelang Lebaran. Banyak orang mengalihkan dana investasi untuk kebutuhan konsumtif keluarga.

Mulai dari membeli pakaian baru, menyiapkan makanan khas Lebaran, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya.

Kondisi tersebut membuat tren gadai di Pegadaian justru meningkat. Khususnya di Cabang Dinoyotangsi ini, aktivitas gadai naik sekitar 10 persen dibandingkan bulan biasa.

“Tren gadai semakin ramai. Salah satunya untuk membayar THR dan juga kebutuhan Lebaran,” kata Deddy Dharmawan.

Dimana untuk itu taksiran gadai emas 24 karat berada di kisaran Rp2,5 juta per gram, sementara emas perhiasan sekitar Rp 2,37 juta per gram.

Baca juga: BUMI Targetkan Tambang Tembaga dan Emas Wolfram Beroperasi Tahun Ini

Pegadaian Cabang Dinoyotangsi yang siap melayani nasabah jelang Hari Raya Idul Fitri, Jumat (13/3/2026) siang.KOMPAS.COM/SUCI RAHAYU Pegadaian Cabang Dinoyotangsi yang siap melayani nasabah jelang Hari Raya Idul Fitri, Jumat (13/3/2026) siang.

Barang yang paling sering digadaikan tetap emas, terutama perhiasan. Karena mudah dicairkan ketika masyarakat membutuhkan dana cepat.

Selain emas, beberapa nasabah juga menggadaikan mobil, barang elektronik hingga barang mewah tetapi jumlahnya tidak sebanyak emas.

“Masih didominasi perempuan, dari ibu rumah tangga, pekerja sampai sosialita,” sambungnya.

Baca juga: Tambang Emas Pani Mulai Produksi, Merdeka Gold Resources (EMAS) Bidik Laba 2026

Harga Emas Masih Bergerak Fluktuatif

Seperti diketahui saat ini harga emas di tabungan emas Pegadaian berada di kisaran Rp3 juta per gram. Dalam beberapa hari terakhir tercatat naik sekitar Rp15.000.

Halaman:
Baca tentang


Terkini Lainnya
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Ekbis
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Ekbis
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Ekbis
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau